Monthly Archives: June 2013

saya akhir-akhir ini agak males kuliah karena …

Saya mikir, kalau kuliah saya itu nggak terlalu penting. Hehe.

(oke, bagi Anda yang aktivis pendidikan, apalagi bidang teknik mesin, saya tahu kuping Anda panas mendengar pernyataan saya)

Tapi biar saya jelasin dulu kenapa. Saya punya alasan.

Saya suka belajar hal-hal baru. Banyak hal. Dan beberapa memang saya dapat di bangku kuliah. Tapi akhir-akhir ini, banyak hal yang tidak ingin saya pelajari, namun terpaksa saya pelajari di kampus. Sistem kendali, mesin pendingin, turbin uap dan gas, apalah itu, saya nggak tahu. Dan sebenarnya juga nggak mau tahu.

Saya tahu karena saya pernah melihat para penekun profesi bidang ini langsung berkata bahwa semua yang kita pelajari di kuliah, nggak akan kepakai semua nanti.

Bahkan kalau bisa, sekarang saya mau minta ganti rugi atas masa kecil saya yang terbuang untuk menghafal pasal-pasal undang-undang (PPkn, FYI saya kuliah di teknik mesin, jadi PPKn gak ada gunanya*) tahun-tahun dan kejadian (sejarah) dan masih banyak lagi, yang dulu TERPAKSA harus saya pelajari agar bisa lulus.

Saya benci mempelajari hal yang saya tahu suatu hari nanti nggak akan saya pakai.

(selanjutnya, baca kalimat-kalimat ini pelan-pelan, dan resapi. Tapi jangan pakai emosi ya)

Sebagian besar dari kita berkuliah, BUKAN karena kita pengen mempelajari ilmunya. Kita kuliah, karena kita merasa HARUS kuliah. Lulus dan memiliki ijazah, akan membuat kita merasa lebih mudah untuk DITERIMA dalam kehidupan. Sederhananya: mudah carir kerja.**

Kalo kata Brad Pitt di Fight Club, kehidupan akan memberikan kita pekerjaan (yang sebenarnya tidak kita inginkan) agar kita mendapat uang, dan kita bisa membeli barang (yang sebenarnya nggak kita butuhkan). Sadar atau enggak, itulah cara hidup sekarang ini.

Kita merasa dengan berkuliah semakin tinggi, masa depan kita akan semakin cerah. Ya, setidaknya itu yang dikatakan pada kita sejak kecil.

Saya setuju sih, tapi ada yang mau sedikit saya katakan:

Saya nggak suka dengan pengkastaan kecerdasan berdasarkan jenjang pendidikan. Bagi saya, pinter dan bodoh itu tidak bisa diukur dengan IPK dan jenjang pendidikan. IPK dan jenjang pendidikan, adalah ukuran seberapa mirip kita dengan model yang diharapkan perumus kurikulum. Atau dalam kata lain: seberapa patuh kita sama pengajar. (You know, kayak nulis laporan berlembar-lembar pake tangan, haloo.. pernah denger kalau ada penemuan yang bernama printer nggak?)

Padahal setiap orang pasti punya kemauan dan kemampuan belajar berlainan. Lalu, mana bisa kita dinilai dengan standar yang sama? Itu seperti memberi ujian berenang pada berbagai jenis hewan: monyet, ikan, burung dan harimau. Kayaknya sih sama dan adil, tapi aslinya enggak. Masing-masing kan punya kemampuan spesifik.

Di kelas saya ada mahasiswa yang pinter banget. Dalam berbagai mata kuliah, dia selalu lebih baik dari saya. Hampir semua.

Saya bisa saja berusaha mengejar dia dengan belajar rajin setiap hari. Benar-benar rajin. Mengesampingkan dulu hal-hal yang sebenarnya ingin saya lakukan untuk fokus belajar buat mengejar dia. Dan bisa saja saya menyusul dia suatu hari nanti.

Tapi pertanyaanya, apakah dengan menyusul dia secara akademis, saya akan mendapatkan apa yang saya mau? (Dalam hal ini, mengerti apa yang INGIN saya pelajari)

Saya nggak yakin.

Nah, daripada saya jadi second best, (nggak second best juga sih, soalnya ada banyak anak lain yang lebih pintar dari saya, third best, fourth best atau seterusnya mungkin) lebih baik saya menekuni apa yang saya bisa, sampai saya bisa menonjol dan ‘lebih’ daripada orang lain.

