Monthly Archives: July 2013

Review Hanya Isyarat

Image

Mungkin, hanya versi CD lagu sajalah yang membuat saya tidak menempatkan Hanya Isyarat sebagai favorit saya. Karena dalam album Rectoverso-nya Dewi Lestari itu, lagu favorit saya, sebagaimana kebanyakan orang yang mendengarnya, adalah Malaikat Juga Tahu.

Hanya Isyarat adalah kisah favorit saya baik di buku maupun  filmnya, dan mengalahkan cerita-cerita yang lain. Segmen Hanya Isyarat di Rectoverso ini, disutradarai oleh Happy Salma dan ditulis skenarionya oleh Key Mangunsong.

Mungkin ada yang belum tahu, kalau film Rectoverso ini adalah jenis film omnibus. Film yang memiliki beberapa cerita yang digabung menjadi satu. Banyak film yang sudah menggunakan ide semacam ini sebelumnya. Misalnya saja film horror Trick ‘r Treat dan Ju on. Kalau Anda penggemar film Thailand, pasti nggak asing dengan film Seven Something (iya, yang pemeran ceweknya ada yang cakepnya kebangetan itu). Nah, Rectoverso ini sama kayak Seven Something, cuma kalau di Seven Something ada 3 cerita, Rectoverso punya 5. Mantep, kan?

Ide ceritanya pun sangat bagus. Tentang cinta platonis, tentang cinta yang nggak berbalas, tentang cinta yang hanya bisa dinikmati sebatas punggung. Sebuah pengalaman yang saya yakin hampir semua orang pernah mengalaminya. Tapi bukannya ide sederhana ini menjadi terkesan klise dan pasaran, penulis dan sutradara malah membuktikan yang sebaliknya.

Semua adegan dan dialog berjalan begitu manis. Membuat penggemar cerpennya, seperti saya, tidak kecewa dengan garapan filmnya.

Karakter Al, yang diperankan Amanda Soekasah, benar-benar menjadi faktor tambahan kenapa saya menyukai segmen ini. Cara bicaranya yang terkesan canggung, dan warna suaranya yang unik, benar-benar pas untuk karakter Al. Ekspektasi saya soal karakter ini saat membaca cerpennya, berhasil dia terjemahkan dengan baik dalam bentuk peran.

Kekurangan yang dimiliki Hanya Isyarat mungkin adalah pemilihan set-nya. Mengambil latar café di pinggir pantai, menurut saya adalah ide yang manis, tapi agak sedikit maksa. Set-nya sih memang indah saat direkam kamera, tapi dari sisi kewajaran ada yang terasa kurang. Dan kadang malah menimbulkan pertanyaan di benak penonton. Misalnya saja: kenapa hanya ada satu café ini di pantai? Apa pemiliknya anak bupati setempat, jadi dia punya hak eksklusif untuk membuat café di sini? Hehe. Iya, itu pemikiran aneh.

Lalu soal cerpennya sendiri, ini adalah penggalan favorit saya:

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan.
Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.”

Advertisements

Jatuh Cinta Itu Tidak Butuh Alasan

Dan aku sama sekali nggak percaya hal itu. Everything happens for a reason.

Sebelumnya, mari kita perjelas dulu konteks permasalahannya biar nggak terjadi salah paham. Jadi, proses mulai jatuh cintanya mungkin bisa saja terjadi tanpa alasan. Tapi, mempertahankan untuk tetap cinta atau melewatkan begitu saja, itulah yang menurutku harus butuh alasan.

Semua hal yang terjadi di dunia ini, harus memiliki alasan. Seperti saat kita makan karena merasa lapar, menangis karena merasa sedih, dan tidur karena mengantuk. Begitu juga dengan jatuh cinta. Kita seharusnya punya alasan untuk jatuh cinta.

Bayangkan kalau saja ada hal-hal yang boleh kita lakukan tanpa memerlukan alasan. Kamu sedang jalan sendirian, kemudian tiba-tiba ada ibu tukang sayur lewat dan mencium keningmu. Saat kamu nanya, “Apa-apaan, sih?” ibu itu menjawab pelan sambil meletakkan telunjuknya di bibirmu, “Ssstt…. Beberapa hal di dunia ini, terjadi tanpa alasan, Nak.” Lalu kemudian, ibu itu pun berlalu.

Oke, itu emang contoh yang aneh.

