Mendengarkan Suara Hujan

Satu

Rutinitas pagi di rumah itu selalu sama. Mereka duduk berhadapan di meja kayu besar, menyantap sarapan, mengobrol. Tidak ada yang berubah sejak pertama kali rumah itu ditempati. Memang, di dunia ini, beberapa hal bisa saja mempecundangi sang waktu.

Kegiatan rutin yang tidak pernah terasa membosankan. Malahan menjadi waktu paling dinantikan sepanjang hari. Bukan tentang kapan, di mana, atau apa yang dimakan. Untuk pria dan wanita itu yang terpenting adalah: dengan siapa rutinitas dijalankan.

Bagi pria itu, wanita di hadapannya adalah batu safir: cemerlang dan berharga. Apa pun akan rela dia lakukan agar batu safir itu tetap berkilau. Sedangkan bagi wanita itu, pria di hadapannya adalah malam: tenang dan mendamaikan. Dia rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk ditelan, hanya agar dirinya merasakan satu keutuhan yang kegelapan malam itu tawarkan.

Rumahnya tidak besar, tapi terasa nyaman. Warna coklat mendominasi hampir di semua sudut. Beberapa ornamen dan lukisan terpajang di dinding. Lantai kayu jati kotak-kotak itu tidak akan terasa dingin saat harus bersentuhan dengan kulit kaki. Semua seperti memberitahu pada orang yang berkunjung, bahwa segala sesuatu tentang rumah itu direncanakan dengan cermat oleh seseorang yang memiliki selera tinggi.

Pria itu adalah Pak Suryo. Nama panjangnya Ahmad Suryono. Orang-orang mengenalnya sebagai pemilik toko kain di beberapa tempat di Jakarta. Ada juga yang mengenalnya sebagai role model bagaimana seseorang seharusnya berkarya. Usahanya dimulai dari dulu masih muda, ketika dia menyewa sebuah kios di Pasar Tanah Abang dengan uang tabungan yang rencananya akan digunakan untuk melanjutkan sekolah.

Dengan modal pengalaman yang minim, dia merantau dari Solo ke Jakarta. Dan akhirnya, dialah yang menang. Toko itu berkembang pesat dan mampu membuka beberapa cabang. Berkat toko itulah ia dan istrinya dapat hidup layak. Bahkan membiayai sekolah adik-adiknya yang sekarang sudah sukses dan tinggal di luar negeri.

Wanita itu adalah Bu Suryo. Nama aslinya Asti Sumarni. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu ada di belakang setiap laki-laki sukses. Kegigihan dan kesabarannyalah yang membuat Ahmad muda tergila-gila. Tak pernah sedetik pun dia pernah meninggalkan Ahmad. Suka maupun duka.

“Nanti aku baliknya agak telat, Bu. Mau nunggu kiriman yang dari Solo dulu. Katanya mau datang agak malam,” ujar Ahmad, dilanjutkan dengan melahap sesendok nasi lengkap dengan lauknya. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memulai hari dengan sarapan pagi bersama orang yang dicintai.

“Iya, Pak. Nggak apa-apa,” Asti menimpali sambil menuang teh ke dalam cangkir.

“Kalau aku belum balik, Sri jangan disuruh pulang dulu, ya.”

Ada nada kekhawatiran dalam kalimat itu. Suasana di meja makan menjadi canggung. Nada yang selalu ingin Ahmad sembunyikan tapi tak bisa. Tahunan bersama orang yang kita sayangi, tentu membuat kita hafal semua yang mereka pikirkan. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Mereka berdua menyadari kecanggungan itu, tapi memilih diam.

Asti sejenak berhenti menyeruput teh, meletakkan cangkir di meja, lalu kemudian tersenyum sambil mengacungkan jempol tangan kanannya,“Sip, Pak. Beresss.”

Senyum itu. Senyum yang masih sama saat pertama kali mereka bertemu. Senyum yang membuat Ahmad rela melakukan apa pun agar Asti tetap tersenyum seperti itu.

Gudangan[1]-nya tambah lagi, Pak. Tadi yang bikin aku lho.”

Ahmad mengangguk. Diambilnya gudangan itu dan kemudian dicampur dengan nasi di piringnya. Tak berapa lama kemudian, tampak dia melanjutkan makan dengan lahap.

“Gimana? Enak?”

Ahmad berusaha menelan nasi di mulutnya.

“Joss… Aku kan sudah kenal banget sama masakanmu, Bu. Mbok kira bertahun-tahun kita bareng, aku nggak hafal apa?” tukas Ahmad, mantap.

“Sebenarnya, itu yang bikin kan Sri.”

Ruangan itu menjadi hening beberapa saat. Seperti ada seorang penghipnotis yang membuat mereka menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Lalu mata mereka saling bertemu, diikuti dengan satu ledakan tawa yang keras.

Tawa yang nikmat dan menyenangkan.

Tepat ketika tawa keduanya berhenti, Ahmad berkata,“Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah, ya.” Dia meraih kunci mobil yang tergeletak di meja, kemudian berdiri dari kursi.

“Iya, Pak,” Asti menjawab kalem.

Ahmad kemudian menghampiri istrinya dan mencium pipi kanannya. Ciuman sama seperti yang ia berikan kepadanya setiap pagi sebelum pergi ke toko.

“Pak?” Asti berkata tepat saat Ahmad membuka pintu.

“Ya?” Ia menoleh.

“Kaos kakinya Aldi kemarin sepertinya hilang satu. Aku udah cari-cari di cucian nggak ada. Nanti kalau Bapak balik, titip dibelikan satu ya. Jangan lupa!”

Ahmad menghela napas. Sambil memandangi istrinya yang masih duduk di meja makan itu.

“Sip, Bu. Beresss,” kata Ahmad. Sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Ahmad pun pergi.

***

Dua

Siang hari di dapur.

Asti dan Sri sedang memasak salah satu makanan kesukaan Ahmad: oseng kangkung. Selain itu, ada banyak masakan lain yang akan dia olah. Setelah Ahmad tidak mengijinkannya bekerja di toko lagi, Asti hanya di rumah saja mengerjakan pekerjaan rumah dengan ditemani Sri, asisten rumah tangga. Kadang-kadang, jika makanan yang dia bikin terlampau banyak, dia akan membagi-bagikan begitu saja kepada para tetangga.

“Ngiris tempenya tipis-tipis aja, Sri. Mas Ahmad nggak suka kalau ketebelan,” ujar Asti, memperingatkan.

“ Iya, Bu,” jawab Sri sambil mengangguk.

Sejenak mereka terdiam karena disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Asti memang setiap hari sengaja memasak agak berlebih, agar Sri nanti bisa membawa pulang sebagian. Jadi dia tidak perlu memasak atau membeli makanan lagi untuk keluarganya.

“Sri, keluarga gimana kabarnya? Sehat-sehat?” Asti bertanya sembari memotong sayur.

Sri menjawab sambil tetap menggoreng tempe yang barusan dia potong-potong, “Ya, seperti itu lah, Bu. Anak-anak sehat, Alhamdulillah. Ratih minggu depan sudah masuk SD. Kalau Sugeng, ya masih gitu-gitu aja. Nggak tahu pengennya apa.”

Sugeng dan Ratih adalah anak-anak Sri. Sugeng anak pertama, sedangkan Ratih kedua. Ratih memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kakaknya. Ratih sangat rajin dan pintar. Sedangkan Sugeng, sejak kecil tidak pernah mau sekolah. Seringkali dia terlihat mengamen atau membagikan brosur di perempatan lampu merah. Pernah satu kali Ahmad menawarkan pada Sugeng untuk menanggung semua biaya sekolahnya, tapi Sugeng tetap menolak. Entah karena alasan apa.

“Sugeng itu sebenernya baik lho, anaknya.”

“Iya, Bu. Lha wong kadang-kadang itu Sugeng kalau balik masih ngasih uang ke saya sama Ratih juga, kok.”

Lha yo, makanya. Ngurus anak itu memang harus sabar. Anak kan titipan Tuhan. Ya tugas kita mendidik, mengarahkan, merawat waktu masih kecil. Kalau sudah gede, ya biarkan dia sendiri yang milih mau jadi apa. Aku juga besok nggak mau terlalu maksa Aldi jadi apa. Biar dia bebas milih.”

Inggih.” Sri kemudian teringat sesuatu. “Oh iya, Bu. Kue-kue yang di kulkas itu, jadi mau dikasihkan tetangga saja?”

Asti heran pada dirinya sendiri. Kenapa dia akhir-akhir ini menjadi sangat pelupa. “Iya aku sampai lupa, nanti tak kasihin Robi yang rumah sebelah saja kalau begitu. Eh, Aldi belum mandi, kan? Tolong kamu mandiin dulu, ya. Ini biar aku aja yang ngelanjutin masaknya,” katanya lagi.

Inggih, Bu,” Sri meninggalkan Asti sendirian di dapur.

***

Jalanan terasa lengang. Hujan mengguyur sepanjang sore. Ahmad menyetir sendirian di dalam mobil sambil berpikir, merenung. Hujan selalu mampu memenuhi benak Ahmad dengan berbagai jenis pertanyaan.

Asti selalu bilang, dia sangat menyukai hujan. Dia suka berada di dalam mobil ketika hujan turun seperti sore ini. Dia bisa berdiam lama, memandangi kaca depan yang ditabraki titik-titik air, kemudian disapu bersih oleh wiper. Begitu berulang-ulang.