Betewe, ada hal lain yang sedang saya pelajari dengan sungguh-sungguh akhir-akhir ini 🙂

Tapi saya bukan orang yang ekstrim juga sih. Yang karena berpikiran begini terus tiba-tiba memutuskan untuk keluar, karena sistem pendidikan yang saya pikir nggak cocok. Ada satu alasan kuat: orang tua saya.

Saya tetap akan berusaha lulus tepat waktu dengan IPK bagus, karena orang tua saya. Bukan untuk saya sendiri. Saya menyakini satu hal, kalau tidak bisa membanggakan orang tua, setidaknya jangan bikin mereka malu.

Saya cuma males kuliah, bukan malas belajar. Negara ini nggak maju-maju, saya yakin bukan karena pemikiran seperti saya ini. Tapi karena banyak orang yang kuliah, merasa sudah belajar, padahal nggak bisa apa-apa (setiap hari saya lihat makin banyak jumlahnya)

Lagipula, profesi engineering kan penting juga. Tanpa profesi engineering, kita nggak akan bisa naik mobil, make handphone, nonton tivi, ataupun nyebrang ke madura lewat suramadu.

Engineering penting buat manusia. Tapi nggak begitu penting buat saya pelajari.

PS:

*buat yang punya pendapat PPKn penting untuk budi pekerti anak, saya nggak setuju. Budi pekerti saya lebih baik bukan gara-gara PPKn, tapi karena didikan orang tua dan lingkungan saya. Contoh lainnya, Anda pernah nyontek waktu ulangan PPKn?

**Yaya, kayaknya Anda yang sedang baca, pasti sempat mikir gini: “Ah anak kuliah, masih idealis. Ntar kalau udah ngerasa susahnya cari kerja pasti juga tahu.” Nggak papa kok, opini mah bebas buat siapa saja 🙂

Advertisements

Lovey Dovey

Satu-satunya surat cinta yang pernah saya tulis seumur hidup, dan nggak saya kasih orangnya juga sih.. Pagi ini saya membacanya lagi dan tertawa (yang nyadar kayak: “kok dulu aku bisa mikir kayak gini ya?)

***

Aku memang pengecut. Aku memang penakut. Aku takut kalau harus memimpikan kamu lagi waktu aku tidur. Aku takut untuk terbangun, merasa kangen kamu lagi, dan tergesa mengirim pesan untuk kamu pagi itu juga. Aku takut. Aku takut untuk melakukan itu lagi.

Aku takut untuk memandangi fotomu lagi. Aku takut untuk sekali lagi merasa bahwa kamu masih ada untukku. Aku takut obsesiku tentang diri kamu akan kembali lagi.

Aku takut meninggalkan hapeku. Hape yang selalu ku bawa itu, yang selalu ada di sakuku. Agar saat pesanmu masuk sewaktu-waktu nanti, kamu tidak perlu lama-lama menunggu balasannya. Tapi, kamu sudah tidak peduli itu lagi yah?

Aku takut harus berpikir dahulu untuk marah kepadamu. Melihat sendiri kamu sedang berbohong, aku benar-benar harus berpikir. Atau kita akan bertengkar lagi. Dan dengan bertengkar, itu berarti aku harus kehilangan kamu lagi kan??. Ya aku memang penakut. Akhirnya aku hanya akan memaksa pikiranku, dan memaksanya sekali lagi. Memaksa untuk menerima, kalau pada saat itu, kamu sedang tidak berbohong padaku. Dan semua akan berjalan seperti biasa lagi. Aku harap.

Aku takut terlihat seperti pemarah di depanmu. Aku takut kamu tidak lagi melihatku sebagai seorang yang bebas, seorang yang punya kehidupan yang sempurna, seorang yang penyabar dan mungkin juga sebagai seorang yang pemaaf. Aku takut kamu berpikir aku telah berubah.

Dan sepertinya, aku harus segera menulis lagi sebuah pesan maaf kepadamu, lalu menyisipkan lagi sebuah karakter emoticon senyum di belakangnya. Begitu mudah aku menutupi perasaan dengan sebuah karakter emoticon. Dan sekali lagi aku hanya akan berharap semua kembali baik-baik saja.

Aku takut kita tidak lagi melewati semua bersama. Aku takut kamu membawaku sampai pada saat seperti ini. Sampai saat aku ada pada level yang benar-benar “unconditional” untuk menyayangimu. Sampai saat dimana tanpa syarat lagi aku mencintaimu.