Ada dua sebab kenapa orang suka bilang kalau cinta itu nggak butuh alasan. Pertama, karena memang dia males mendefinisikan alasannya. Kedua, karena dia pengen kelihatan tulus.

Aku juga heran, bagaimana bisa ada sebuah kalimat opini yang menjadi sangat ikonik dan diterima masyarakat, sampai seakan-akan itu adalah fakta yang sebenarnya. Salahkan semua film, lagu dan novel yang sering kamu lihat yang memuat kutipan ini.

Semua hal tadi akan memberi gambaran ke kamu kalau jatuh cinta tanpa alasan itu, adalah hal yang indah. Padahal sebenarnya, jatuh cinta tanpa alasan itu justru lebih mengarah ke tindakan yang ceroboh. Bagaimana bisa kita punya alasan untuk hal-hal seperti makan, menangis dan tidur, sedangkan untuk hal yang sepenting jatuh cinta, malah kita tidak punya?

Banyak pasangan yang tiba-tiba memutuskan hubungan mereka begitu saja pada suatu hari. Ironisnya, banyak dari mereka yang tidak tahu, apa yang salah saat hubungan mereka dengan kekasih berakhir. Sepertinya semua masih terasa baik-baik saja. Tapi, kenapa harus berakhir?

Padahal, jawaban dari pertanyaan itu sederhana sekali: mereka sudah tidak punya alasan untuk tetap mempertahankan hubungan itu.

Menerima kenyataan bahwa jatuh cinta itu bisa terjadi tanpa alasan, berpotensi membuat kita tidak bisa berpikir jernih saat cinta kita bertepuk sebelah tangan, dan terus-terusan mengejar orang yang jelas-jelas tidak menyukai kita itu. Di dunia ini, sebenarnya tidak ada yang namanya orang yang nggak laku. Yang ada hanya orang yang terlalu sibuk mengejar orang yang tidak menyukai dia, dan melewatkan orang yang sebenarnya menyukai dia apa adanya.

Banyak orang yang sebenarnya tidak punya anything in common, mencoba memulai hubungan dengan men-common-common-kan hal yang sebenarnya tidak common agar menjadi common. (Hehe, rumit ya kalimatnya? )Kenapa? Sekali lagi, karena mereka tidak punya alasan untuk jatuh cinta.

Itulah, kenapa memiliki alasan saat kamu jatuh cinta itu penting.

Lalu sekarang pertanyaannya, apa alasan terbaik yang bisa kita pakai untuk jatuh cinta pada seseorang?

Apa karena dia cakep? Karena dia kaya? Atau karena dia pintar?

Ambil contoh kamu lagi suka sama seseorang yang cakep banget. Semua orang menyukai dia. Bahkan waktu ke Arab Saudi, dia sampai dideportasi pemerintahnya karena saking cakepnya.

Atau, bisa juga kamu lagi suka sama seorang pengusaha kaya. Dia punya banyak uang, mobil, dan rumahnya gede banget. Saking gedenya, kalau dia habis bangun pagi mau ke toilet, dia harus ngojek dulu dan bayar lima belas ribu. Itu pun waktu nyampe toilet juga udah magrib. Kaya banget pokoknya.

Atau juga, kamu lagi suka sama seorang profesor muda yang jenius. IQ-nya 200. Saking jeniusnya, dia bisa ngambil dompet penumpang di mikrolet tanpa ketahuan pemiliknya. (Lhah? Kalau ini mah bukan jenius, copet namanya).

Bisa memiliki kekasih seperti itu, pasti menyenangkan sekali, ya?

Tapi tunggu dulu, hidup biasanya tidak akan berjalan dengan semulus itu.

Bagaimana kalau ternyata si cakep yang kamu sukai tadi, suatu hari ketabrak gerobak cimol dan mukanya keseret di aspal sejauh lima ratus meter? Kemudian mukanya jadi rusak dan nggak cakep lagi.

Atau bagaimana kalau pengusaha kaya yang kamu sukai tadi, suatu hari lupa matiin obat nyamuk bakar di kamarnya (betewe, orang kaya mana yang di kamarnya masih pake obat nyamuk bakar, yak?) dan menyebabkan rumahnya kebakaran dan semua hartanya lenyap?

Atau juga, bagaimana kalau profesor muda jenius tadi, suatu hari kepleset sabun waktu mau buang air di toilet umum Stasiun Gambir, kemudian kepalanya kebentur bak mandi, otaknya kegeser dikit, dan IQ-nya turun 150 poin?