Asti selalu melarang Ahmad menyalakan radio ketika hujan turun. Dia ingin mendengarkan suara hujan: suara titik-titik air yang jatuh mengenai kaca, suara daun-daun pohon yang tertiup angin, suara genangan air yang terciprat oleh laju mobil, suara langkah orang-orang yang berlarian di trotoar mencari tempat teduh sambil menutupi kepala dengan tas yang mereka bawa.

Padahal, menurut Ahmad, hujan malah membuat banyak hal menjadi tidak berjalan seperti semestinya. Karena kehujanan, mobilnya yang masih bersih harus dia cuci lagi. Karena kehujanan, teras belakang rumahnya harus dipel karena terkadang banyak air yang terciprat ke sana. Karena kehujanan, banyak pegawainya yang terlambat datang.

Bagian apa yang menarik dari tetes-tetes air yang jauh dari langit ke tanah ini sehingga membuat Asti begitu tergila-gila?

Ahmad tidak mengerti.

Di pinggir jalan, ada sepasang pria dan wanita yang kelihatannya suami istri, sedang berteduh di halte bus. Tidak ada wajah sedih dari diri mereka. Mereka justru terlihat bahagia. Bercanda dan tertawa-tawa.

Lampu merah. Mobil Ahmad berada di barisan paling depan. Sepasang remaja tergesa berjalan menyeberang hujan dengan berbagi sebuah payung. Remaja wanita itu tertawa-tawa saat dia berlari terlalu cepat, dan membuat si lelaki basah terkena hujan.

Bagaimana bisa seseorang merasa bahagia hanya karena menjadi basah?

Dan lagi-lagi, Ahmad tak mengerti. Ahmad tak pernah mengerti.

Ahmad tahu, walaupun dia sudah lama bersama Asti, tetap saja ada misteri dari diri Asti yang tidak pernah dia mengerti. Baginya, Asti adalah sepaket manusia dengan segala keunikannya. Banyal hal tidak praktis dan kurang penting yang dia lakukan. Entah karena apa. Dan Ahmad, tidak bisa mencegahnya.

Karena dia tahu, semua itu membuat Asti bahagia. Tapi Ahmad tidak.

Sejenak dia berpikir. Kenapa masih ada yang kurang? Kata orang, cara termudah untuk hidup bahagia adalah dengan mensyukuri dulu apa yang dimiliki. Tidak perlu terlalu ambisius mengejar hal-hal yang belum tercapai.

Lalu, bagian mana yang salah? Ahmad sudah bersyukur. Dia punya Asti. Apa pun yang dimilikinya tidak ada yang lebih berharga dibandingkan Asti. Bahkan seingatnya, dia tidak pernah menyakiti Asti satu kali pun. Tidak pernah. Dia selalu mendengarkan apa yang Asti katakan.

Kecuali, oh, mungkin sekali itu.

Lampu bohlam di kepalanya tiba-tiba menyala. Wajahnya berubah menjadi sedih. Perasaan bersalah itu kembali lagi.

Sekarang dia tahu, kenapa dia belum merasa bahagia seutuhnya.

***

Tiga

Keduanya membereskan meja makan. Sri sudah pulang.

Hanya bunyi piring-piring dan gelas-gelas diangkat yang ada di ruangan itu. Keduanya diam, berbagi keheningan. Asti kemudian menyalakan keran wastafel. Bunyi aliran itu membuat ruangan sedikit lebih ramai. Asti siap memulai pembicaraan.

“Toko gimana, Pak?”

“Biasa saja. Tadi Tejo dapet pesenan lagi buat bikin seragam. Lumayan,” kata Ahmad sembari menumpuk piring-piring kotor dan mengangkatnya ke wastafel. “Kalau kamu di rumah, Buk, ngapain?”

“Ya ngapain lagi?” Timpalnya. Terdengar sedikir ketus. “Masak sayur kesukaanmu itu tadi toh, ya.”

Ahmad tertawa perlahan. Istrinya memang punya selera humor yang tidak biasa.

“Kadang-kadang, aku bosen juga di rumah terus,” Asti melanjutkan, setengah menggumam.

“Ya mau bagaimana lagi. Ibu kan nggak boleh pergi-pergi ke luar sendirian,” dengan sabar Ahmad memberi pengertian. Ia tidak pernah lelah untuk semua ini.

“Iya. Tapi aku tuh masih nggak ngerti lho, cuma keluar rumah saja nggak dibolehin sama dokter bawel itu.”

“Kamu kan masih sakit, Bu….” Ahmad tiba-tiba berhenti. Dia termenung. Dalam pikirannya, terputar lagi semua yang terjadi hari itu. Hari yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hari yang menjadi penyebab semua ini. Hari yang ada karena kesalahannya.

Dia tahu, tidak ada gunanya menyesali kesalahan di masa lalu. Sekarang, dia hanya ingin melakukan satu hal: membahagiakan Asti. Ahmad melihat wajah istrinya dengan seksama. Dia punya satu ide.

“Bu,” kata Ahmad dengan suara pelan. “Besok ke toko terus mampir ke pasar, yuk!”

Asti diam saja. Tetap mencuci piring, seolah tidak mendengarkan ajakan Ahmad barusan. Ahmad memandangi wajah Asti, berusaha membaca ekspresi wajahnya apakah berarti “setuju” atau “tidak”.

Asti tetap diam.

“Bagaimana?” Ahmad bertanya lagi, meminta kepastian.

“Sudah, Pak. Buruan tidur. Kalau telat bangun, ke pasarnya bisa kesiangan,” jawabnya sambil tersenyum-senyum.

***

Ruangan itu penuh sesak dengan manusia. Beberapa terlihat sedang berbicara dengan para pegawai, meminta informasi tentang barang-barang yang ada di sana. Beberapa lagi mengantri di kasir. Beberapa yang lainnya lagi hanya duduk-duduk, entah sedang apa.

Asti melangkah memasuki ruangan itu. Ia mengenali tempat itu dengan baik. Ruangan yang saat memasukinya, rasanya seperti disedot ke dalam mesin waktu. Mengembalikan dia ke dalam ribuan nostalgia yang telah terlewat.

“Mbak Asti kan ini?” Seorang pria menghampirinya. Wajahnya penuh semangat, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Dia tidak tampak lelah atau pun berkeringat, padahal cuaca sedang begitu terik. “Iya bener, Mbak Asti. Apa kabar, Mbak. Sehat-sehat, tho? Udah lama banget nggak ketemu.”

“Iya, Mas Tejo.” Asti menyalami tangannya sambil tersenyum ramah kepada pria itu. Sorot mata pria itu begitu teduh untuk siapa pun yang menatapnya. “Sudah lama banget, ya. Gimana kabarnya?”

“Baik. Baik banget. Ini masih jaga toko di sini. Semenjak pegawai-pegawai yang muda-muda masuk, kan saya di sini jadi senior, Mbak. Hahaha.”

“Kangen banget aku sama Mas Tejo. Kangen sama kita yang dulu. Bareng-bareng sama Sardi juga.”

“Iya. Waktu Sardi udah nggak ada, aku sedih banget, Mbak.”

Tidak semua kenangan terasa manis. Beberapa bahkan sangat getir. Asti juga dapat merasakan perubahan itu di dalam hatinya. Dulu, Sardi adalah yang termuda, juga yang paling dekat dengan Asti di antara mereka. Dia sering membantu Asti ketika di toko. Rekan kerja yang saling melengkapi. Sampai kemudian, Sardi meninggal karena penyakit kanker darah yang sudah dideritanya sejak muda.

“Iya, Mas. Aku juga,” kata Asti, memaksakan diri untuk tersenyum lagi. Begitu susahnya senyum yang dipaksakan. “Aku masuk dulu ya, Mas. Mau lihat-lihat ke dalam.”

Tejo mengangguk.

***

Di dalam gudang penyimpanan itu, semua kenangan seperti menyerbu Asti dengan tiba-tiba. Bak air bah yang datang dengan cepat dari bendungan yang ambruk. Saat dia kemalaman pulang lalu menginap di dalam toko, saat tangannya terjepit pintu gudang, saat dia dan Sardi bertengkar karena rebutan makan siang, semua kembali tergambar jelas dalam kepalanya. Seolah-olah semua itu baru saja terjadi kemarin.

“Sudah hilang kangennya?” tanya Ahmad dari belakang, seraya menyentuh pundak Asti. Mengembalikan Asti ke detik ini. Masa ini.

“Udah lama aku nggak ke sini. Banyak yang sudah berubah, ya?” Asti mengernyitkan dahinya sambil memandangi keadaan di dalam gudang itu. Mencoba membandingkan dengan kenangan yang tersimpan dalam benaknya.

“Benar. Karena makin banyak pelanggan, makanya toko juga harus diubah biar mampu melayani mereka semua.”

“Beberapa hal, sepertinya lebih baik dibiarkan kalau tetap sama ya, Pak?”’

“Semua hal harus berubah, Buk. Itulah yang bikin kenangan selalu terasa indah.”

“Iya, Pak.”

Asti kembali menelusuri ruangan itu. Mengamati seluk beluknya sambil memunguti remah-remah ingatan yang masih tersisa. Remah-remah yang mulai hilang karena tersapu pembaruan.

