Nasionalisme, Diva Anastasia dan Paradigma Keutuhan

Image

Suatu hari, seorang teman mengatakan sebuah lelucon pada saya: Hanya ada dua hal yang bisa menyatukan rakyat Indonesia. Pertama, Sepakbola; kedua, Malaysia. Saya pikir, teman saya satu ini ada benarnya juga. Bayangkan juga bagaimana dahsyatnya persatuan kita apabila keduanya digabung: Sebuah pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia.

Beberapa hari yang lalu saya dapat broadcast bbm dari teman yang lain, isinya: di dalam pesawat Malaysia Airlines yang baru-baru ini dikabarkan hilang, ada 12 warga negara Indonesia. Mari kita doakan keduabelas WNI tersebut.

Broadcast tersebut membuat pikiran saya tercenung. Kalau ada banyak penumpang dari negara lain di pesawat tersebut, kenapa kita hanya diajak untuk mendoakan 12 WNI-nya saja. Kenapa tidak sekalian dengan yang lain? Apa karena mereka ‘Malaysia’? Negara yang seringkali kita ‘goda’ karena banyak masalah yang melibatkan mereka dan kita; wilayah, tarian, lagu, baju tradisional, dan masih banyak lagi.

Saya masih SD ketika menerima belajaran yang bernama PPKn. Banyak hal yang saya pelajari di sana, termasuk antropologi, kebudayaan, politik dan bagaimana cara berperilaku yang baik. Satu hal yang masih saya ingat dari pelajaran tersebut adalah bagaimana saya diajari untuk menghargai perbedaan. Toleransi antar umat beragama, misalnya. Kita tidak boleh menggunakan perbedaan sebagai detonator untuk meledakkan konflik.

Saya setuju, dan akan selalu ingat pelajaran itu.

Selain itu ada juga pelajaran tentang nasionalisme dan cinta kepada tanah air. Di dalamnya termasuk menghargai para pahlawan, mengikuti upacara hari senin dengan khitmat (hehe..), atau menghafal lagu-lagu nasional.

Nasionalisme, mengutip dari wikipedia, didefinisikan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggis nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Nasionalisme kembali marak diteriakkan pada masa dua perang dunia. Ketika itu negara-negara peserta perang butuh bantuan rakyat untuk kepentingan perang. Sehingga, propaganda nasionalisme diinjeksikan seintensif mungkin kepada rakyat.

Ada juga istilah lain: tribalisme (kesukuan). Yang berarti sebuah kesetiaan yang mendalam untuk sukus eseorang, kelompok etnis, atau bangsa dan penolakan orang lain. Menurut Naisbitt di Global Paradox, berbeda dengan nasionalisme, tribalisme diidentikkan dengan konotasi negatif yang mengerikan yang berkembang karena kebrutalan, perkosaa dan pembantaian, dan bentuk-bentuk lain pembersihan etnis di bekas Yugoslavia.

Lalu, apa perbedaan antara nasionalisme dan tribalisme?

Tidak ada.

Keduanya sama-sama berupa suatu bentuk kesetiaan terhadap sekelompok manusia, di mana individu tersebut berada. Yang membedakan hanyalah, yang satu berupa kelompok kesukuan, sedangkan yang satu lagi berupa negara.

Nasionalisme dan tribalisme bahkan sekarang hampir tidak memiliki batasan yang jelas. Contoh konkritnya adalah: perang Korea. Korea Utara dan Korea Selatan berperang antara tahun 1950-1953 dengan di-backing oleh dua blok yang saat itu diam-diam berseteru. Blok barat dengan pemimpinnya Amerika Serikat, dan Blok Timur dengan pemimpinnya Uni Soviet. Padahal jelas-jelas kedua Korea berasal dari rumpun dan bangsa yang sama, bangsa Korea.

Salah satu buku favorit saya adalah novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh karangan Dewi “Dee” Lestari. Di dalam novel tersebut ada satu tokoh yang bernama Diva Anastasia/ Supernova/Bintang Jatuh, yang memiliki pandangan skeptis, tapi realistis, tentang negara. Misalnya, dalam beberapa kutipan dialog berikut ini:

 

Dahlan : Jadi, boleh dibilang institusi negara tinggal aksesori, maksudmu?

