Monthly Archives: March 2014

Tentang Keimanan

Bagi saya, keimanan adalah hal yang mengagumkan. Bagaimana bisa percaya sepenuh hati tentang hal-hal yang bahkan belum pernah kita lihat atau alami?

Salah satu pertanyaan terbesar sepanjang sejarah umat manusia adalah: apakah tujuan kita hidup?

Sebuah pertanyaan yang pasti pernah menggenang di setiap hati kita. Sebuah pertanyaan, yang sama tuanya dengan usia peradaban manusia sejak memiliki kemampuan berpikir. Sebuah pertanyaan, yang sampai sekarang tidak pernah memunculkan kata sepakat yang memuaskan semua orang.

Saya jadi ingat kalau saya pernah membaca esay Mark T Conard berjudul God, Suicide, and The Meaning of Life, yang isinya membedah film-film Woody Allen, dan mencari apa opini Allen tentang makna hidup.

Sedikit tentang Woody Allen, dia adalah salah satu sutradara favorit saya dengan genre komedi. Kekuatan film-filmnya ada pada script, bukan seperti kebanyakan film-film blockbuster jaman sekarang yang hanya membuat kita kecanduan CGI. Woody Allen adalah seorang ateis. Dia sering menggunakan nilai dan pendapat pribadinya dalam berkarya. Tetap dengan menggunakan gaya komedi, tentu saja.

Salah satunya bisa kita lihat dalam kutipan dialog film Hannah and Her Sisters, berikut ini:

Mickey  : Do you realize what a thread we’re hanging by?

Gail        : Mickey, you’re off the hook, you should be celebrating.

Mickey  : Can you understand how meaningless everything is? Everything, I’m taking about –our lives, the show, the whole world- meaningless.

Mickey Sachs dalam film itu diceritakan sebagai seorang hipokondria. Seseorang yang selalu merasakan khawatir berlebihan akan penyakit. Saat telinganya sering berdengung, dia memutuskan ke dokter untuk check up. Dia begitu kaget ketika dokter menyuruhnya melakukan scan otak hari berikutnya.

Malamnya, Mickey tidak bisa tidur. Khawatir kalau bisa saja dia punya tumor otak. Keesokan harinya, tenrnyata check up justru memberikan hasil yang sebaliknya. Tidak ada yang salah pada dirinya. Mickey berlari senang ke luar rumah sakit. Namun beberapa meter kemudian, dia berhenti, dan merenung.

Dia merenungkan bahwa hasil itu, tidak akan membuat segalanya berubah. Dia masih tidak aman. Dia tetap akan mati. Walaupun tidak sekarang. Dia sadar, bahwa apa pun yang dia miliki, apa pun yang dia lakukan, semua meaningless. Tidak ada artinya.

Kita semua tentu pernah memikirkan apa yang Mickey pikirkan. Sejenak kita berhenti tertawa, berhenti memikirkan uang, tugas kuliah, karir atau pun jabatan. Semua itu tidak akan selalu kita bawa. Karena kita, suatu saat nanti akan meninggal.

Bagi seorang ateis. TIADA berarti benar-benar tidak ada. Hilang. Lenyap. Tidak ada akhirat. Tidak ada reinkarnasi. Tidak ada roh yang akan terus hidup. Secara dialektika, ADA secara otomatis akan memunculkan TIADA. Karena kita sekarang ADA, maka suatu saat nanti kita akan TIDAK ADA. Ketiadaan adalah sebuah konsekuensi dari eksistensi.

Sudah sejak lama para filsuf berusaha mencari makna dari kehidupan. Tentu saja, kita mengenal dua pertentangan yang hampir tidak bisa direkonsiliasikan lagi dalam dunia filsafat: materialisme dan idealisme.

Materialisme (Democritus, Karl marx, Jean-Paul Sartre, misalnya) adalah aliran filsafat yang meyakini bahwa kehidupan bermula dari matter (benda). Eksistensi ada sebelum esensi. Misalnya, pikiran dan kesadaran manusia ada sebelum manusia itu sendiri tahu, apa makna di balik keberadaanya. Berbeda dengan barang-barang manufaktur, pisau misalnya, yang diciptakan dengan tujuan tertentu, manusia ada tanpa tujuan yang spesifik. Maka, manusia sendirilah yang harus menentukan apa makna dan tujuannya hidup. Materialisme tidak mengenal adanya kekuatan ide dalam kehidupan.