“Sebaiknya kita segera ke pasar, Buk. Keburu sore,” Ahmad meraih tangan Asti.

***

“Pak.” Suara Asti terdengar lirih di dalam mobil itu. Ahmad yang mendengarnya langsung refleks menoleh.

“Hmm..”

“Hujan, Pak…”

Dua kata yang Asti ucapkan seperti perintah bagi Ahmad. Ia langsung mematikan radio dan menyalakan wiper. Beberapa detik kemudian, titik-titik air mulai turun membasahi kaca depan mereka. Ia tidak akan pernah lupa kebiasaan Asti saat di mobil ketika hari hujan. Akhir-akhir ini cuaca memang tidak bisa diprediksi. Padahal beberapa jam yang lalu panas terik, kenapa sekarang tiba-tiba hujan?

“Kamu masih ingat waktu kita pergi pertama kali pakai mobil ini?” Ahmad bertanya sambil terkekeh.

“Yang bareng-bareng Tejo dan  Sardi ke Cipanas itu? Yang kita waktu pulangnya kemaleman di jalan sampai ketiduran di mobil itu, ya, Pak?”

Ahmad tergelak-gelak sampai hampir menitikkan air mata. “Iya, masih ingat semuanya, ya?”

“Habisnya mobilmu ini, sih, Pak. Bocor nggak tahu tempat.”

“Wah gini-gini ini mobil kesayanganku, lho. Nggak bakalan tak jual sampai kapan pun.”

“Iya-iya. Yang punya mobil kesayangan.” Asti mendecakkan lidahnya.

“Kamu cemburu sama mobil, Buk?” Ahmad bertanya, separuh menggoda.

“Lah, memangnya cemburu harus sama manusia? Sama mobil kan boleh joga, tho?” balas Asti, dilanjutkan dengan suara cekikian kecil.

Sudah lama ia tidak melihat tawa Asti yang seperti itu. Tawa yang sangat lepas. Tawa yang terlihat tidak dibuat-buat untuk menjadi topeng atas perasaan yang sebenarnya.

***

Empat

Ia terbangun, sementara istrinya masih terlelap di sampingnya. Perlahan, dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana, di depan kaca wastafel, setelah selesai mencuci muka, dia memandangi refleksi wajahnya sendiri.

Wajah itu tidak lagi muda. Dia tahu itu. Wajah itu tidak lagi bahagia. Dia juga tahu itu. Ia menoleh  ke belakang. Wanita itu. Wanita yang menjadi satu-satunya definisi tentang kebahagiaan selama ini.

Dia masih ingat bagaimana dia dan wanita itu pertama kali bertemu. Dia masih sangat ingat. Tidak ada kenangan lain yang tersimpan lebih jelas di kepalanya dibanding pertemuan itu. Pikirannya mengarus. Ia meniti kembali jembatan waktu menuju ke sana.

Beberapa hari setelah Ahmad membuka toko pertamanya. Keadaan toko Ahmad masih begitu berantakan. Banyak gulungan kain yang masih disandarkan di dinding begitu saja. Belum ada rak penyimpanan.

Ketika Ahmad masih membereskan meja kasir, datang sesosok perempuan muda memasuki tokonya. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya datar. Tidak jelas apakah saat itu dia sedang senang, sedih, atau marah. Dia nampak… netral.

Perempuan muda itu masuk dan memandangi kain Ahmad satu persatu. Sesekali menyentuh beberapa untuk merasakan teksturnya.

Menyadari kehadiran wanita itu, Ahmad menyapa dengan sopan.

“Selamat pagi, Mbak. Maaf masih berantakan ini. Monggo mau beli apa?”

Wanita itu tidak bergeming. Dia masih memandangi sekitar tanpa memberi sedikit pun perhatian pada Ahmad.

“Saya ingin menjahit kemeja,” kata perempuan itu.

Ahmad mengangguk mendengar permintaan perempuan itu barusan. Perempuan itu lalu menunjuk segulung kain yang ada di hadapannya.

“Abu-abu ini, tolong dua meter.”

Dengan sigap, Ahmad segera mengambil gunting dan meteran di meja kasir. Mata perempuan itu mengekor tanpa jeda pada langkah Ahmad. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tapi dapat dirasakan oleh perempuan itu.

Ahmad memotong kain abu-abu itu dengan hati-hati. Belum pernah dia bertemu pelanggan seaneh wanita ini. Ada sedikit rasa canggung bercampur penasaran yang berkecamuk dalam otaknya.

“Kita pernah ketemu.” Perempuan itu berkata pelan, persis seperti orang yang sedang berbisik.

“Maaf? Sepertinya belum pernah.” Ahmad tergelak.

“Pernah. Kamu mungkin lupa.”

“Di mana ya?”

“Maaf, saya juga lupa. Ini, Mas, uangnya. Terima kasih.” Perempuan itu mengambil kain yang dia beli, lalu cepat pergi meninggalkan Toko Ahmad. Uang yang ia berikan terlalu banyak. Ia tidak sempat menghitungnya.

Ahmad bertanya dalam hati, kira-kira siapa nama wanita itu.

***

Beberapa hari kemudian, perempuan muda itu datang lagi. Tetap dengan ekspresi wajah yang sama. Tetap memandangi toko Ahmad dengan seksama. Tapi kali ini, bukan hanya kain-kain yang Ahmad jual. Hampir semua yang ada di toko itu, tidak ada yang luput dari tatapan perempuan muda itu.

“Oh… Mbak yang dulu. Kemarin uangnya kebanyakan, lho. Monggo kalau mau beli lagi?” Sapa Ahmad.

“Kamu butuh pegawai, Mas. Kayaknya kamu nggak bisa menata toko dengan baik.”

Perempuan ini memang susah ditebak. Ahmad sampai tidak habis pikir.

“Ah, iya ini. Tapi kalau sekarang kayaknya belum butuh. Hahaha,” Ahmad mencoba santai.

“Saya mau.” Wanita itu menyahut cepat. Kali ini sambil tersenyum. Senyum yang belum pernah Ahmad lihat sepanjang hidupnya. Senyum yang menggandakan setiap detakan jantung Ahmad seketika.

“Tapi saya belum butuh pegawai, Mbak,” Ahmad coba menjelaskan alasannya sekali lagi.

“Nggak apa-apa. Nanti saya rapiin semua.”

Ahmad melihat ke sekeliling tokonya. Mungkin benar. Mungkin dia butuh pegawai yang bisa merapikan dan mengubah tampilan toko ini menjadi lebih menarik.

“Maaf, nama Mbak?” tanya Ahmad. Ia hampir saja lupa.

“Asti.”

Nama itu. Akhirnya dia tahu nama wanita itu. Nama yang mulai saat itu menjadi satu-satunya jawaban jika ditanya apa definisi kebahagiaan untuk dirinya.

Bagi Ahmad, Asti adalah pelengkap dirinya. Sesuatu yang Ahmad tidak miliki, ada dalam diri Asti. Dan mereka, rela untuk berbagi.

Ahmad yang setiap hari serius mengurusi toko, selalu berhitung dalam pikirannya, seolah terlengkapi dengan kehadiran Asti yang ceria, spontan, dan susah ditebak.

Asti mengubah toko itu dari yang semula seperti sebuah foto abu-abu membosankan, menjadi tempat penuh warna yang ceria. Semua benda yang ada di situ tidak ada yang tidak diketahui Asti. Sementara Ahmad, tetap tekun di belakang mesin kasir mengurus berbagai macam hitung-hitungan.

Beberapa tahun kemudian, ratusan kupu-kupu menggelitik perut Ahmad. Dia jatuh cinta. Ahmad lalu melamar Asti. Tidak ada lagi tembok penghalang yang memisahkan mereka. Rekan kerja yang kompak itu, tenyata juga bisa menjadi rekan hidup. Banyak mimpi yang saling mereka bagi: rumah yang tenang di pinggiran kota, toko yang bertambah laris, juga anak-anak yang lucu.

Mimpi-mimpi itu. Ahmad kembali menatap wajahnya di cermin. Ahmad masih mengingat semua mimpi-mimpi itu.

Dia keluar dari lamunan dan kembali mendapati istrinya masih terlelap di ranjang. Dia kembali bersedih.

***

Lima

Ketenangan di rumah itu terganggu. Namun, Ahmad dan Asti menyukai gangguan itu. Beberapa sanak saudara dari Singapura datang untuk mampir. Mereka adalah Said dan Hussein, beserta keluarga. Said dan Hussein adalah adik kandung Ahmad. Sejak masih muda, keduanya sudah merantau ke Singapura. Hasil usaha Ahmad yang meyakinkan orang tuanya bahwa kelak ia bersedia untuk bekerja lebih keras demi membantu biaya pendidikan kedua adiknya itu di luar negeri.

Ketiga saudara itu duduk di teras belakang. Memandangi tanaman sambil mengobrol panjang lebar. Sudah lama mereka tidak bertemu, sehingga pertemuan seperti ini menjadi terasa begitu mewah.

“Maaf lho, Mas. Ngabarinnya mendadak. Habis dari kantor nyuruhnya juga begitu, sih.” Said memulai pembicaraan. “Aku telepon Hussein, ternyata dia juga lagi kosong. Ya sudah, aku ajak saja sekalian ke sini.”

“Iya. Mas Said kemarin teleponnya mendadak banget.” Hussein yang duduk di posisi paling ujung ikut berkomentar.