Diva       : Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih menganggap dirinya Grand canyon. Kapitalisme sudah menciptakan format demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama membuat transisi kedaulatan dari negara ke perusahaan transnasional. Dan jangan lupa magic spell-nya: dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara harus tetap kelihatan punya peran, di depan mata warga-warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak sadar itu. Entah sampai kapan. (Supernova halaman 55)

 

Dahlan : Kamu sendiri warga apa, Diva Darling?

Diva       : Warga semesta, yang sekedar ikut etika setempat. Negara, Bangsa, dan tetek bengeknya, sudah masuk museum dalam kamus saya. Dan terlalu naif kalau saya tidak percaya ada kehidupan lain selain dunia yang kita lihat. (Supernova halaman 56)

 

Diva       : Di mataku, negara tinggal sebuah museum tua.

Ferre      : Museum tua?

Diva       : Coba lihat di luar sana, kehidupan sesungguhnya dipegang tukang-tukang dagang. Mereka punya aneka pasar yang lebih atraktif, dinamis. Mereka cuma menyewa tempat, atau malah mereka yang disewa? Tidak Jelas lagi. (Supernova halaman 198)

 

Saya berkontemplasi, karakter Diva ini memberikan kita sudut pandang yang sama sekali baru tentang kehidupan. Selama ini kita hanya melihat dunia dengan perspektif biner. Kalau tidak hitam, ya putih. Kalau tidak benar, ya salah. Kalau tidak ada, ya berati kosong. Tidak ada ruang abu-abu yang coba untuk kita pelajari.

Padahal, pemikiran semacam ini tentu saja sangat berbahaya. Terutama saat kita memiliki perbedaan lain yang lebih rawan, selain warna mata, warna kulit, atau pun warna rambut: ide. Banyak orang yang saling membunuh karena perbedaan ide. Liberalis dan Komunis saling bermusuhan karena perbedaan ide. Dewan Direksi dan pemegang saham bersitegang dalam sebuah rapat karena perbedaan ide. Bahkan dua pasang kekasih yang kemarin saling mencintai harus berpisah karena perbedaan ide.

Semua karena satu hal tadi: pandangan biner kita tentang kehidupan. Yang berarti, saat kita merasa benar, maka yang tidak sama dengan kita, otomatis salah. Kita sering tidak mencoba memahami dulu, sebelum memutuskan untuk memusuhi sesuatu.

Lalu bagaimanakah dengan nasionalisme, satu hal yang membuat banyak negara saling berperang dan bermusuhan?

Tan Malaka dalam Madilog, mengatakan bahwa semua negara merdeka menasionalkan, merahasiakan invention (penemuan), pendapatnya, buat dipakai sendiri untuk persaingan dalam perniagaan dan perang.

Kenapa kita tidak mencoba melihat dari sisi lain, misalnya, bahwa aljabar bukan hanya penemuan besar dari bangsa Arab, tapi juga dari umat manusia? Bahwa pijakan pertama Neil Armstrong ke bulan bukan hanya berarti keberhasilan Sains Amerika Serikat saja, tapi juga semua manusia? Bahwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki bukanlah kekalahan Jepang saja, tetapi juga kekalahan kita semua?

Keutuhan, seringkali susah untuk dipahami sebagai sebuah paradigma. Tapi memang, memahaminya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan, seringkali akan membuat kehidupan menjadi jauh lebih baik.

Siang itu, saya tidak punya agenda apapun setelah kuliah. Dan di kamar kos, saya merenung. Menyatukan semua manusia dalam satu pemerintahan memang hampir tidak mungkin dilakukan. Jangankan seluruh dunia, Uni Eropa saja kesusahan saat harus memutuskankebijakan dengan cepat dan efektif. Tapi, mungkin semua akan menjadi lebih baik saat kita mulai berpikir, bahwa kita semua adalah satu, seperti koloni sel-sel yang bersatu membangun tubuh organisme. Seperti koloni-koloni manusia, yang bersatu membangun tubuh organisme dunia. Sebuah sudut pandang, yang membuat peperangan menjadi tidak masuk akal lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s