Masihkah kamu akan tetap menyukai dia?

Standing ovation kalau kamu masih mau menyukai dia. Tapi, kalau alasan kamu mencintai dia itu karena cakep, kaya atau pun pinter, tentu kamu akan mulai berpikir untuk meninggalkan dia. Wajar saja, kok.

Inilah bagian tersulit dari mendefinisikan alasan kenapa kita jatuh cinta. Alasan itu tidak boleh hilang karena hal-hal sepele seperti tadi. Alasan itu harus benar-benar kuat. Alasan itu, harus lebih dalam dari hanya sekedar tampilan fisik seperti cakep, kaya atau pun pinter.

Berikut ada beberapa alternatif alasan lain.

Bagaimana kalau kita seharusnya jatuh cinta pada orang yang selalu dapat membuat kita tersenyum? Pada orang yang genggaman tangannya selalu membuat kita merasa nyaman. Pada orang yang selalu menjadi pendengar yang baik, yang mau mendengarkan walaupun cerita kita membosankan. Pada orang, yang harus selalu ada, saat kita benar-benar membutuhkan dia.

Alasan-alasan ini lebih masuk akal dari pada tampilan fisik tadi. Cuma, lebih kedengeran agak klise nggak, sih?

Biar saja. Bukankah jatuh cinta itu sendiri adalah konsep paling klise favorit kita sepanjang masa?

Tentu saja menyenangkan memiliki pasangan seperti itu. Dia akan selalu ada untuk kamu, selalu bisa menghibur saat kamu sedih, mendengarkan segala keluh kesah yang kamu miliki, dan selalu dapat membuat kamu merasa nyaman saat berada di samping dia.

Tapi sekali lagi, tunggu dulu, hidup biasanya tidak akan berjalan semulus itu.

Bagaimana kalau pada suatu hari orang itu tidak dapat membuat kita tersenyum lagi? Genggaman tangannya sudah tidak terasa nyaman lagi? Bagaimana kalau dia menjadi lebih sibuk dan tidak pernah lagi sempat untuk mendengarkan kita bercerita? Dan dia, sudah mulai tidak bisa untuk selalu ada saat kita benar-benar membutuhkan dia?

Jadi gini. Seharusnya, kamu tidak boleh menuntut dia untuk menjadi sesempurna itu. Kamu cukup mensyaratkan pada dia, bahwa dia harus mencintai kamu sebagaimana kamu mencintai dia.

Cukup adil, kan?

Dengan begitu, dia juga tidak akan mensyaratkan padamu untuk selalu membuat dia tersenyum. Untuk selalu membuat dia merasa nyaman. Dan untuk selalu ada, saat dia benar-benar membutuhkanmua.

Kenapa? Karena kita semua hanyalah manusia, yang hidup di dunia nyata. Bukan yang hidup di skenario film Korea. Mustahil kita akan selalu bisa sempurna seperti itu. Akui saja, berusaha untuk selalu ada untuknya itu memang tidak mudah. Jadi, kamu juga jangan menuntut dia untuk selalu ada untukmu.

Tapi, walaupun dia tidak menuntutmu untuk melakukan hal-hal tadi, dia masih bisa tetap menemanimu, saat kamu terjatuh. Dia masih tetap bisa menemanimu, saat kamu terluka. Sehingga saat kamu terjatuh dan terluka, kamu nggak akan merasakannya sendirian.

Hidup tidak akan selalu memberikan kebahagiaan untukmu. Kadang-kadang, hidup juga akan memberikan rasa sedih sebagai variasi yang harus kamu rasakan.

Dan jatuh cinta, bukan hanya tentang bagaimana kalian saling berbagi kebahagiaan. Tapi juga tentang bagaimana dia, tidak akan membiarkan kamu sendirian saat merasakan kesedihan.

Jadi, jangan pernah lagi jatuh cinta pada seseorang, tanpa alasan yang jelas. Jatuh cintalah pada seseorang, yang tidak pernah menuntutmu untuk menjadi sempurna di depannya. Jatuh cintalah pada seseorang, yang bersedia untuk jatuh dan terluka bersamamu.

Seperti itulah seharusnya alasannya.

***

Catatan: Tulisan ini sebenernya mau dijadiin satu bab di buku, tapi karena tak pikir-pikir jelek, gak jadi deh. makanya aku copas ke sini aja. haha, maaf ya blognya isinya malah copasan tulisan gagal.