Sedangkan idealisme, (Plato, Hegel, misalnya) sebaliknya. Bahwa kehidupan bermula dari ide. Ada ide dan tujuan tertentu sebelum proses penciptaan terjadi. Esensi ada sebelum eksistensi. Analoginya, ketika manusia membutuhkan alat pemotong, maka manusia membuat pisau. Konsep dan tujuan pisau ada sebelum pisau tersebut ada. Begitu juga manusia. Konsep dan tujuan manusia ada, sebelum manusia ada. Konsep dan tujuan itulah yang disebut sebagai ide.

Selama 2500 tahun sejarah filsafat pula, pertanyaan tentang makna hidup ini tidak pernah menemukan titik temu. Banyak pendapat baru bermunculan. Banyak pula kritik baru yang menghadang. Semua karena para filsuf memiliki persepsi dan cara sendiri-sendiri dalam mendefinisikan kehidupan.

Suatu hari ada, seorang teman yang berkata pada saya, “Kita menjadi muslim bukan karena kita pengen jadi Muslim. Tapi karena keluarga dan lingkungan kita yang nyuruh begitu.”

Pernyataan teman saya itu, membuat saya berpikir. Benar juga ya, saya juga pernah memikirkan itu. Bagaimana kalau saya tidak terlahir di sini? Bagaimana kalau saya lahir di keluarga Eropa, atau Jepang, misalnya? Akankah saya akan menjadi muslim seperti sekarang? Atau kalau tidak, apakah saya juga akan membela Islam seperti sekarang?

Misal kita sejak lahir hidup di sebuah pulau dengan seorang lawan jenis. Lalu saat beranjak dewasa, kita mulai menyukai dia. Begitu juga dengan agama. Seringkali kita menjadi muslim, bukan karena kita memilih Islam. Tapi karena hanya Islamlah yang kita kenal.

Iman kita, tentu saja berbeda dengan iman para nabi. Nabi pernah bertemu Tuhan. Kita tidak pernah. Nabi yakin karena TAHU. Sedangkan kita, hanya bisa sekedar yakin.

Para ahli sosiologi agama, yang kebanyakan ateis, banyak yang menyatakan bahwa agama adalah salah satu bentuk ekspresi dari kebudayaan. Makanya, sering kita melihat agama akan identik dengan wilayah tertentu. Islam dengan Timur Tengah. Kekristenan dengan Eropa. Atau agama-agama Dharma (Shintoisme, dan Konfusionisme, misalnya) dengan Asia timur. Kita boleh saja mengklaim agama pribadi kita sebagai agama untuk seluruh umat manusia, tapi faktanya, memang pasti akan ada tempat-tempat tertentu yang sangat susah untuk menerimanya.

Bagi mereka, peperangan karena isu agama adalah hal yang tidak masuk akal. Seperti dua anak kecil yang berkelahi karena membela teman khayalannya. Saya pun berpikir hal itu juga tidak masuk akal, walaupun saya memiliki alasan yang berbeda. Bagi saya, agama adalah hal pribadi. Orang boleh mengejawantahkan apa pun dalam pikirannya, dan bagaimana cara memahami agama dan keyakinannya.

Bagi Anda yang selalu berpikiran agama hanyalah melulu soal larangan tidak boleh ini, perintah harus menjalankan itu, SOP untuk menjalankan hidup, maka selamanya Anda akan berada dalam debat “cara saya yang paling benar.” Debat yang saya pikir tidak akan pernah ada titik temunya.

Agama adalah ranah pribadi setiap orang. Kita boleh saja memberi alternatif pendapat kita. Tapi kita tidak berhak memutuskan apa yang ingin mereka yakini. Apalagi sampai melakukan kekerasan untuk memaksakannya.

Sudah sering kita melihat banyak orang berteriak-teriak, menentang dan menjelek-jelekkan umat lain, karena berusaha “menjilat” Tuhan versi mereka pribadi. Orang-orang yang baru memahami agama dari kulitnya, namun sudah berani mengkafirkan orang lain. Orang-orang yang seringkali hanya butuh “membuat orang lain salah”. Orang-orang yang kecanduan konflik. Orang-orang yang masih menganggap agama harus selalu dikaji secara subjektif. Buta perspektif dan self righteous. Tindakan yang seringkali harus berakhir dengan pertumpahan darah.

Sebagai contoh, pembantaian komunisme. Komunisme adalah murni sebuah ideologi politik dan ekonomi. Tidak ada unsur kepercayaan apa pun di dalamnya. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas. Sehingga dibutuhkan peran sentral negara dalam pelaksanaanya. Ketika perang dingin terjadi, pihak barat dengan Amerika sebagai pemimpinnya ingin memberantas komunisme dengan berbagai cara.