“Nggak apa-apa. Kalian nanti pokoknya nginep sini lho, ya!” kata Ahmad kalem, berusaha membujuk kedua adiknya itu.

Said menoleh kepada Hussein sebentar, lalu kembali menatap kakaknya, “Kayaknya nggak bisa deh, Mas. Malam ini juga harus langsung ke Bandung. Ya nanti cari-cari penginapan apa hotel gitu di sana.”

“Wah, padahal aku masih kangen sama kalian dan anak-anak, lho…”

Suasana menjadi beku. Ada intonasi kekecewaan dalam perkataan Ahmad barusan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa tiap kali mereka berkunjung, mereka akan menginap satu atau dua malam di sana. Tidak pernah tidak.

Menyadari kebekuan yang tiba-tiba muncul, Hussein berusaha mencairkan suasana, “Mas Ahmad sama Mbak Asti sehat, kan? Toko masih ramai?”

“Iya, sehat. Kadang-kadang sedikit pegel aja kalau balik dari toko. Haha. Alhamdulillah, masih ramai.”

Mbok udah, Mas. Nyari siapa gitu buat ngurusin tokonya. Mas Ahmad sama Mbak Asti di rumah aja santai.”

Ahmad tersenyum kecil. Sesuatu yang baginya sangat berharga telah diusik.

“Toko itu… sudah seperti anakku sendiri, Hussein. Aku urus dari kecil sampai sekarang. Ya berkat toko itu, kita semua sekarang bisa seperti ini. Aku belum bisa kalau nyuruh orang buat ngurus. Lagian, kalau aku nggak kerja, biasanya langsung masuk angin.”

Ketiga lelaki itu tergelak hampir bersamaan. Hanyut dalam suasana kekeluargaan yang sudah sangat jarang mereka rasakan.

***

Sementara itu, suasana di ruang makan juga tidak kalah ramai. Selain Asti, di sana ada Herra dan Linda, istri Said dan Hussein. Ada juga Wulan dan Irma, anak Said yang sudah remaja, serta Rea dan Lucy, anak Hussein yang masih balita.

“Rumahku jadi ramai ini gara-gara kalian,” kata Asti sambil tertawa lebar, diiringi dengan back sound Wulan dan Irma yang sedang mengobrol, serta Rea dan Lucy yang bertengkar karena berebut sebatang wortel.

“Iya, nih. Maaf lho, Mbak,” tukas Herra cepat.

“Aku malah seneng, kok. Aldi jadi ada temen.”

Herra dan Linda terdiam. Linda kemudian melerai Rea dan Lucy yang sudah mulai melakukan kontak fisik. Saling berteriak satu sama lain saja sepertinya belum cukup untuk menentukan siapa yang pantas memiliki wortel tersebut.

Asti kemudian mendekati Lucy yang sedang duduk di lantai, memukul-mukulkan wortel hasil rampasannya ke tembok. “Lucy katanya sekarang pinter nyanyi, ya? Mana? Tante Asti pengen lihat.”

Mendengar tantangan itu, Lucy langsung bangkit berdiri.

Are you sleeping?/ Are you sleeping?/ Brother John, Brother John/ Morning bells are ringing/ Morning bells are ringing/ Ding dong ding, ding dong ding.

Terdengar ia bernyanyi dengan menggunakan wortelnya sebagai microphone. Lengkap dengan koreografi. Semua yang ada di sana tertawa.

“Anakmu ini lho, Lin. Mirip banget sama kamu pede-nya,” Asti berkata sambil menahan sakit perut karena tertawa.

“Iya… ya, Mbak. Kenapa yang nurun ke dia malah yang malu-maluin gini, ya?” Linda menggaruk-garuk kepalanya sendiri.

Ketiganya tertawa lagi. Di tengah tawa mereka itu, Ahmad, Said dan Hussein memasuki ruang makan.

“Yuk, siap-siap ke Bandung,” seru Said.

Asti menoleh ke arah Said, “Harusnya, tuh, kalian nginep di sini semalam, gitu.”

“Iya, nih. Nggak tahu apa kita masih kangen berat?” Ahmad menambahkan. Mendukung permintaan istrinya.

“Iya, Mas. Lusa kita mampir ke sini lagi sebelum balik ke Singapura. Lain kali deh, nginep yang lama,” ujar Herra.

Hussein celingak-celinguk memandangi sekitar ruang makan, “Loh? Rea mana, Ma?”

“Sudah masuk mobil duluan, Pa. Ngambek tadi rebutan wortel sama Lucy,” jawab Linda.

Malam di rumah itu kemudian ditutup dengan rombongan berpamitan. Momen spesial itu akhirnya harus berakhir juga. Mobil rombongan sudah tak terlihat, derunya pun juga sudah tak terdengar. Rumah itu kembali sepi.

***

Di dalam mobil, hampir semua orang sudah tertidur. Kecuali Hussein yang menyetir, dan Said yang duduk menemaninya ngobrol sepanjang perjalanan.

“Ini Rea dapat boneka dari mana?” tanya Said ketika menyadari keponakannya dari tadi tidur dengan memeluk sebuah boneka beruang yang sepertinya belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Dari rumah Mas Ahmad kayaknya. Aku malah nggak tahu. Besok aja deh aku telepon. Atau kalau nggak, lusa kita balikin. Udah malem banget ini, nggak enak nelepon malem-malem,” Hussein menyarankan.

Said, yang menyetujui usulan adiknya, terus memacu mobil di jalan.

***

Rumah keluarga Suryo kembali bersatu dengan keheningan malam. Ahmad sedang membereskan sisa-sisa cangkir kopi di meja teras belakang, ketika tiba-tiba Asti berteriak dari kamar tengah, “Pakkk…!!!”

Cepat Ahmad menghambur ke dalam. Mendapati istrinya sedang terduduk di lantai kamar sambil menangis keras-keras.

“Aldi hilang, Pakkk!!! Aldi hilang!!!”

***

Enam

Malam itu, Asti tertidur kelelahan. Lelah karena menangis, meronta dan menjerit semalaman. Di sampingnya duduk Ahmad yang setia menjaga. Kalau saja dapat, ia ingin menggantikan istrinya untuk merasakan semua rasa sakit itu. Tak ingin dia menderita sepanjang hidupnya.

Rasa bersalah itu tidak pernah berhenti menghantui Ahmad seperti arwah penasaran. Dia ingin menangis, tapi tak bisa. Sudah sering tangis itu keluar, sampai ia tidak menemukan cara lagi untuk merasakan sakitnya.

Sudah berjam-jam ia mencari di sekitar rumah, tapi boneka beruang yang sering Asti sebut dengan nama Aldi itu tak ia temukan. Andai saja dia bisa mengganti boneka itu dengan boneka lain. Andai saja dia bisa tinggal di dalam dunia yang Asti ciptakan, ia akan menemani, menjaga dan hidup bersamanya.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika hari itu Ahmad mendengarkan nasehat Asti untuk lebih berhati-hati, dan tidak memaksakan diri untuk mengendarai mobilnya dengan lebih kencang agar segera sampai di rumah, lalu memberikan kejutan di hari jadi yang telah dia persiapkan bersama teman-temannya sejak jauh-jauh hari.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika hari itu Ahmad tidak kehilangan kendali atas kemudi, sehingga mobilnya tidak perlu selip, menerobos keluar jalan dan menabrak pohon dan trotoar.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika benturan yang disebabkan oleh kecelakaan hari itu tidak melukai Asti yang sedang hamil lima bulan, dan membuatnya keguguran.

Semenjak hari itu terjadi, Asti selalu murung dan suka mengurung diri di kamar. Entah apa yang dia pikirkan, Ahmad tidak tahu. Wajahnya tidak nampak sedih, apalagi senang. Wajahnya… kosong. Asti seperti sedang tidak merasakan apa pun.

Semenjak hari itu, Ahmad tidak pernah sekalipun melewatkan hari tanpa menyalahkan dirinya sendiri. Dia tahu, semua yang sudah terjadi tidak akan dapat dia ulangi, betapa pun kerasnya ia mencoba. Dia ingin dapat merelakan semuanya.

Sampai kemudian, ketika dia sadar, semua sudah terlambat.

Sampai kemudian, tiba-tiba Asti kembali seperti semula. Dia kembali tertawa, kembali ceria, kembali bahagia. Kembali menjadi pelengkap Ahmad yang serius, dengan semua hal remeh yang akan mereka bicarakan tiada habisnya.

Sampai kemudian, Ahmad menyadari ada yang berbeda dengan Asti yang baru.

Sampai kemudian, Ahmad menemukan boneka beruang yang Asti namai Aldi itu.

Ahmad sudah mencoba mengobati Asti ke berbagai dokter, namun hasil yang memuaskan belum dia dapat. Dia tidak mau menyerah. Dia tidak mau kalah.

Ahmad tahu, cintanya pada Asti sempurna. Apa pun yang terjadi, tidak akan mengubah sedikit pun perasaannya. Dia tak pernah peduli dengan perkataan orang-orang di sekitar. Baginya, Asti adalah segalanya. Cintanya. Pelengkapnya. Definisi kebahagiaannya. Batu safirnya.

***

[1] Makanan dari Jawa Tengah sejenis sayur urap.