Aku takut. Aku takut untuk mengetahui bagaimana kamu bisa melupakan semuanya. Sedangkan aku? Sama sekali tidak! Melupakan apa saja yang kita bicarakan, dan apa saja yang kita lewati bersama. Aku benar-benar bingung. Dan takut tentu saja. Jadi bagaimana kamu bisa melakukannya?

Dan sekali lagi kamu cuma akan berkata, “ Hei kita ini hanya teman.”
Karena bagiku, kalimat itu lebih terdengar seperti “Hei, kamu tidak seharusnya menyayangiku.”

Karena sekarang mungkin saja,
aku tidak lebih penting dari acara favoritmu,
aku tidak lebih penting dari waktu tidurmu,
dan sepertinya aku juga tidak lebih penting dari dia, yang pernah menyakitimu dulu.

Padahal sebenarnya aku hanya takut untuk mengakui, kalau kamu, mungkin saja sudah tidak membutuhkan aku lagi.

Munafik

Saya selalu berusaha untuk menjadi orang yang baik.

Tapi ada beberapa hal yang saat ini ingin saya katakan:

Saya nggak pernah suka dengan konsep ‘kerja kelompok’ yang diajarkan di sekolah. Kita selalu dipaksa untuk menerima anggota dan dituntut untuk bisa bekerja dengan tim. Padahal tentu saja ada anak yang literally beneran ‘nggak berguna.’ Nggak berguna dalam artian udah nggak bisa, gak mau bantu lagi, intinya mereka gak antusias lah. Ngajak orang yang nggak antusias buat kerjasama itu adalah hal yang mustahil. Saya sering merasa ingin meninggalkan anggota tim yang nggak berguna. Tapi saya juga konsekuen, kalo saya nggak berguna, ya ditinggal sih terima-terima aja.

Saya sering ngerasa nggak cocok dengan budaya tradisional. Misal baju batik, saya nggak suka pake baju batik. Bukan karena apa, saya cuma nggak suka motif batik aja.

Saya sekarang sering mudah merasa marah kalau melihat ada hal yang nggak seharusnya. Kayak orang yang nyerobot antrian, orang yang nyalip lewat kiri, orang yang ngrokok sembarangan, orang yang buang sampah sembarangan. Saya selalu emosi ngelihat orang-orang kayak gitu.

Saya kadang-kadang bisa membenci seseorang tanpa sebab yang jelas.

Saya baru sadar sesuatu. Bahwa orang yang bermental jongos itu akan kelihatan kalau misal dia diberi wewenang , dia akan semena-mena dan ngambil keuntungan pribadi dari wewenang itu. Sekali lagi, orang yang bermental jongos.

Saya merasa banyak tenaga pengajar di Indonesia ini (guru atau dosen), sebenarnya nggak pantes buat ngajar. Standar Indonesia terlalu rendah untuk profesi mulia ini. Sehingga kebanyakan orang yang bekerja di profesi ini sebenarnya hanya suka gaji, tanpa pernah punya passion mengajar.

Saya nggak suka dengan konsep ‘sekolah dengan ikatan dinas.’ Karena kebanyakan mahasiswanya penakut. Nggak berani bersaing dan selalu merengek buat penempatan. Only some people, not all of them.

Saya orangnya pendendam. Saya bisa dendam dan benci pada seseorang dalam waktu bertaun-taun.

Kadang-kadang, saya suka melihat orang lain sengsara, terutama kalau orang itu adalah orang yang saya benci.

Kadang-kadang, saya belum puas saat berhasil melakukan sesuatu. Saya baru puas kalau saya berhasil, dan orang lain gagal.

Oke kayaknya udah cukup. Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, saya ingin ngutip quote dari Kurt Cobain:

Lebih baik dibenci tapi jadi diri sendiri daripada disukai tapi menjadi orang lain

Well, setelah membaca semua di atas, saya bisa menebak apa yang kalian pikirkan tentang diri saya. Orang brengsek, sok tau, menyebalkan, selfish dan nggak tau diri.

Yaya, I know. Saya juga merasa sifat itu ada dalam diri saya.

Tapi dengan mengatakan apa yang sebenarnya, itu berarti kita bukan orang munafik.

Semua orang punya pikiran buruk tentang hidup. Seperti semua hal di atas yang saya sebutkan. Tapi kebanyakan kita tidak mau mengatakannya, karena kita takut dibenci orang.

Banyak orang yang berkata baik-baik agar disukai orang. Saya nggak suka itu. Saya lebih suka, disukai sebagai saya apa adanya.

