Monthly Archives: May 2013

Imperfection is beautiful

Satu hal yang selalu saya yakini:” Kesempurnaan” hidup justru terletak pada ketidaksempurnaanya. Satu kutipan dari komik Donald Duck;

Ini Hidup bukan Surga, Kita tidak harus jadi Sempurna untuk menjalaninya.

Selama ini kita sering beranggapan bahwa hidup kita akan bahagia kalau saja hal-hal yang kita inginkan, semua tercapai. Well, saya juga pernah berpikir seperti itu dulu. Tapi kemudian saya tahu itu salah.

Bayangkan kalau hidup kamu seperti ini; kuliah dan selalu mendapat nilai A, semua orang suka padamu, dan semua hal yang kamu inginkan dapat terpenuhi. Menyenangkan? Tentu saja. Tapi sekali lagi, ini bukan surga. Ini masih dunia fana. Kita masih mungkin merasa bosan di sini, walaupun semua hal sudah kita miliki.

Dan untuk membebaskan kita dari semua itu, Tuhan memberikan alternatif lain. Rasa sakit. Hidup adalah akumulasi ketidaksempurnaan yang setiap hari harus kita nikmati. Mendapat nilai C yang saat diulang malah menjadi D, salah naik bus, beberapa kali uang kiriman telat datang, jatuh cinta pada orang yang ternyata salah, semua ketidaksempurnaan itu memang menyakitkan pada awalnya.

Tapi jangan lupakan bagian terbaiknya. Sebuah formula favorit saya.

Tragedi + waktu = Komedi

Semua hal menyakitkan itu, akan menjadi lucu saat kita ingat-ingat lagi di kemudian hari.

Imperfection is beautiful 🙂

Advertisements

Memahami Perekonomian Kita

Seringkali kita secara sepihak memutuskan untuk membenci sesuatu tanpa memahami terlebih dahulu. Saya pun juga kadang-kadang seperti itu. Tapi alangkah baiknya mulai sekarang kita mulai berpikir lebih panjang. Kalau kata pepatah, “tak kenal maka tak sayang,” begitu juga sebaliknya: “jangan membenci kalau belum kenal.”

Sekarang, coba tanyakan pertanyaan ini kepada sembarang orang,”Menurut kamu, perekonomian Indonesia itu kayak gimana, sih?”

Pasti sebagian besar dari mereka akan memberikan jawaban negatif yang tidak jauh-jauh dari seputar harga-harga yang mahal, biaya hidup yang mahal, susah mencari pekerjaan dan sebagainya.

Tapi apakah benar kalau ekonomi kita seburuk itu? Dari sudut pandang mana kita bisa mengatakan bahwa ekonomi kita buruk?

Karena sekarang kita adalah manusia berpikiran panjang (yang sudah membaca alenia pertama postingan ini) mari kita menyelidikinya bersama-sama.

Membahas soal perekonomian negara, secara makro, seperti ini, pasti kita nggak akan bisa mengabaikan satu hal yang disebut dengan Gross Domestic Product (GDP). Seperti yang telah sedikit saya bahas di postingan ini, GDP adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu.

Salah satu topik yang sedang banyak dibicarakan saat ini adalah krisis utang yang banyak terjadi di negara-negara dunia, terutama negara yang secara ‘awam’ kita sebut perekonomiannya maju.

Tanyakan lagi satu pertanyaan pada sembarang orang (hehe, jadi kebanyakan nanya-nanya orang kayaknya), “Menurut kamu, negara yang ekonominya maju itu kayak negara mana, sih?”

Pasti dua negara ini akan ada dalam mayoritas jawaban yang kalian temukan. Amerika Serikat, dan Jepang.

Sekarang coba buka link ini! Di sini akan terlihat daftar negara berdasarkan utangnya, baik itu public debt, maupun gross government debt. Nah biar gampang mbandinginnya, lihat posisi Indonesia, Amerika dan Jepang.

Di sana akan kelihatan gross government debt Indonesia sebesar 23,902%, amerika 73,6% dan Jepang 236,56%. Udah mengerti sekarang, kan?

Kalau belum, saya akan analogikan secara sederhana. Sebelumnya perhatikan chart ini.

Ini adalah chart GDP beberapa negara di dunia yang saya dapat dari nationmaster.com. Dari situ akan terlihat kalau Amerika punya GDP tertinggi, Jepang di peringkat tiga, dan Indonesia ada di peringkat 15.