Advertisements

Titik Biru Pucat

PaleBlueDot

14 Februari 1990. Carl Sagan, salah seorang ilmuwan NASA, meminta agar wahana Voyager 1 memutar kameranya untuk memotret bumi terakhir kali sebelum meninggalkan tata surya. Dalam foto itu, bumi berukuran sangat kecil, bahkan kurang dari satu piksel. Foto itu kemudian dikenal sebagai Pale Blue Dot. Titik Biru Pucat. Sagan kemudian menulis renungan tentang foto itu dalam bukunya Pale Blue Dot: A Visison of the Human Future in Space.

***

Dari jarak sejauh ini, Bumi tampak tidak penting. Namun bagi kita, lain lagi ceritanya. Renungkan lagi titik itu. Itulah tempatnya. Itulah rumah. Itulah kita. Di atasnya, semua orang yang kamu cintai, semua orang yang kamu kenal, semua orang yang pernah kamu ketahui, semua manusia yang pernah ada, menghabiskan hidup mereka. Segenap kebahagiaan dan penderitaan kita, ribuan agama, pemikiran, dan doktrin ekonomi yang merasa benar, setiap pemburu dan pengumpul, setiap pahlawan dan pengecut, setiap perintis dan pemusnah peradaban, setiap raja dan petani, setiap pasangan muda yang jatuh cinta, setiap ibu, ayah, dan anak yang bercita-cita tinggi, penemu dan petualang, setiap pengajar kebaikan, setiap politisi rakus, setiap “bintang”, setiap “pemimpin besar”, setiap orang suci dan pendosa sepanjang sejarah umat manusia, hidup di sana, di atas setitik debu yang melayang dalam seberkas sinar.

Bumi adalah panggung yang amat kecil di tengah luasnya jagat raya. Renungkanlah sungai darah yang ditumpahkan para jenderal dan penguasa sehingga dalam keagungan dan kemenangan mereka dapat menjadi penguasa yang fana di sepotong kecil titik itu. Renungkanlah kekejaman tanpa akhir yang dilakukan orang-orang di satu sudut titik ini terhadap orang-orang tak dikenal di sudut titik yang lain, betapa sering mereka salah paham, betapa kejam mereka untuk membunuh satu sama lain, betapa dalam kebencian mereka. Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri.

Bumi adalah satu-satunya dunia yang sejauh ini diketahui memiliki kehidupan. Tidak ada tempat lain, setidaknya untuk sementara, yang bisa menjadi penyelamat spesies kita. Kunjungi? Ya. Menetap? Belum saatnya. Suka atau tidak, untuk saat ini Bumi adalah satu-satunya tempat kita hidup. Sering dikatakan bahwa astronomi adalah suatu hal yang merendahkan hati dan membangun kepribadian. Mungkin tak ada yang dapat menunjukkan laknatnya kesombongan manusia secara lebih baik selain citra dunia kita yang mungil ini. Bagiku, gambar ini mempertegas tanggung jawab kita untuk bertindak lebih baik terhadap satu sama lain, dan menjaga serta merawat sang titik biru pucat, satu-satunya rumah yang kita kenali bersama.

***

Well, tidak hanya Seni. Terkadang Sains juga bisa begitu indah, bukan?

Dietje

Kamu hanya hidup sekali. Nikmatilah! Hidup ini indah.

Seorang sahabat menasihati. Barangkali dia benar. Hidup memang indah. Ada banyak hal di depan mata yang menunggu untuk kita nikmati. Ada banyak tempat yang harus kita kunjungi. Ada banyak pengalaman yang harus kita rasakan.

Tapi, sebelum aku menyepakati argumen dia, biarkan aku berkelakar sebentar.

Aku takut mati. Ada banyak hal yang menyebabkan manusia mati setiap harinya. Penyakit, kecelakaan, usia yang sudah tua, pembunuhan. Penjelasan yang selalu dapat kita terima dengan pertanyaan ‘Kenapa dia meninggal?’ kapanpun pertanyaan itu ditanyakan adalah, ‘Karena memang sudah saatnya.’

Namun, manusia adalah makhluk yang destruktif. Seringkali, merekalah yang menjadi penyebab kematian kaum mereka sendiri. Yang membuat kita merasa ‘Ini perbuatan orang, belum saatnya dia mati’. Lagipula, hidup juga tidak serupa kisah dalam film detektif. Di mana kejahatan serumit apapun, di akhir nanti pasti kebenaran akan menang, dan pelakunya tertangkap.

Kita setiap hari barangkali dapat mendengar berita tentang pembunuhan di tivi. Mendengarkannya sembari santap siang, lalu kemudian kembali bekerja ketika jam istirahat usai. Seolah berita itu hanya sebuah nyanyian monoton di iPod yang sudah lama tidak di-update playlist-nya. Berita-berita itu telah kehilangan kesannya.

Penjelasannya mudah. Kita terbiasa untuk apatis terhadap kematian. Selama kematian itu menimpa orang-orang yang jauh dari kita, atau minimal tidak kita kenal, maka begitulah cara dunia bekerja. Kematian selalu kita letakkan di belakang kepala, selalu kita hindarkan dari antrian ‘apa yang selanjutnya harus saya pikirkan.’ Satu hal yang bagaimanapun cara kita untuk hindari, tapi akan selalu setia di ujung sana, menunggu gilirannya untuk keluar dan menagih perhatian.

Kenyataan tidak mengijinkan kita untuk duduk manis di kursi, menjadi penonton, menunggu takdir memberikan jawaban siapa pelakunya. Kejahatan di dunia nyata, seringkali tidak pernah terungkap. Menyisakan satu pertanyaan yang berkepanjangan. Pertanyaan yang pada fase selanjutnya akan bercampur dengan rasa ngeri.

Lalu, ketika nalar kita susah untuk menemukan jawaban sebenarnya, kita mulai mengarang. Meyakini bahwa ada konspirasi besar, ada kelompok di balik layar yang punya kekuasaan, mengatur semua yang terjadi. Kita mulai menyalahkan dengan prasangka. Tanpa bukti. Kita saling mencurigai.

Ketika kita mulai masuk ke tahap itu, masihkah hidup terasa indah untukmu?

1986. Seorang peragawati terkenal meninggal karena ditembak berkali-kali. Namanya Dietje Budimulyono. Mayatnya ditemukan di dalam mobil di sebuah kebun karet di Bilangan Kalibata. Pembunuhan itu menjadi semakin terkenal. Polisi lalu menangkap seorang yang diketahui dekat dengan korban –hanya dikenal dengan panggilan Pakdhe- dan diganjar hukuman 20 tahun penjara.

Menurut desas-desus, ada hal lain yang disembunyikan dalam kasus ini. Peragawati itu dikabarkan dekat dengan menantu orang nomor satu di negeri ini kala itu. Dan sebagaimana drama perselingkuhan pada umumnya, keluarga besar akhirnya sangat marah ketika mengetahui. Mereka memutuskan untuk memberi sedikit pelajaran kepada sang Peragawati.

Namun siapa sangka, kisah percintaan bisa menjadi begitu berbahaya. Apalagi jika keluarga yang turut engkau campuri, memiliki kekuasaan yang begitu besar.

Hingga kemudian, hari itu tiba. Sang Peragawati ditemukan tak bernyawa di kebun karet, dan Pakdhe –entah sebenarnya bersalah atau tidak- ditangkap.

Kau lihat? Di dunia ini, ada orang yang meninggal di tangan orang lain. Tanpa kita ketahui apa sebabnya. Tanpa kita tahu siapa pelakunya.

Masihkah kau berpikir dunia ini indah?

Barangkali semua akan lebih baik, jika pelaku sebenarnya terungkap, dan tidak ada orang yang dihukum untuk kejahatan yang tidak pernah mereka perbuat. Barangkali semua akan lebih baik, jika orang yang kita percaya untuk menjadi pemimpin, menjadi yang berada di barisan terdepan untuk mencari kebenaran, dan bukannya menggunakan kekuasaannya untuk menghilangkan nyawa secara misterius. Barangkali semua akan lebih baik, jika aku tetap sepertimu. Tetap tidak tahu.

Sekali lagi, aku takut mati. Aku takut terlupa. Aku takut bertahun-tahun kemudian berharap akan adanya seseorang yang membuat catatan tentang diriku, hanya agar diriku sejenak kembali diingat.

Hidup tidak indah.

Bagiku, hidup yang indah adalah hidup yang menutup mata. Karena semakin engkau pelupa dan tidak tahu, maka semakin nyenyak tidurmu malam nanti.

Maafkan, aku.

Kalau Aku Adalah Seekor Laba-Laba, Aku Akan …

… memilih untuk tinggal di kamarmu. Sebenarnya ada banyak tempat lain yang lebih indah dan lebih luas. Tapi entahlah, aku ingin tinggal di kamarmu saja. Aku selalu ingin berada di dekatmu.

… naik ke atas lemari, dan melihat semua yang kamu lakukan di kamar sepanjang hari. Belajar, tidur, atau pun membaca novel. Aku ingin melihat semua yang kamu lakukan. Kecuali saat ganti baju. Tenang saja, aku akan selalu sembunyi di balik rak buku kalau kamu sedang ganti baju.

… duduk di jendela, setiap kali kamu sedang pergi. Menunggumu untuk pulang. Entah kamu pergi sekolah, pergi main bersama sahabatmu, atau juga pergi bersama pria yang kemarin malam kamu peluk di teras rumah. Ngomong-ngomong, pria itu bukan kekasihmu, kan?