Biarlah saya dilihat orang sebagai orang  brengsek, sok tau, menyebalkan, selfish dan nggak tau diri, yang penting saya nggak munafik. Dan itu adalah usaha pertama saya untuk menjadi orang baik.

Semarang

Sudah hampir 3 tahun saya tinggal di Semarang. Dan dalam jangka waktu selama itu, saya sudah merasa mengenal kota ini dengan baik. Jalan-jalannya, lokasi-lokasi yang menarik, hampir semua udah saya hafal (yah, walopun kadang-kadang masih harus ngandelin google map juga sih, hehe).

Andai ada teman saya dari Karanganyar yang main ke Semarang, saya bisa mengantar dia ke tempat-tempat yang dia mau. Simpang lima? Lawang sewu? Pantai Marina? Kuil Sam Poo Kong? Kota tua? Sunan Kuning (hehe)? Atau ada tempat lain yang ingin dikunjungi di kota ini, saya siap mengantar. Saya merasa udah hafal seluk beluk kota ini dengan baik.

Ya, setidaknya sampai kemarin. Saya sadar kalau saya salah.

Hari itu saya dan seorang teman berniat membeli resin untuk bahan tugas kuliah. Resin, adalah zat kimia cair yang biasa digunakan untuk membuat berbagai macam benda. Yang paling sering kita lihat adalah untuk modifikasi kendaraan, atau juga sekedar untuk membuat asesoris seperti gantungan kunci.

Karena deadline tinggal tujuh hari, makanya saya pilih pesen jadi aja. Hehe.

Ternyata toko art yang saya peseni itu tidak bisa membuatnya dalam tujuh hari. Dia bilang, dia perlu waktu setidaknya dua minggu. Karena takut tidak jadi tepat waktu, akhirnya saya putuskan untuk membuat tugas sendiri. Dan hal pertama yang saya lakukan, adalah dengan membeli resin.

Saya dapat info kalau kita bisa membeli resin di kota bawah, kalau nggak salah di Pasar Johar ada.

Well, Pasar Johar. Selama saya tinggal di Semarang, saya hanya pernah lewat pasar ini. Belum pernah saya membeli sesuatu dari Pasar Johar. Bukan karena saya sok eksklusif atau apa, saya punya alasan kok.

Pertama, saya orangnya nggak jago nawar. Entah kenapa, saya lebih suka membeli barang dengan harga pas. Membeli barang dengan proses tawar menawar selalu menimbulkan kesan ‘ketipu’ dalam benak saya. Saya orangnya nggak terlalu update dengan harga-harga barang, makanya saya nggak tahu harga yang murah atau mahal itu seberapa. Oleh sebab itulah, saya lebih suka membeli barang dengan harga pas.

Kedua, tempatnya panas bukan main. Semua orang harusnya udah tahu, Semarang adalah kota yang panas. Belanja di pasar bukanlah pilihan yang baik. Apalagi tempatnya juga agak kumuh, bikin saya tambah males buat belanja barang di sana.

Tapi, hari itu saya merasa ada hal lain yang saya lihat dari Pasar Johar. Sebuah wajah Kota Semarang yang sebenarnya.

Saya melihat bagaimana sibuknya orang-orang di area teknik pasar. Tempat di mana banyak toko teknik berjajar dengan rapi yang kebanyakan dimiliki oleh etnis Tionghoa.

Saya melihat bagaimana seorang pegawai toko yang nggak tahu apa-apa ‘bekerja,’ bagaimana sebuah keluarga yang terdiri dari enam orang berjejalan dengan mobil pick up sambil membawa barang dagangan, bagaimana dua cewek yang motornya jatuh di perempatan bangjo tapi malah ketawa-tawa, dan bagaimana seorang tukang parkir yang nggak tahu ngasih aba-aba yang jelas tapi tetep minta seribu.

Semua itu saya lihat di Pasar Johar, dengan terik matahari yang membakar kepala, dan jalanan yang tergenang air kotor karena hujan deras semalam.

Semua itu, adalah wajah Kota Semarang sebenarnya, yang selama ini nggak saya sadari.

Selama ini saya melihat Semarang dari mereka-mereka yang gemar ke mall, ( taulah ya, Paragon, Java Mall, Citra Land) yang suka bawa smartphone di tangan kanan, dan gelas starbuck di tangan kiri. Dari mereka yang sering siaran di radio. Dari mereka yang sering saya temui di kampus. Dan dari mereka yang nggak perlu bekerja untuk makan besok.

