Monthly Archives: April 2014

Zooey Deschanel Without Bangs

Wait.. wait… Who’s this? Nooo… It’s Not her.

Advertisements

Mana yang Lebih Dulu: Ayam atau Telur?

Beberapa hari yang lalu, entah kenapa, saat duduk-duduk di ruang TV, saya iseng menanyakan pertanyaan ini kepada ibu saya.

Mungkin, pertanyaan “mana yang lebih dulu, ayam atau telur?” adalah analogi dari pertanyaan favorit filsuf: “mana yang lebih dulu, materi atau ide?”

Sebuah teka-teki lucu yang pasti akan menimbulkan perdebatan. Seorang teman pernah memberitahu bahwa jawabannya adalah dengan melihat mana yang lebih dulu diucapkan. Telur atau ayam? Telur. Ayam atau telur? Ayam.

Saya yakin bukan itu maksud pertanyaan ini.

Pertanyaan ini, adalah pertanyaan paradoks yang tidak mungkin bisa dijawab jika kita masih menggunakan cara berpikir mekanis. Ketika kita menjawab ‘ayam yang lebih dulu’ sebagai tesis, makan akan otomatis memunculkan anti tesis ‘ayam menetas dari telur’. Begitu juga sebaliknya, ketika kita menjawab ‘telur yang lebih dulu’ sebagai tesis, maka otomatis memunculkan anti tesis ‘telur keluar dari ayam.’ Tesis dan anti tesis di atas, tidak bisa disintesiskan secara dialektika biasa, karena keduanya kontradiktif. Saling bertentangan.

Membingungkan, sebab kedua jawaban bisa saja sama-sama benar, atau pun sama-sama salah.

Contoh lain dari paradoks semacam ini misalnya : Apa yang terjadi pada pinokia jika dia berkata “hidung saya akan memanjang?”

Atau contoh lain yang paling terkenal: paradoks pembohong. Berikut saya kutip dari wikipedia:

“Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong.”

Rangkaian premis berikut ini akan tiba pada dua konklusi yang bertentangan

 

  • Jika apa yang dikatakan Epimenides benar, ia bukan pembohong.
  • Jika Epimenides bukan pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
  • Jika apa yang dikatakannya tidak benar, ia pembohong.

Konklusi pertama:

  • Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang jujur.
  • Jika yang dikatakan Epimenides tidak benar, ia adalah pembohong.
  • Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
  • Jika apa yang dikatakannya tidak benar, itu berarti bahwa ia adalah orang jujur.

Konklusi kedua:

  • Jadi, ia adalah orang jujur dan bukan pembohong.

Apa yang dikatakan Epimenides sebenarnya secara serentak mengandung kebohongan dan kebenaran. Jika kebohongan, berarti ia benar-benar pembohong, dan jika kebenaran, ia adalah seorang yang jujur.

Sama seperti dilema, paradoks biasa digunakan untuk mematahkan argumentasi lawan dengan menempatkannya ke dalam situasi yang sulit dan serba salah.

 

Cara menyelesaikan pertanyaan semacam ini adalah dengan berpikir di luar sistem. Menggunakan pikiran yang berkesadaran, bukan yang hanya menuruti rangkaian logika tak berujung tadi. Kita harus menentukan jawaban, lalu kemudian mengemukakan alasan yang menunjukkan jawaban kita benar, sedangkan jawaban lain salah.

Menurut ibu saya, ayamlah yang lebih dulu. Kalau tidak ada ayam, maka tidak ada yang mengerami telur, jadi tidak akan bisa menetas. Proses penetasan telur menjadi ayam, membutuhkan kehadiran ayam lain lebih dulu. Sedangkan proses ayam mengeluarkan telur, tidak membutuhkan kehadiran telur lain lebih dulu.

Jawaban itu benar. Setidaknya menurut ibu saya.

Jawaban ibu saya mungkin sama dengan jawaban Aristoteles jika dia diberi pertanyaan ini. Menurutnya, sebab selalu ada lebih dulu dari akibat. Ayam adalah sebab, sedangkan telur adalah akibat. Ayam dapat bertahan hidup tanpa telur, tapi telur tidak dapat bertahan hidup tanpa ayam.

Kalau kita menanyakan hal ini pada Plato, maka dia akan berargumen bahwa selalu ada ide sebelum tubuh. Ide-ide ini hidup dalam dunia ide. Jadi, sebelum ada telur, ada ide sempurna tentang telur yang mendahuluinya. Sedangkan sebelum ada ayam, maka ada ide sempurna tentang ayam.

Ayam harus ada terlebih dahulu dari telur, karena dalam ide ayam, terkandung juga ide telur. Sedangkan dalam ide telur, belum tentu ada ide ayam. Bisa jadi ide telur itu berisi ide bebek, ide kakatua atau pun ide-ide yang lain.

Sedangkan saya, lebih cenderung pada jawaban telurlah yang lebih dulu. Alasan saya ada pada teori evolusi Darwin. Darwin, dalam bukunya yang termasyur, The Origin of Species by Means of Naturan Selection or the Preservation of Favoured races  in the Struggle for Life,(iya, panjang bener) atau yang biasa disingkat dengan The Origin of Life saja, mengajukan dua teori: pertama, dia menyatakan bahwa semua bentuk tanaman dan binatang diturunkan dari bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya yang lebih primitif, melalui suatu evolusi biologi. Kedua, bahwa evolusi merupakan hasil dari seleksi alam.

Menurut para ilmuan, Aves dahulu merupakan hasil evolusi dari reptil. Bukti yang paling mudah dilihat adalah keduanya berkembang biak dengan cara yang sama. Bertelur. Selain itu, ditemukan juga beberapa fosil reptil yang memiliki sayap dan mulai berbulu, walaupun diperkirakan masih belum dapat terbang.

Argumen Darwin yang pertama inilah yang membuat dia dianggap sesat oleh kalangan Gereja saat itu (dan bukan karena dia menyatakan manusia berasal dari kera, ini hanya konsekuensi dari teori pertama yang sering secara salah kaprah kita kira inilah penyebab Darwin dianggap sesat). Doktrin Bible menyatakan bahwa semua makhluk adalah sama saat pertama kali diciptakan. Tidak ada perubahan. Manusia ya bentuknya seperti ini sejak pertama diciptakan Tuhan. Macan juga sama. Pohon jengkol juga sama. Tidak ada perubahan atau evolusi dari bentuk primitif yang lebih dahulu ada.

Para pendukung teori ini, tentu kesulitan saat disuruh membuktikan teorinya, karena memang mustahil untuk merekam evolusi biologi.

Kembali ke pertanyaan tadi, jadi, saat telur pertama yang berisi ayam ada, maka mungkin saja itu berasal dari makhluk lain yang hampir menyerupai ayam (walaupun belum ayam sepenuhnya).

Ribet emang.

Lalu kenapa kita harus menelaah pemikiran Plato, Aristoteles, bahkan termasuk teori evolusi Darwin untuk menjawab teka-teki ini? Entahlah. Saya juga tidak tahu. Setidaknya kita punya alasan saat menjawab.

Ketika saya menjelaskan semua di hal atas, ibu saya hanya berkata “Oh, ya.” Sambil memencet remote TV, mencari sinetron Pashmina Aisha.

 Image

Ngapain lo pusing mikirin gue? gue aja woles.