Sekarang bayangkan kalo Indonesia, Jepang dan Amerika, adalah tiga orang wanita karir yang bernama Suketi, Jennifer dan Megumi. Jennifer punya gaji bulanan (GDP) paling besar, diikuti Megumi, dan Suketi paling sedikit. Sekilas memang terlihat kalau Jennifer punya hidup yang paling enak. Tapi perhatikan lagi tabel Gross Government debt dari link wikipedia yang saya berikan tadi.

Baik Suketi, Jennifer maupun Megumi, ternyata mereka punya hutang yang harus dilunasi. Dan persenan yang ditampilkan tabel tadi adalah persenan hutang dibandingkan dengan gaji mereka. Suketi punya persenan utang dibanding gaji sekitar 23%. Artinya, kalu dia mau bayar, dia masih punya 77% dari gajinya buat kehidupan sehari-hari. Emang sih, gajinya kecil. Tapi kan setidaknya dia masih punya pegangan uang sisa buat kebutuhan sehari hari seperti beli gula, beras ataupun paketan blackberry.

Lalu Jennifer, dengan gaji yang paling besar. Dia punya rasio utang sekitar 73%, Artinya, kalau dia membayar utang, dia hanya memegang uang 27% dari total gajinya. Kebutuhan sehari-hari sih mulai agak susah ya, tapi kalo mendadak dia datang bulan, minimal Jennifer masih pegang sedikit uang yang cukup kalo buat beli pembalut.

Sedangkan megumi punya rasio 200% lebih. Artinya, kalau mau bayar utang, dia mesti dua bulan kagak makan.

Memahami ekonomi suatu negara, memang tidak bisa secara awam dilihat dari besarnya pendapatan GDPnya. Karena seperti kodrat kita sebagai manusia, semakin besar pendapatan kita, maka semakin besar pula kebutuhan kita.

Sedikit informasi, menurut detik.com di artikel ini. Utang indonesia tahun 2013 mencapai 1.979 Triliun rupiah. Buat apa kita utang sebanyak itu? Ya, buat menjalankan perekonomian kita. Mengisi APBN kita. Atau kalau mau lebih rinci, baca buku “Confessions of an Economic Hit Man.,” lalu tanyakan pada fans-fans Suharto yang naif itu, “Duit 1500 triliun yang kemarin itu, ngomong-ngomong sekarang kemana ya?” Mungkin saja bagi mereka, kehilangan duit sebanyak itu rasanya cuma kayak pas lupa  lagi naruh 20.000 di kantung jeans, lalu pas kecuci sobek rusak. Yaudah, ikhlasin aja.

Jangankan 7 turunan, kalo utang sebanyak ini mah 70 turunan juga kayaknya belum lunas-lunas.

Dan sebagai perbandingan, utang amerika, sebagai negara pengutang terbesar di dunia, menurut artikel ini, mencapai 16,4 triliun US dollar. Jadi misalkan  satu dolar sama dengan sepuluh ribu rupiah. Utang amerika itu 164.000.000.000.000.000 rupiah. (Btw, itu bantuin ngitung ya, pokoknya nolnya ada 15, nggak tahu angka segitu bacanya gimana, hehe.) Lah, kalo ini sih 700 turunan juga kayaknya nggak bakalan lunas!

Tapi di sini ada sesuatu yang janggal. Karena GDP memuat SEMUA nilai barang dan jasa, maka semua uang yang dihasilkan di Indonesia pada periode tertentu (satu tahun) semua akan masuk GDP. Baik yang dihasilkan negara, maupun swasta.

Masuk akal?

Nggak kan ya.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana bisa GDP menjadi tolok ukur pertumbuhan ekonomi suatu negara?

Padahal angka yang masuk dalam GDP itu mencakup semua yang dihasilkan di Indonesia, tentu uang yang dihasilkan oleh swasta seharusnya nggak masuk hitungan. Ambil contoh Freeport Mc Moran yang mengambil bijih logam di Mimika, Papua.

Gampangnya gini, Freeport ngambil logam, lalu dijual. Freeport dapet untung. Dan karena dapet untungnya di Indonesia, untung itu di masukkan ke dalam GDP kita. Padahal kita nggak menikmati uangnya.

GDP seharusnya bukan menjadi definisi dari “pertumbuhan Indonesia,” tapi cuma “pertumbuhan YANG TERJADI di Indonesia.” Tumbuhnya sih emang di Indonesia, tapi yang TUMBUH bisa siapa saja, nggak harus kita.

Nyesek memang.