… berjaga di luar kamarmu. Akan aku buat banyak jaring di seluruh lubang pintu dan jendelamu. Agar saat kamu tidur, tidak ada nyamuk atau serangga lain yang bisa masuk dan mengganggu. Asal kamu tahu, kamu tampak cantik saat tidur.

… berada di belakang lemari, atau sudut atap, atau juga di bawah meja. Di mana pun. Asalkan kamu tidak bisa melihatku.

Oh ya, kalau aku boleh tanya. Katanya kamu benci laba-laba, ya?

(Catatan yang dibuat waktu insomnia karena kebanyakan ngopi di suatu malam. Padahal besoknya ada ujian mata kuliah Perpindahan Panas 2. Ah, tapi sudahlah)

***

RUU Pilkada dan Pertentangan Kelas

“Bagiku sendiri, politik adalah barang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

Sesungguhnya, apa yang ingin Soe Hok Gie sampaikan pada kalimat di atas amatlah jelas. Bahwa politik adalah sebuah sistem dimana segala macam intrik, konspirasi, skenario dan tipuan sudah menjadi wajar untuk dilakukan. Semua demi satu tujuan: mendapatkan kekuasaan.

Barangkali, apa yang Karl Marx coba sampaikan lebih dari satu setengah abad yang lalu dalam Manifesto Komunis-nya yang terkenal adalah benar. Bahwasanya sejarah masyarakat mana pun di muka bumi adalah sejarah pertentangan kelas. Si merdeka dengan si budak, kaum bangsawan dengan rakyat jelata, majikan dengan babu, tuan dan pesuruhnya, singkat kata, penindas dan tertindas. Posisi yang berhadap-hadapan ini akan selalu ada dan tidak bisa dibantah.

Satu solusi telah Marx tawarkan untuk menghentikan pertentangan itu, dan dengan segera ide itu menjadi satu ideologi paling berpengaruh pada abad ke dua puluh. Namun sayang, konsep yang begitu ‘indah’ itu harus hancur total di tahun 1990 ketika tembok Berlin hancur, dan Uni Soviet bubar. Konsep yang mungkin terlalu indah untuk dapat diwujudkan ke dalam dunia nyata.

Kita baru saja menyaksikan satu bentuk pertentangan kelas dalam bentuk baru di depan mata. Sebuah pertentangan kelas yang dibungkus dengan selaput halus bernama ‘demokrasi’. Antara Oligarki Politik dan Rakyat.

Koalisi merah putih (KMP), beberapa hari yang lalu telah berhasil menetapkan RUU Pilkada menjadi UU yang sah melalui sidang paripurna DPR. Ada banyak alasan yang mereka utarakan terkait latar belakang disahkannya RRU itu; dari mulai anggaran yang mahal, konflik sosial dan disintegrasi bangsa (masyarakat belum siap), banyaknya kepala daerah produk pemilihan umum langsung yang tersandung kasus korupsi,  hingga berbagai alasan normatif seperti sejalan dengan sila pancasila ke 4 dan lebih sesuai dengan kultur kita.

Padahal, Anda tidak perlu menjadi seorang ahli politik untuk memahami alasan yang sebenarnya: balas dendam akibat kalahnya KMP dalam kontestasi Pilpres lalu. Yang juga berarti, dengan memiliki lebih banyak kepala daerah, maka sabotase terhadap pemerintahan Jokowi-JK akan lebih mudah dilakukan.

Satu politisi PKS menyatakan bahwa ‘kemenangan’ KMP kali ini dalam meloloskan RUU Pilkada adalah sebagai kemenangan rakyat.

Bagaimana bisa rakyat menang jika haknya dalam memilih pemimpin dikebiri? Bukankah ini penghinaan besar terhadap kita sebagai pemegang kekuasaan yang sebenarnya? Tinjuan orang yang mengaku teman, memang terasa lebih menyakitkan daripada tinjuan orang yang jelas-jelas mengaku musuh.

Dagelan yang tidak kalah lucu juga ditampilkan oleh Partai Demokrat, sebagai fraksi terbesar di DPR, Partai pemenang pemilu sebelumnya.

Klimaksnya, terjadi ketika juru bicara Partai Demokrat Benny Kabur Harman, (kesamaan nama tengah tokoh satu ini dengan sikap Fraksi Partai Demokrat bagi saya adalah kebetulan yang sangat menyenangkan) mengajak seluruh anggota fraksinya untuk melakukan walk out, justru ketika opsi yang mereka ajukan, Pilkada langsung dengan 10 syarat, disetujui PDIP dan kawan-kawannya.

Mari kita tertawa bersama-sama untuk menghargai lelucon ini! Ha.. ha… ha.

Sudah? Oke, mari kita lanjutkan.

Goenawan Mohamad, dalam orasi ilmiahnya Demokrasi dan Kekecewaan, mengungkapkan adanya satu kesalahan yang utama dari sistem demokrasi. Yang luput dan tak tertangkap oleh hukum dan bahasa, yang oleh Lacan disebut sebagai le Reel (dalam versi Bahasa Inggris The Real), dan oleh Goenawan diterjemahkan sebagai ‘Sang Antah’.

Kesalahan ini terutama disebabkan oleh asumsi terhadap kemampuan ‘representasi’. Representasi ini terilusi mulai dari bahasa, bahwa suatu hal dapat ditirukan persis dalam bentuk lain, misalnya dalam kata perwakilan. Ilusi mimetik ini menganggap, semua hal, termasuk yang ada dalam dunia kehidupan, akan dapat direpresentasikan. Seakan-akan tak ada Sang Antah.

Di sinilah masalah utama demokrasi dimulai. Ketika wakil rakyat, sudah tidak lagi mewakili rakyat. Padahal, parlemen sendiri, dalam kondisi yang paling ideal sekalipun, barangkali tidak akan bisa merumuskan apa kehendak sebenarnya dari rakyat. Sang Antah telah diabaikan.

Kondisi inilah yang barangkali melatarbelakangi ribuan masa pada tanggal 17 Oktober 1953 untuk berdemo besar-besaran di jalanan Jakarta. Membawa satu tuntutan yang teramat tegas: “Bubarkan Parlemen”. Yang divisualkan juga dalam sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan Demokrasi untuk Parlemen’.

Mungkin saja, inilah saat yang tepat untuk kita kembali ke jalan, bergandengan tangan, menyanyikan satu lagu dari Iwan Fals bersama-sama, dan mengeraskan suara ketika sampai pada baris ini, “Wakil rakyat, seharusnya merakyat!”

Kembali, jika kita menganalogikan politik sebagai lumpur yang kotor, sebagaimana yang Soe Hok Gie lakukan, barang tentu akan memunculkan pertanyaan selanjutnya ke dalam benak kita: Apa yang membuat orang-orang berlomba-lomba untuk menceburkan diri ke dalam lumpur itu?

Kita tidak akan pernah tahu, jika kita selalu menghindari dan menutup mata, dan selalu menganggap politik sebagai satu hal awang yang terlalu jauh dari jangkauan.

Karena mungkin saja, di dalam lumpur itu ada banyak berlian, bisa jadi? Siapa tahu. Dan sebagai pemilik lahan berlumpur tersebut, kita tentu tidak mau berlian-berlian itu dicuri, bukan?

Apakah engkau sedang tersenyum di liang kuburmu, Marx? :))

Pemantik Api

Kenapa pemantik api?

Aku pikir aku adalah cucu kesayangan Nenek –dia selalu mengatakan itu ketika bersamaku.

Nenek jarang sekali datang ke rumah. Tapi, setiap kali ia datang, akulah orang yang akan menyambutnya dengan penuh semangat. Seperti ketika natal tahun lalu, misalnya. Aku sengaja memakai sweater pemberiannya, walaupun sebenarnya sweater itu kebesaran dan agak gatal kalau dipakai. Tapi aku tidak keberatan.

Aku ingat ketika kecil dia memintaku membantunya memasak pie di dapur, dan dia bercerita banyak tentang masa mudanya dulu. Kisah-kisah yang selalu menarik perhatianku. Nenek bilang, dia merasa aku mirip dengan dirinya ketika kecil. Oh, kecuali mungkin bagian dimana aku adalah kutu buku dan sedikit payah dalam bersosialisasi. Oke, kami sebenarnya tidak benar-benar mirip, hanya saja aku masih merasa yang paling mirip jika dibandingkan Haley dan Luke.

Tapi tetap saja aku tak mengerti. Kenapa pemantik api?

Haley mendapat kalung –beserta surat wasiat yang indah tentang Nenek yang yakin betapa cantiknya Haley kelak ketika memakai kalung itu, sedangkan Luke mandapat arloji saku. Nenek selalu suka pria yang memakai arloji saku karena menurutnya itu akan membuat seorang pria terlihat lebih berwibawa. Tapi sepertinya ‘berwibawa’ dan ‘Luke’ adalah dua kata yang tidak mungkin bisa bersatu. Luke pikir, kegunaan utama dari arloji saku bukanlah sebagai penunjuk waktu, melainkan sebagai alat hipnotis. Benar-benar adik yang bodoh.

Sedangkan aku, sebagai cucu kesayangannya, yang punya paling banyak kemiripan dengan dirinya, selalu jadi yang paling bersemangat ketika dia berkunjung, hanya mendapatkan pemantik api? Oh, dan jangan lupakan surat yang isinya hanya, ‘Ini pemantik api’.

