BARONGAN PENYANGKRINGAN

Everything in life is luck. (Donald Trump)

Face your fears and doubts, and new worlds will open to you. (Robert Kiyosaki)

It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently. (Warren Buffett)

Sebelum membaca postingan ini, apakah Anda bisa menemukan persamaan dari ketiga quote di atas?

Kalau Anda merasa tidak ada persamaannya, nggak apa-apa. Saya juga ngambil ketiga quote itu secara random dari internet, kok. Hehe.

Quote yang pertama berisi tentang pandangan hidup. Yang kedua pelajaran tentang keyakinan diri. Sedangkan yang terakhir tentang pentingnya reputasi seseorang.

Tapi bukan point itu yang coba saya ingin capai. Saya ingin Anda memperhatikan siapa yang pernah mengucapkan quote tersebut, kemudian cari persamaanya. Ya, mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kekayaan finansial di atas rata-rata orang kebanyakan. Persamaan lainnya, mereka semua adalah penulis buku ekonomi yang fenomenal.

Donald Trump adalah pemilik kerajaan bisnis yang masuk dalam Forbes Celebrity 100 list tahun 2011 menempati posisi 17. Robert Kiyosaki adalah penulis best seller “Rich Dad Poor Dad series,” yang dijadikan kitab suci tentang pengaturan keuangan dan investasi keluarga oleh banyak orang (terutama oleh para anggota MLM yang lagi berusaha mempengaruhi downline.) Sedangkan Warren Buffett, adalah salah satu orang yang menjadi investor paling sukses di abad 20.

Dewasa ini, ketika invisible hands-nya Adam Smith-lah yang mengatur semua kegiatan perekonomian, kadar sukses kebanyakan orang menjadi hampir seragam: punya kekayaan finansial yang banyak. Orang-orang mulai melupakan apa passion mereka, apa cita-cita mereka saat kecil, apa hal yang ingin mereka lakukan. Asalkan, dompet mereka tetap penuh.

Dalam masyarakat post industri seperti kita sekarang, muncul banyak fenomena postmodernitas, yang salah satu gejalanya adalah prinsip kesenangan dan dorongan mengkonsumsi akan menggantikan etika kerja, anti kemalasan, dan panggilan spiritual (ibadah). Maka, tentu saja, hanya ada satu solusi agar indra kita tetap terpuaskan dengan segala injeksi kesenangan tersebut: kekayaan finansial.

Saya jadi teringat apa perkataan Abraham Maslow, seorang psikolog asal Amerika. Bahwa ketika seseorang sudah dapat mengantisipasi seluruh kebutuhan materinya, maka dia akan mulai melakukan pencarian yang lebih tinggi. Sebuah aktualisasi diri.

Perkataan Abraham Maslow itu seperti sebuah wake up call bagi saya, dan saya harap Anda juga.

Kembali ke tiga kutipan tadi, apakah Anda pernah berpikir kenapa kutipan tersebut pada akhirnya menjadi terkenal dan fenomenal? Sederhana, karena mereka yang mengucapkannya adalah orang sukses (dalam definisi masyarakat sekarang). Mereka semua telah mampu memenuhi kebutuhan materi mereka.

Bayangkan jika tetangga Anda yang gondrong, dekil, dan suka main gitar di poskampling-lah yang mengatakan “Everything in life is luck,” pasti perkataan itu akan akan Anda tentang habis-habisan, atau bahkan, tidak menjadi terlalu penting untuk dibicarakan, atau dikenang.

Kemarin, saya baru pulang setelah mengikuti program KKN yang menjadi salah satu mata kuliah yang wajib saya ikuti. Saya ditempatkan di sebuah desa bernama Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.

Saya termasuk jenis mahasiswa yang kurang tertarik dengan kegiatan semacam ini. Alasannya jelas: saya pemalas. Sampai-sampai ada beberapa teman sekelompok saya memanggil saya “si babi” karena sering tidur saat kegiatan lagi banyak-banyaknya. Hahaha.

Hari itu sedang ada expo, semacam pensi untuk warga desa. Dan desa saya menampilkan kesenian barongan anak-anak. Kesenian semacam ondel-ondel yang dipadukan dengan barongsai dan reog, kemudian diiringi dengan musik tradisional gamelan jawa.

Pemilik barongan itu bernama Pak Markoyo. Salah seorang warga yang tinggal di dekat posko KKN saya. Semuanya berjalan biasa saja, bahkan saya sendiri tidak melihat pertunjukannya karena saya bangun kesiangan dan ketinggalan acara.