Banyak sudut dari Kota Semarang ini yang belum saya ketahui. Yang diperlihatkan oleh orang Semarang yang sebenarnya.

Seperti misalnya, saya baru tahu kalau di dekat stadion Diponegoro ada sebuah toko kimia bernama Indrasari, yang kalau membeli sistemnya kaya ngantri di dokter. Jadi kita pesen, bayar, terus nunggu dipanggil. Lucu saat pertama saya ke sana.

Bagaimana saya bisa ngaku kenal Semarang kalau toko kimia terlengkap di Kota ini saja saya nggak tahu?

Atau juga, saya baru tahu beberapa waktu belakangan ini, karena ada temen nitip oleh-oleh, kalau ada pusat jajanan duren di Semarang. Di food court Manggala, jalan Gajahmada.

Bagaimana bisa saya tidak tahu ada ‘surga’ seperti ini?

Atau juga misalnya, di mana kita bisa membeli buku. Oke, lupakan dulu sejenak nama-nama toko buku yang kalian tahu. Togamas, Aksara, Kinokuniya, Periplus, Trimedia, Times, atau yang semua orang pasti tahu, Gramedia. Saya nggak lagi ngomongin semua itu.

Saya lagi ngomongin tentang toko buku bekas. Semua mahasiswa di Semarang, termasuk saya, pasti tahu lokasi Gramedia Pandanaran. Tapi nggak banyak yang tahu, kalau di Pasar Johar lantai 3 juga ada toko buku. Atau juga di dekat Stadion Diponegoro.

Atau juga sebuah toko buku kecil bernama Books di jalan dorang no. 7. Deket-deket stasiun Tawang. Nggak banyak yang tahu.

Padahal buku yang di jual di sana bagus-bagus, buku impor. Dan yang paling penting, harganya murah-murah.

Ah, ternyata saya nggak tau apa-apa soal Semarang. Kayaknya saya harus mengenal Semarang lebih dalem lagi :)))

Semoga Saja Cinta itu Bisa Dipelajari

Kita bisa membohongi siapa saja, termasuk diri kita sendiri. Beberapa orang dapat bertahan dalam waktu yang lama, hanya dengan cara terus berpura-pura. Berpura-pura bahagia, berpura-pura tidak punya masalah, berpura-pura mencintai pasangannya, seperti itu.

Ambil contoh, misalkan kamu adalah seorang pria yang menyukai wanita bernama Amelia. Tapi masalahnya, hidup tidak akan berjalan semudah itu. Karena faktanya, Amelia tidak menyukaimu. Sudah beberapa kali kamu mencoba untuk mendapatkan hati Amelia, tapi tetap saja tidak berhasil. Dalam hati, kamu berpikir: Apa yang salah, ya?

Pernah mengalami masalah seperti itu? Pastinya pernah.

Di sisi, ada seorang wanita lain yang menyukaimu apa adanya, namanya Christine. Dan sekali lagi, hidup tidak akan berjalan semudah itu. Ada juga satu masalah: kamu tidak menyukai Christine.

Kamu bingung, dan suatu hari kamu mendatangi seorang motivator, atau apalah, Mario Teguh misalnya, untuk meminta nasihat. Taruhan, pasti dia akan menyarankan sebuah kalimat yang kira-kira intinya seperti ini: tinggalkan orang yang tidak menyukaimu, dan terimalah orang yang menyukaimu apa adanya.

Dan dalam contoh di atas, adalah dengan menerima Christine.

Kita harap dengan menerima Christine, kita dapat mulai belajar untuk juga mencintai dia, dan juga melupakan Amelia.

Tapi bagaimana kalau ternyata cinta tidak bisa dipelajari? Bagaimana kalau ternyata kita, sampai akhir tetap tidak bisa melupakan Amelia?

That’s it, kebanyakan orang, saat tidak bisa hidup secara bahagia, mereka akan berusaha seminimal mungkin untuk tidak tersakiti. Tidak bahagia, tapi juga tidak tersakiti.

Beberapa orang mengambil jalan keluar dengan cara berpura-pura. Berpura-pura kalau dia sudah menemukan pasangan yang tepat, dan dapat hidup bahagia. Berpura-pura kalau Amelia, hanyalah perasaan di masa lalu. Toh yang tahu perasaan kita hanya kita sendiri, bukan orang lain.

Yah, semoga saja cinta itu bisa dipelajari.