Apa, sih, maksudnya?

Maksudku, bukan karena aku tidak bersyukur atau apa, sih, tapi… ah, oke, aku mengharap lebih dari ini.

***

“Nenek terlihat bahagia di foto ini,” kataku, menutup album foto yang sudah sejak setengah jam lalu terus-terusan aku pandangi.

“Ya, saat tanggal 4 Juli,” Kakek, yang duduk tepat di sampingku, menyahut. Dia nampak santai dengan kemeja lengan pendek dan celana khakinya. Aku pikir kakek adalah orang yang mudah keluar dari kesedihan. Hari ini dia terlihat lebih baik dibanding kemarin. Kesedihan di wajahnya sudah nampak berkurang. “Hari libur kesukaan nenekmu. Waktu itu keluarga Plimptons mengadakan pesta barbeque, nenek dan aku datang agar bisa makan gratis. Lalu kemudian kami pulang dan ketiduran. Melupakan pesta kembang api di kota yang selalu nenekmu tunggu-tunggu.”

Aku terdiam. Nenek dulu pasti adalah wanita yang sangat bahagia. Dia memiliki suami dan keluarga yang begitu menyayanginya sepenuh hati. Setidaknya, dia sudah dapat beristirahat dengan tenang saat ini.

 “Oh, dia sangat marah ketika itu,” lanjutnya sembari terkekeh. “Lalu aku membuatkan pesta kembang api kecil di belakang rumah. Khusus untuk nenekmu.”

Aku tersenyum. Kadang-kadang aku tidak menyangka Kakek bisa begitu manis.

 “Kakek,” kataku, teringat sesuatu. “Aku masih tidak mengerti soal hadiah yang nenek tinggalkan untukku.”

Aku membuka lagi kotak sepatu bekas itu dan menunjukkannya pada kakek. Pemantik api dan surat itu masih ada di sana.

“Dia tidak menuliskan surat tentang itu?”

“Tidak. Hanya ‘Ini pemantik apik’. Tiga kata itu saja.”

“Kau tahu itu bisa dibuka, kan?”

“Dibuka?”

“Tentu saja, Sayang. Mungkin kertasnya tidak sengaja saling menempel karena lem.”

Cepat-cepat aku membuka kertas itu. Benar saja. Di dalamnya masih ada pesan lagi. Bagaimana aku bisa begitu bodoh sampai tidak menyadarinya?

***

Semua orang sudah berkumpul di belakang danau dekat rumah. Danau itu terlihat indah dengan refleksi bintang-bintang yang ada di permukaannya. Pemandangan yang sulit untuk ditemui kalau aku sudah pulang nanti, jadi sebaiknya aku memuaskan diri untuk menikmatinya malam ini.

Wajah mereka semua terlihat sedih. Ayah sedang berdiri di samping guci tempat abu nenek disimpan. Memberikan sambutan terakhir kepada semua orang malam itu. Walaupun gelap, tapi aku dapat melihat titik air di sudut matanya.

“Sebelum kita mengakhiri malam ini, putriku, Alex, ingin mengucapkan sesuatu kepada para hadirin,” katanya sebelum kembali duduk.

Aku berjalan pelan ke depan dengan menggenggam amplop berisi surat Nenek. Mataku terasa begitu panas, tapi aku tetap berusaha menahannya.

“Nenek dan aku punya banyak persamaan,” aku mulai bicara. “Ini mungkin tidak begitu masuk akal untuk para hadirin, tapi aku yakin, dia akan menyukainya.”

Kurogoh pemantik api itu dari saku baju. Lalu kunyalakan sumbu kembang api yang tadi sore sudah aku persiapkan. Beberapa detik kemudian, kilatan api berwarna-warni meledak di angkasa malam. Beberapa orang nampak terkaget, beberapa lagi tersenyum.

Aku mengeluarkan surat Nenek dari amplop, dan mulai membaca.

 

Ini pemantik api.

Pemantik ini dahulu adalah milik aktor favoritku: Paul Newman. Suatu hari, dia datang ke restoran dimana aku bekerja sebagai pelayan, dan secara tidak sengaja meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, dan memasukkannya ke dalam saku. Seorang pelanggan melihatku dan berkata, ‘Jangan khawatir, rahasiamu aman bersamaku.”

Pelanggan itu, yang kelak menjadi satu-satunya cinta dalam hidupku, adalah kakekmu.

Jadi, Alex-ku sayang, yang mungkin terlalu mirip dengan diriku dalam segala hal, sesekali dalam hidupmu, janganlah takut untuk melanggar aturan.

Kau tidak tahu apa yang akan terjadi.

 

Terima kasih, Nek. Ini hadiah yang terbaik.

***

*All characters and story are based on the last episode of Modern Family season  4.

Kenapa Saya Memilih Jokowi

Sejujurnya, saya tidak pernah begitu percaya dengan janji-janji para capres. Makanya, saya jarang sekali menggunakan ‘janji’ mereka sebagai referensi dalam menentukan pilihan.

Jika kita cermati, kebanyakan dari janji yang mereka tawarkan terlalu too good to be true. Menjanjikan semilyar tiap desa, menjanjikan 25 bendungan baru, menjanjikan pertumbuhan ekonomi 7 persen, menjanjikan buyback Indosat, menjanjikan nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia, dan masih banyak lagi. Bagi saya, semua janji itu cuma ARS (asal rakyat senang).

Kalau kita ingat, dulu saat kampanye, SBY bilang ingin menuntaskan semua kasus HAM, termasuk Munir. Bukankah itu janji yang relatif ‘mudah’ jika dibanding janji capres sekarang? Namun kenyataanya sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, bahkan ketika presiden baru akan dipilih, ternyata tidak ada tindakan apa-apa. Ah, mungkin SBY lupa. Atau memang sengaja melupakannya.

Janji bisa diingkari. Barangkali bagi mereka, yang penting adalah jadi presiden dulu. Soal janji bisa dipikir belakangan. Sudah sering kita ditipu janji pejabat. Lagipula, tidak ada satu lembaga yang berfungsi untuk menampung protes masyarakat ketika janji itu diingkari. Kita bisa apa?

Saya lebih suka menggunakan variabel lain untuk menentukan pilihan.

 

Beberapa waktu yang lalu, saya berdiskusi (debat, sih, sebenernya) dengan teman tentang capres mana yang lebih baik. Saya memilih Jokowi, dia memilih Prabowo. Perdebatan kemudian diwarnai berbagai informasi dari berbagai sumber; tentang prestasi, latar belakang, maupun kepribadian capres yang kami dukung.

Dia bilang Prabowo berprestasi ketika masih di militer. Saya bilang Jokowi mendapat nominasi penghargaan walikota terbaik dunia. Dia bilang Prabowo orangnya tegas dan nasionalis. Saya bilang Jokowi jujur dan merakyat.

Itu positifnya, kemudian debat merembet ke sisi negatif.

Prabowo pelanggar HAM berat. Jokowi melanggar janji saat dilantik sebagai walikota dan gubernur. Prabowo cuma pinter ngomong di iklan. Jokowi cuma bisa pencitraan. Dan daftar ini masih bertambah panjang.

Di tengah-tengah kami berdebat, saya kemudian mikir: ini nggak bakal ada gunanya. Kebanyakan dari kita sudah menjadikan dukungan ke capres menjadi seperti perihal ‘keimanan’. Kritik dan koreksi sudah tidak bisa lagi diinjeksikan. Sisi yang dia dukung menjadi seratus persen putih, sedangkan sisi lawan menjadi seratus persen hitam. Sehingga, sia-sia saja usaha untuk mempengaruhinya dari luar agar berubah haluan.

Saya pulang sambil memikirkan hal itu ketika tiduran di kamar kos.

Coba pikirkan baik-baik. Apakah Indonesia sekarang sedang terpuruk? Jika menurut Anda ya, kapan Anda mulai merasa Indonesia terpuruk seperti itu? Mungkin Anda akan menjawab: sudah sejak lama.

Lalu, sejak kapan Anda benar-benar mengkhawatirkan hal itu? Baru beberapa bulan yang lalu?

Jika Anda merasa semua jawaban atas pertanyaan itu sesuai dengan Anda, maka selamat, Anda sudah terpengaruh kampanye salah satu capres. Tidak dapat kita pungkiri, dari dulu, kampanye capres memang jualannya seperti itu. Pertama, memberikan gambaran bahwa negara kita sedang kritis. Kebocoran uang negara, mafia di mana-mana, korupsi, apapun variasinya, intinya sama: negara kita sedang genting.

Lalu kemudian, dia memunculkan diri sebagai solusi, atau juru selamat.

Saya tidak menyalahkan jika Anda memasukkan ‘janji’ ke dalam pertimbangan Anda dalam memilih. Lagipula berdebat dengan pandangan subjektif masing-masing juga saya jamin tidak akan menemukan titik temu.

Black campaign sekarang, menurut saya sudah mencapai taraf yang kekanak-kanakan. Baru menyoalkan logo Garuda Merah sekarang, Jokowi sebagai capres yang tidak pakai peci di surat suara, perceraian Prabowo dengan istrinya, Nazi, PKI, sampai yang terbaru Jokowi yang keliru memakai kain ihram saat umrah (yang ternyata editan), sebenarnya bukanlah hal yang pantas kita bicarakan. Memasukkannya ke dalam debat, malah justru akan menjatuhkan kita sendiri.