Salah satu hal yang saya kagumi, adalah saat beliau berkata pada saya suatu ketika, “Kalau saya ya, Mas, kayak gini ini yang penting bisa jalan terus. Tetep lestari. Nggak perlu mikir bisa dapet duit apa nggak dari sini.”

Mendengar kalimat itu, pikiran saya seperti tersentak. Pak Markoyo benar-benar adalah seorang rebel. Beliau menentang sebuah struktur yang sudah lama ditasbihkan oleh kebanyakan orang sebagai satu-satunya jalan untuk HIDUP “normal” di jaman sekarang.

Ketika para lulusan Perguruan Tinggi kebingungan cari kerja, melamar sana-sini untuk mendapat pekerjaan dan penghasilan layak, Pak Markoyo justru melakukan yang sebaliknya. Beliau mengerjakan sesuatu yang memuaskan hatinya. Tanpa pernah mengkhawatirkan sedikitpun perihal materi dari apa yang sudah dia kerjakan.

Saya ingat, perkataan apa yang keluar dari mulut saya ketika teman saya mempertontonkan video barongan itu ketika latihan. Saya bilang, “Kok cuma geleng-geleng sama joget gak jelas begini? Malah mirip ritual sekte hitam.”

Tapi kemudian, saya menyadari bahwa apa yang saya katakan salah. “Geleng-geleng dan joget gak jelas yang mirip ritual sekte hitam” itu, bukan sekedar joget gak jelas biasa. Dalam joget itu ada harapan, kerja keras, dan passion yang dilakukan oleh seseorang, bahkan tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan apapun, selain “Geleng-geleng dan joget gak jelas yang mirip ritual sekte hitam” tetap akan selalu ADA.

Saat saya datang ke rumahnya, peralatan barongan yang beliau miliki hanya teronggok begitu saja di depan rumah. Menjadi semacam pertanda yang memberitahu, bahwa peralatan tersebut sudah lama tidak terpakai.

Jika kita tetap berpegangan pada perkataan Abraham Maslow tadi, tentunya Pak Markoyo adalah orang dengan kasus spesial. Rumah beliau sangat sederhana, dan lantai terasnya masih berupa tanah.

Kemungkinannya sekarang ada dua: Pak Markoyo bisa men-skip tahapan pemenuhan materi dan langsung mengaktualisasi diri, atau mungkin saja, Pak Markoyo sudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki.

Sebenarnya ada dua barongan yang tampil di expo itu. Selain rombongan barongan anak-anak binaan Pak Markoyo, juga ada barongan orang dewasa yang tampil belakangan. Tapi, kebanyakan orang di sana mengatakan bahwa penampilan barongan anak-anak lebih menarik. Lebih lucu. Lebih atraktif. Lebih BAIK.

Saya juga tidak tahu kenapa. Saya tidak bisa menilai apa definisi “menarik” dari kesenian semacam ini.

Kemudian, saat acara perpisahan mahasiswa KKN diselenggarakan di Balai Desa, Pak Lurah mengatakan bahwa baru kali itu, beliau melihat barongan Pak Markoyo tampil. Dan itu membuat beliau merasa senang sekaligus bangga. Beliau juga berkata bahwa barongan itu akan dipentaskan dalam acara 17an nanti, bersamaan dengan seluruh potensi desa yang lain.

Lalu kemudian, karena saya duduk di sampingnya, saya mendengar apa yang dikatakan Pak Markoyo setelah itu. Hanya dua kata, “Siap, Pak.”

Dua kata yang berarti dia puas barongannya bisa dipastikan tampil lagi. Dua kata yang berarti bahwa usahanya tidak pernah sia-sia. Dua kata yang menjadi tanda bahwa barongannya belum hilang. Dua kata yang dilanjutkan oleh sebuah senyuman lebar di wajahnya.

Dalam rasa malas yang saya alami selama KKN, setidaknya ada satu hal yang bisa selalu saya pelajari, bahwa sukses adalah saat kita bisa memuaskan diri kita dalam definisi sukses kita sendiri. Bukan definisi masyarakat yang sering kali tidak sesuai dengan hati, tapi tetap saja kita paksa untuk sesuaikan.

Lagipula, “Nggak perlu mikir bisa dapet duit apa nggak dari sini.” Menurut saya adalah quote yang keren. Lebih keren dari apa yang dikatakan Donald Trump, Robert Kiyosaki dan Warren Buffett.

Image

Batik putih Pak Lurah, batik hijau Pak Markoyo.

Ps: Sebenarnya pengen ngupload videonya sih, tapi berhubung belum paketan, besok aja ya, ini aja pake tathering hape lemot banget.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s