Some Random Thoughts for Tonight

Politician’s Life

Saya sering mikir, rasanya jadi politikus itu bagaimana, ya? Okelah, pemenuhan kebutuhan materi mungkin bukan masalah lagi bagi mereka. But, are they happy?

Salah satu politikus yang paling sering muncul di TV akhir-akhir ini tentu saja adalah Jokowi. Jokowi, menurut saya adalah jenis orang yang tidak bisa kita sikapi dengan setengah-setengah. Kita hanya bisa merasa suka banget, atau benci banget. Hampir nggak ada orang merasa dia adalah politikus yang biasa saja. Bukti bahwa ketenaran tidaklah selalu menyenangkan.

Saat masih menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta, kita tahu beliau adalah media darling. Semua media berlomba-lomba meliput tentang dirinya. Sampai kemudian, PDIP mencalonkan dia menjadi presiden. Masa titik balik telah dicapai. Ada orang-orang yang masih menyukainya, sepeti dulu. Namun ada pula yang berbalik menjadi benci. Suka atau tidak suka, rasa-rasanya kita harus sepakat bahwa Jokowi adalah sebuah fenomena langka.

Kalau kita bertanya, apa alasan mereka nggak suka Jokowi, jawaban yang akan paling sering kita dapat adalah karena dia mengingkari janji membereskan Jakarta, dan kemudian maju nyapres. Saat kita membuka media, kita akan mudah sekali menemukan berita buruk tentang dia.

Teman sekampus pernah ada yang iseng mengedit foto Julia Perez yang sedang berpelukan, dan mengganti mukanya dengan muka saya. Ketika saya menjumpai foto itu jadi bulan-bulanan di sosmed, jujur saya agak malu, tapi nggak marah, karena saya tahu konteksnya memang hanya bercanda.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Jokowi. Ketika setiap kali membuka media, maka menemukan berita buruk tentang dirinya bukanlah hal yang sukar. Mulai dari isu capres boneka, SARA, antek asing, sampai komunis (plis). Saya yang ngelihat foto editan Jupe yang diganti pakai muka saya aja langsung males, apalagi Jokowi.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang beliau rasakan.

Hidup seperti itu adalah hidup yang tidak pernah saya harapkan. Kadang-kadang, saya merasa lebih nyaman menjadi tidak terlihat.

 

Dialektika

Di dunia ini, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan.

Ada perasaan takjub ketika saya mulai memahami makna dari kalimat di atas. Saya merasa menemukan benang merah di antara semua ilmu pengetahuan. Hehehe. Sok-sok’an.

Dialektika secara sederhana didefinisikan sebagai logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan. Analoginya, kita tahu bahwa kendaraan bergerak dari satu titik ke titik lain. Posisi dari kendaraan itu selalu berubah terhadap waktu. Jika kendaraan itu adalah ‘kebenaran’, maka proses perpindahan itulah yang disebut dengan dialektika.

Dialektika adalah cara berpikir yang cenderung baru, jika dibandingkan dengan ‘logika formal’ atau ‘logika diam’. Logika formal adalah cara berpikir kita sehari-hari, yang juga dikenal sebagai ‘hukum identitas’. Logika formal inilah yang menjadi dasar bagi kita untuk menyelesaikan semua persoalan matematika. Mudahnya, A sama dengan A. A tidak sama dengan non A. Satu tambah satu sama dengan dua. Tidak ada jawaban lain.

Contoh kasus, Carolus Linnaeus, pada abad 18, pernah mengembangkan sistem klasifikasi tumbuhan dan hewan.  Dia membagi semua makhluk hidup ke dalam kelas-kelas, ordo-ordo, dan family.

Sistem yang ditawarkan Linnaeus ini sangat penting, mengingat inilah sistem pertama yang mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan anatomi dan fisiologi tubuhnya. Sistem ini masih menggunakan logika formal sebagai kerangka berpikirnya.

Sampai kemudian Darwin menemukan teori evolusi, orang-orang mulai menemukan bahwa sistem Linnaeus memiliki kesalahan. Kritikan terhadap sistem klasifikasi Linnaeus semakin tajam. Darwin menemukan bahwa spesies tidak selamanya sama. Dalam rentang waktu yang lama, satu spesies dapat berubah menjadi spesies baru. Teori inilah yang disebut sebagai teori evolusi. Satu teori yang mendapat kecaman keras dari gereja saat itu, karena doktrin gereja meyakini bahwa spesies tidak pernah berubah. Spesies selalu sama semenjak pertama kali diciptakan Tuhan.

Memahami dialektika, akan membuat kita mengerti, bahwa teori yang kita yakini benar, suatu hari nanti mungkin saja dibantah dan tidak digunakan lagi.

Sekali lagi, di dunia ini, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan.

 

Belajar Agama

Belakangan ini, saya punya obsesi baru. Saya jadi suka belajar agama. Namun bukan mempelajarinya secara subjektif seperti yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Saya sedang tertarik mempelajarinya secara objektif. Memahami teori-teori yang muncul dalam ikhtiyar memahami fenomena kenapa manusia memeluk agama.