Mungkin masyarakat tidak akan mau ikut serta, misalnya propagandanya berisi “Komunis ingin mendirikan masyarakat tanpa kelas”, atau “Komunis menolak hak kepemilikan pribadi”. Tapi, saat slogan “Komunis itu tidak percaya Tuhan” yang dipakai, berbondong-bondong masyarakat bergerak. Membunuh tanpa merasa bersalah. Isu agama telah disentuh. Isu yang paling efektif dalam menggerakkan masa.

Bagi saya, ada hal yang lebih penting untuk dipahami. Bahwa agama (dan iman) bukan hanya sekedar perintah dan larangan. Agama adalah JAWABAN, dari pertanyaan 2500 tahun yang tak pernah dapat kita jawab. Bahwa di saat akal yang selalu kita bangga-banggakan di hadapan makhluk lain ini tidak bisa mencari jawaban, Tuhan memberikannya cuma-cuma. Sangat jelas. Dalam bentuk agama.

 

Advertisements

Nasionalisme, Diva Anastasia dan Paradigma Keutuhan

Image

Suatu hari, seorang teman mengatakan sebuah lelucon pada saya: Hanya ada dua hal yang bisa menyatukan rakyat Indonesia. Pertama, Sepakbola; kedua, Malaysia. Saya pikir, teman saya satu ini ada benarnya juga. Bayangkan juga bagaimana dahsyatnya persatuan kita apabila keduanya digabung: Sebuah pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia.

Beberapa hari yang lalu saya dapat broadcast bbm dari teman yang lain, isinya: di dalam pesawat Malaysia Airlines yang baru-baru ini dikabarkan hilang, ada 12 warga negara Indonesia. Mari kita doakan keduabelas WNI tersebut.

Broadcast tersebut membuat pikiran saya tercenung. Kalau ada banyak penumpang dari negara lain di pesawat tersebut, kenapa kita hanya diajak untuk mendoakan 12 WNI-nya saja. Kenapa tidak sekalian dengan yang lain? Apa karena mereka ‘Malaysia’? Negara yang seringkali kita ‘goda’ karena banyak masalah yang melibatkan mereka dan kita; wilayah, tarian, lagu, baju tradisional, dan masih banyak lagi.

Saya masih SD ketika menerima belajaran yang bernama PPKn. Banyak hal yang saya pelajari di sana, termasuk antropologi, kebudayaan, politik dan bagaimana cara berperilaku yang baik. Satu hal yang masih saya ingat dari pelajaran tersebut adalah bagaimana saya diajari untuk menghargai perbedaan. Toleransi antar umat beragama, misalnya. Kita tidak boleh menggunakan perbedaan sebagai detonator untuk meledakkan konflik.

Saya setuju, dan akan selalu ingat pelajaran itu.

Selain itu ada juga pelajaran tentang nasionalisme dan cinta kepada tanah air. Di dalamnya termasuk menghargai para pahlawan, mengikuti upacara hari senin dengan khitmat (hehe..), atau menghafal lagu-lagu nasional.

Nasionalisme, mengutip dari wikipedia, didefinisikan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggis nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Nasionalisme kembali marak diteriakkan pada masa dua perang dunia. Ketika itu negara-negara peserta perang butuh bantuan rakyat untuk kepentingan perang. Sehingga, propaganda nasionalisme diinjeksikan seintensif mungkin kepada rakyat.

Ada juga istilah lain: tribalisme (kesukuan). Yang berarti sebuah kesetiaan yang mendalam untuk sukus eseorang, kelompok etnis, atau bangsa dan penolakan orang lain. Menurut Naisbitt di Global Paradox, berbeda dengan nasionalisme, tribalisme diidentikkan dengan konotasi negatif yang mengerikan yang berkembang karena kebrutalan, perkosaa dan pembantaian, dan bentuk-bentuk lain pembersihan etnis di bekas Yugoslavia.

Lalu, apa perbedaan antara nasionalisme dan tribalisme?

Tidak ada.

Keduanya sama-sama berupa suatu bentuk kesetiaan terhadap sekelompok manusia, di mana individu tersebut berada. Yang membedakan hanyalah, yang satu berupa kelompok kesukuan, sedangkan yang satu lagi berupa negara.

Nasionalisme dan tribalisme bahkan sekarang hampir tidak memiliki batasan yang jelas. Contoh konkritnya adalah: perang Korea. Korea Utara dan Korea Selatan berperang antara tahun 1950-1953 dengan di-backing oleh dua blok yang saat itu diam-diam berseteru. Blok barat dengan pemimpinnya Amerika Serikat, dan Blok Timur dengan pemimpinnya Uni Soviet. Padahal jelas-jelas kedua Korea berasal dari rumpun dan bangsa yang sama, bangsa Korea.

