Review Hanya Isyarat

Image

Mungkin, hanya versi CD lagu sajalah yang membuat saya tidak menempatkan Hanya Isyarat sebagai favorit saya. Karena dalam album Rectoverso-nya Dewi Lestari itu, lagu favorit saya, sebagaimana kebanyakan orang yang mendengarnya, adalah Malaikat Juga Tahu.

Hanya Isyarat adalah kisah favorit saya baik di buku maupun  filmnya, dan mengalahkan cerita-cerita yang lain. Segmen Hanya Isyarat di Rectoverso ini, disutradarai oleh Happy Salma dan ditulis skenarionya oleh Key Mangunsong.

Mungkin ada yang belum tahu, kalau film Rectoverso ini adalah jenis film omnibus. Film yang memiliki beberapa cerita yang digabung menjadi satu. Banyak film yang sudah menggunakan ide semacam ini sebelumnya. Misalnya saja film horror Trick ‘r Treat dan Ju on. Kalau Anda penggemar film Thailand, pasti nggak asing dengan film Seven Something (iya, yang pemeran ceweknya ada yang cakepnya kebangetan itu). Nah, Rectoverso ini sama kayak Seven Something, cuma kalau di Seven Something ada 3 cerita, Rectoverso punya 5. Mantep, kan?

Ide ceritanya pun sangat bagus. Tentang cinta platonis, tentang cinta yang nggak berbalas, tentang cinta yang hanya bisa dinikmati sebatas punggung. Sebuah pengalaman yang saya yakin hampir semua orang pernah mengalaminya. Tapi bukannya ide sederhana ini menjadi terkesan klise dan pasaran, penulis dan sutradara malah membuktikan yang sebaliknya.

Semua adegan dan dialog berjalan begitu manis. Membuat penggemar cerpennya, seperti saya, tidak kecewa dengan garapan filmnya.

Karakter Al, yang diperankan Amanda Soekasah, benar-benar menjadi faktor tambahan kenapa saya menyukai segmen ini. Cara bicaranya yang terkesan canggung, dan warna suaranya yang unik, benar-benar pas untuk karakter Al. Ekspektasi saya soal karakter ini saat membaca cerpennya, berhasil dia terjemahkan dengan baik dalam bentuk peran.

Kekurangan yang dimiliki Hanya Isyarat mungkin adalah pemilihan set-nya. Mengambil latar café di pinggir pantai, menurut saya adalah ide yang manis, tapi agak sedikit maksa. Set-nya sih memang indah saat direkam kamera, tapi dari sisi kewajaran ada yang terasa kurang. Dan kadang malah menimbulkan pertanyaan di benak penonton. Misalnya saja: kenapa hanya ada satu café ini di pantai? Apa pemiliknya anak bupati setempat, jadi dia punya hak eksklusif untuk membuat café di sini? Hehe. Iya, itu pemikiran aneh.

Lalu soal cerpennya sendiri, ini adalah penggalan favorit saya:

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar.
Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan.
Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s