Sigmund Freud (1856-1939), seorang psikolog asal Vienna, Austria, menganalogikan pemeluk agama dengan pasien neurotis di rumah sakit jiwa. Freud adalah seorang ateis murni sepanjang hidupnya. Dia tidak menemukan alasan untuk mempercayai Tuhan, sehingga dia menganggap menjalani ritual keagamaan adalah kegiatan yang tidak bermanfaat.

Dalam bukunya Future of Illusion (1927), yang sudah saya cari-cari kemana-mana tapi nggak ketemu, Freud berpendapat bahwa agama muncul karena manusia merasa takut. Alam selalu memiliki ancaman yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Freud menganalogikannya dengan sangat baik. Ketika kecil, saat badai di malam hari, ayah kita akan datang dan menenangkan kita. Membisiki kita bahwa ‘semua akan baik-baik saja’. Bisikan yang membuat kita merasa aman dan tenang.

Bisikan’ yang sama muncul saat kita dewasa. Ketika kita mulai merasa bahwa alam sangat berbahaya. Sehingga mengikuti pengalaman masa kanak-kanak, agama memproyeksikan sosok Tuhan yang memiliki kuasa untuk melindungi kita dari segala macam ancaman itu.

Teori yang menarik.

Menarik juga untuk melihat teori dari para pemikir lain. Seperti Karl Marx yang menuduh agama adalah candu yang harus dibasmi agar tercipta revolusi proletar, atau juga Emile Durkheim yang mensubordinasikan agama hanya sebatas ‘implikasi logis’ dari terciptanya struktur masyarakat.

Oh, I’m so exciting.

 

Arjuna

Seorang kenalan pernah bilang kalau dia suka sekali nonton ketoprak. Saya jadi ingat, dulu saat kecil, saya sering menonton pertunjukkan wayang kulit bersama kakek. Suatu pengalaman mewah yang sudah jarang saya rasakan lagi sekarang.

Satu hal yang ingin saya sampaikan tentang wayang: saya tidak suka Arjuna. Terlepas dari segala glorifikasi yang saya dengar, saya tidak pernah sekalipun mengagumi tokoh wayang yang satu ini. Arjuna sering digambarkan sebagaimana protagonis dalam semua dongeng pada umumnya: ganteng, baik, selalu menang kalau berantem.

Arjuna, dalam lakon Palguna Palgunadi, diceritakan iri saat melihat kemampuan memanah Palguna. Merasa tersaingi, dia menantang Palguna untuk beradu ketangkasan memanah. Arjuna pun kalah. Ketika dia bertanya dari mana Palguna memiliki kemampuan memanah seperti ini, Palguna menjawab bahwa ia belajar otodidak, hasil dari mengamati guru Durna secara tidak langsung. Dia belajar dengan ditemani patung mirip Durna yang sengaja dia buat.

Mendengar hal ini, Arjuna lalu menuduh bahwa gurunya pilih kasih, karena tidak mengajarkan ilmu seperti yang dipelajari Palguna. Durna lalu mendatangi Palguna dan menanyakan hal itu. Palguna memberitahu bahwa kesaktian itu disebabkan karena suatu cincin sakti yang ia pakai di jarinya. Palguna adalah fans berat Durna, sehingga saat dia meminta cincin itu, Palguna merelakan jarinya dipotong karena memang cincin itu tidak bisa dilepas. Jari itu lalu dipasang di tangan Arjuna. Itulah kenapa Arjuna memiliki enam jari pada tangan kanannya.

Setelah itu, Arjuna menantang Palguna lagi, dan kali ini ia menang. Palguna gugur dalam pertempuran itu. Arjuna lalu ingin memperistri Dewi Aggraini, istri Palguna. Namun Dewi Anggraini menolak dan memilih bunuh diri karena dia hanya setia pada suaminya.

Well, setiap orang memang pernah melakukan kesalahan. Kalau kita pesan mie goreng dan dikasihnya mie rebus, mungkin itu bisa ditolerir. Tapi kalau membunuh seseorang karena iri dengan kemampuannya, lalu berusaha menikahi istrinya dan sampai mengakibatkan dia bunuh diri, itukah sifat seorang kesatria?

Saya justru menyukai tokoh Karna. Karna memiliki banyak nama, Basusena, Suryaputra, dan favorit saya: Radheya. Walaupun berada dalam lingkungan antagonis, dia benar-benar berhati mulia. Dia dibesarkan dari lingkungan rakyat jelata. Konon, dia dikisahkan selalu memberikan apa pun yang orang lain minta. Termasuk baju perangnya. Sehingga saat perang besar Bharatayuda, dia gugur di tangan Arjuna.

 

Tugas Akhir

Ah, sepertinya lebih baik tidak usah membicarakan yang satu ini.

 

Sudah cukup meracau untuk malam ini. Saatnya kembali tidur. Bye.

:))

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s