Salah satu buku favorit saya adalah novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh karangan Dewi “Dee” Lestari. Di dalam novel tersebut ada satu tokoh yang bernama Diva Anastasia/ Supernova/Bintang Jatuh, yang memiliki pandangan skeptis, tapi realistis, tentang negara. Misalnya, dalam beberapa kutipan dialog berikut ini:

 

Dahlan : Jadi, boleh dibilang institusi negara tinggal aksesori, maksudmu?

Diva       : Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih menganggap dirinya Grand canyon. Kapitalisme sudah menciptakan format demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama membuat transisi kedaulatan dari negara ke perusahaan transnasional. Dan jangan lupa magic spell-nya: dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara harus tetap kelihatan punya peran, di depan mata warga-warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak sadar itu. Entah sampai kapan. (Supernova halaman 55)

 

Dahlan : Kamu sendiri warga apa, Diva Darling?

Diva       : Warga semesta, yang sekedar ikut etika setempat. Negara, Bangsa, dan tetek bengeknya, sudah masuk museum dalam kamus saya. Dan terlalu naif kalau saya tidak percaya ada kehidupan lain selain dunia yang kita lihat. (Supernova halaman 56)

 

Diva       : Di mataku, negara tinggal sebuah museum tua.

Ferre      : Museum tua?

Diva       : Coba lihat di luar sana, kehidupan sesungguhnya dipegang tukang-tukang dagang. Mereka punya aneka pasar yang lebih atraktif, dinamis. Mereka cuma menyewa tempat, atau malah mereka yang disewa? Tidak Jelas lagi. (Supernova halaman 198)

 

Saya berkontemplasi, karakter Diva ini memberikan kita sudut pandang yang sama sekali baru tentang kehidupan. Selama ini kita hanya melihat dunia dengan perspektif biner. Kalau tidak hitam, ya putih. Kalau tidak benar, ya salah. Kalau tidak ada, ya berati kosong. Tidak ada ruang abu-abu yang coba untuk kita pelajari.

Padahal, pemikiran semacam ini tentu saja sangat berbahaya. Terutama saat kita memiliki perbedaan lain yang lebih rawan, selain warna mata, warna kulit, atau pun warna rambut: ide. Banyak orang yang saling membunuh karena perbedaan ide. Liberalis dan Komunis saling bermusuhan karena perbedaan ide. Dewan Direksi dan pemegang saham bersitegang dalam sebuah rapat karena perbedaan ide. Bahkan dua pasang kekasih yang kemarin saling mencintai harus berpisah karena perbedaan ide.

Semua karena satu hal tadi: pandangan biner kita tentang kehidupan. Yang berarti, saat kita merasa benar, maka yang tidak sama dengan kita, otomatis salah. Kita sering tidak mencoba memahami dulu, sebelum memutuskan untuk memusuhi sesuatu.

Lalu bagaimanakah dengan nasionalisme, satu hal yang membuat banyak negara saling berperang dan bermusuhan?

Tan Malaka dalam Madilog, mengatakan bahwa semua negara merdeka menasionalkan, merahasiakan invention (penemuan), pendapatnya, buat dipakai sendiri untuk persaingan dalam perniagaan dan perang.

Kenapa kita tidak mencoba melihat dari sisi lain, misalnya, bahwa aljabar bukan hanya penemuan besar dari bangsa Arab, tapi juga dari umat manusia? Bahwa pijakan pertama Neil Armstrong ke bulan bukan hanya berarti keberhasilan Sains Amerika Serikat saja, tapi juga semua manusia? Bahwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki bukanlah kekalahan Jepang saja, tetapi juga kekalahan kita semua?

Keutuhan, seringkali susah untuk dipahami sebagai sebuah paradigma. Tapi memang, memahaminya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan, seringkali akan membuat kehidupan menjadi jauh lebih baik.

Siang itu, saya tidak punya agenda apapun setelah kuliah. Dan di kamar kos, saya merenung. Menyatukan semua manusia dalam satu pemerintahan memang hampir tidak mungkin dilakukan. Jangankan seluruh dunia, Uni Eropa saja kesusahan saat harus memutuskankebijakan dengan cepat dan efektif. Tapi, mungkin semua akan menjadi lebih baik saat kita mulai berpikir, bahwa kita semua adalah satu, seperti koloni sel-sel yang bersatu membangun tubuh organisme. Seperti koloni-koloni manusia, yang bersatu membangun tubuh organisme dunia. Sebuah sudut pandang, yang membuat peperangan menjadi tidak masuk akal lagi.