Ada juga yang memakai agama sebagai landasan memilih capres. Apalagi dengan anggapan: milih capres itu haram, milih capres ini masuk surga. No hope buat orang-orang ini.

Saya tidak suka berdebat dengan informasi ‘kulit kacang’. Saya ingin berdebat dengan big picture. Gambaran besarnya.

Di sini, saya ingin berbagi cara berpikir saya dalam menentukan capres sehingga saya memilih Jokowi. Saya lebih suka membayangkan bagaimana skenario yang mungkin terjadi jika capres tersebut menang.

Ribet? Mari saya jelaskan. Ada dua poin penting di sini.

 

Koalisi

Pertama, dari hal yang paling tidak saya sukai dari sistem multipartai: koalisi. Koalisi adalah hal yang tidak bisa dihindari tahun ini. Pasalnya, tidak ada partai yang memenuhi syarat ambang batas 25 persen suara nasional, maupun 20 persen kursi parlemen. Sehingga, koalisi menjadi syarat yang harus dijalani bagi parpol yang ingin mengusung presiden.

Sebagaimana proses transaksi pada umumnya, koalisi hampir selalu memiliki syarat. Biasanya berupa jabatan wakil presiden maupun kursi di kementrian. Yang menarik, adalah ketika kemarin kedua capres memilih sikap yang berbeda ketika menentukan koalisi ini.

Kubu Prabowo terang-terangan mengaku bahwa ada pembagian jabatan di sana, dan tentu saja yang paling menghebohkan adalah ketika ARB mengaku mendapat tawaran sebagai menteri utama

-___-

Entah, apa itu menteri utama.

Bahkan ARB sendiri bilang, kalau menteri utama itu seperti perdana menteri. Di sini, ada dua kemungkinan. Pertama, Prabowo dan ARB tidak paham konstitusi dan tata negara. Kedua, memang Prabowo ingin mengubah konstitusi kita dengan menambahkan menteri utama yang tugasnya, kata ARB, seperti perdana menteri.

Jika kita memiliki perdana menteri, itu artinya sistem kita menjadi parlementer. Dalam sistem parlementer, presiden adalah kepala negara, sedangkan kepala pemerintahan adalah perdana menteri. Saya yakin, Prabowo tidak akan mati-matian pengen jadi presiden jika kekuasaan di pegang oleh perdana menteri.

Jawaban lebih logis sebenarnya muncul dari Mahfud MD, yang menyampaikan bahwa menteri utama itu hanya istilah. Bisa saja yang terjadi adalah menteri koordinator diganti namanya menjadi menteri utama. Hal itu sah-sah saja dilakukan karena memang presiden berhak merubah-rubah kementrian asalah masih dalam aturan konstitusi.

Mana yang benar, saya tidak tahu.

Sedangkan kubu Jokowi sebaliknya. Bersikeras bahwa koalisi yang ingin dia bangun adalah tanpa syarat. Barangkali sikap itulah yang membuat partai-partai lain menjauh, dan hanya menyisakan lima partai di kubunya. PDIP, PKB, Nasdem, Hanura dan PKPI.

Lagipula, jika kubu Jokowi menyetujui koalisi dengan Golkar, tentu kubunya akan lebih heboh. Media televisi akan dia kuasai sepenuhnya. Tapi ternyata tidak, dan Golkar pun memilih merapat ke Prabowo.

Sesungguhnya, saya sendiri juga tidak terlalu percaya kalau ‘koalisi tanpa syarat’ ini bakalan bisa diterapkan. Partai politik memang diciptakan sebagai sebuah alat bagi seseorang demi mencapai kekuasaan. Pemilu legislatif, bagaimana pun hasilnya, tetaplah berbiaya mahal. Ambil contoh saja Hanura, yang sudah habis-habisan kampanye sebelum pileg, sampai-sampai Wiranto harus nyamar sebagai kenek dan tukang becak, ternyata hanya meraih suara 2,5 persen.

Sekali lagi, mengikuti pemilu itu mahal. Sehingga, selanjutnya menjadi hal yang wajar jika parpol yang mengikuti koalisi partai pengusung presiden menginginkan syarat berupa jabatan tertentu. Mungkin Jokowi di depan media bilang koalisinya tanpa syarat, tapi di belakang tetap bagi-bagi jabatan. Mungkin saja, siapa yang tahu.

Namun, andaikata Jokowi terpilih, dan benar bahwa dia tidak bagi-bagi jabatan ketika penyusunan kabinet, sudah sepatutnya kita apresiasi sebagai satu langkah besar menuju perubahan yang lebih baik.

Cara Prabowo memang lebih tepat, tapi cara Jokowi lah yang lebih benar.

 

Oposisi

Hal ini sudah saya jelaskan dalam postingan saya yang terdahulu. Jika Anda menyukai kepemimpinan SBY sekarang, terlepas dari segalam macam masalah yang ada, barangkali memilih Prabowo adalah pilihan yang tepat.

Koalisi Prabowo memiliki partai yang banyak. Tujuh partai. Gerindra, Golkar, PAN, PPP, PKS,PBB, dan terakhir yang baru saja menyatakan dukungan, Partai Demokrat. Jika Prabowo menang, maka Prabowo akan menguasai eksekutif dan mayoritas legislatif. Sehingga jika ada yang salah dengan kepemimpinannya, akan susah untuk menentangnya. Lagipula, ada beberapa orang dalam koalisi Prabowo yang bermasalah. Kita tentu ingin orang seperti itu tidak ada dalam pemerintahan.

Bentuk pemerintahan seperti ini sama dengan koalisi setgab SBY ketika terpilih tahun 2009. Sehingga memungkinkan SBY menguasai eksekutif, dan koalisi Demokrat menguasai legislatif.

Sedangkan jika Jokowi menang, maka mayoritas legislatif akan dikuasai oposisi. Intinya, kalau Jokowi aneh-aneh, ngontrolnya lebih gampang. Tapi kalau Prabowo yang menang dan aneh-aneh, ngontrolnya susah.

 

Debat yang Sia-sia

Debat capres terakhir, bagi saya adalah yang paling seru.

Seorang teman berpendapat bahwa debat capres selama ini nggak mutu. Hanya ingin saling menjatuhkan tanpa memikirkan bangsa ini kedepannya bagaimana.

Ada juga yang bilang bahwa saat seorang calon menjatuhkan calon lain dengan perkataan menusuk, itu tidak etis. Misalnya, saat JK menanyakan Prabowo tentang HAM, saat Hatta menanyakan kenapa JK mendukung UN, atau saat JK menanyakan perihal mafia migas pada Hatta.

Namun bagi saya, memang seperti itulah seharusnya debat. Kapan lagi kita melihat politikus saling menelanjangi kesalahan di depan media. Saat kita tidak usah menonton talkshow para ahli, atau pun mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus itu. Debat itu adalah wajah politik kita yang sebenarnya. Wajah politik kita yang tidak berusaha ditutup-tutupi etika. Wajah politik kita yang tidak munafik. Wajah politik kita yang saya sukai.

Barangkali teman saya adalah orang yang lebih suka menerima jawaban PKN-ish semacam “Saya mencalonkan diri karena ingin mengabdi pada bangsa,” atau “Kami berkoalisi karena kesamaan ideologi.” Barangkali.

Bagi saya, termasuk hasil debat, segala macam opini tentang capres mana yang lebih bagus dan lebih jelek sudah tidak bisa lagi mempengaruhi suara di saat-saat terakhir seperti ini. Sehingga jalan yang bisa kita tempuh adalah menjelaskan realita yang mungkin terjadi.

Berhentilah berbicara normatif tentang visi misi dan janji. Kedua calon itu memiliki visi misi dan janji yang bagus. Siapapun presiden terpilih nanti, jika seluruh visi misi dan janji terpenuhi, saya yakin Indonesia akan lebih maju.

Berhenti juga meyakinkan orang dengan kepribadian capres menurut pendapat pribadi Anda. Anda tidak mengenal mereka dengan baik. Jika Anda bilang Jokowi merakyat dan sederhana, saya jamin lawan Anda akan bilang itu pencitraan. Jika Anda bilang Prabowo tegas, saya jamin lawan Anda akan bilang “yah, namanya juga diktator.”

Hari itu, seorang teman berkata pada saya, “Apa sih untungnya kamu mikirin capres? Ngajak-ngajak orang buat nyoblos pilihanmu? Orang dia kepilih atau nggak juga nggak ngasih kamu duit. Nggak ngasih keuntungan apa-apa.”

Saya diam saja. Sambil memikirkan perkataan itu dalam perjalanan pulang. Mungkin, secara materi, ngurusin capres, memang tidak akan menguntungkan saya. Namun paling tidak, saya masih bisa merasakan harapan baik. Bahwa setidaknya sekali dalam hidup saya, saya pernah melakukan sesuatu bagi negara ini tanpa memikirkan keuntungan pribadinya bagi saya. Tanpa memikirkan apakah saya dapat uang atau tidak dari perbuatan saya itu.

Semua terserah Anda. Dalam demokrasi, Anda memilih dengan analisa, hitung kancing, atau dibayar sekalipun, suaranya tetap dihitung sama.

***