Monthly Archives: September 2014

Kalau Aku Adalah Seekor Laba-Laba, Aku Akan …

… memilih untuk tinggal di kamarmu. Sebenarnya ada banyak tempat lain yang lebih indah dan lebih luas. Tapi entahlah, aku ingin tinggal di kamarmu saja. Aku selalu ingin berada di dekatmu.

… naik ke atas lemari, dan melihat semua yang kamu lakukan di kamar sepanjang hari. Belajar, tidur, atau pun membaca novel. Aku ingin melihat semua yang kamu lakukan. Kecuali saat ganti baju. Tenang saja, aku akan selalu sembunyi di balik rak buku kalau kamu sedang ganti baju.

… duduk di jendela, setiap kali kamu sedang pergi. Menunggumu untuk pulang. Entah kamu pergi sekolah, pergi main bersama sahabatmu, atau juga pergi bersama pria yang kemarin malam kamu peluk di teras rumah. Ngomong-ngomong, pria itu bukan kekasihmu, kan?

… berjaga di luar kamarmu. Akan aku buat banyak jaring di seluruh lubang pintu dan jendelamu. Agar saat kamu tidur, tidak ada nyamuk atau serangga lain yang bisa masuk dan mengganggu. Asal kamu tahu, kamu tampak cantik saat tidur.

… berada di belakang lemari, atau sudut atap, atau juga di bawah meja. Di mana pun. Asalkan kamu tidak bisa melihatku.

Oh ya, kalau aku boleh tanya. Katanya kamu benci laba-laba, ya?

(Catatan yang dibuat waktu insomnia karena kebanyakan ngopi di suatu malam. Padahal besoknya ada ujian mata kuliah Perpindahan Panas 2. Ah, tapi sudahlah)

***

Advertisements

RUU Pilkada dan Pertentangan Kelas

“Bagiku sendiri, politik adalah barang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat dimana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.”

Sesungguhnya, apa yang ingin Soe Hok Gie sampaikan pada kalimat di atas amatlah jelas. Bahwa politik adalah sebuah sistem dimana segala macam intrik, konspirasi, skenario dan tipuan sudah menjadi wajar untuk dilakukan. Semua demi satu tujuan: mendapatkan kekuasaan.

Barangkali, apa yang Karl Marx coba sampaikan lebih dari satu setengah abad yang lalu dalam Manifesto Komunis-nya yang terkenal adalah benar. Bahwasanya sejarah masyarakat mana pun di muka bumi adalah sejarah pertentangan kelas. Si merdeka dengan si budak, kaum bangsawan dengan rakyat jelata, majikan dengan babu, tuan dan pesuruhnya, singkat kata, penindas dan tertindas. Posisi yang berhadap-hadapan ini akan selalu ada dan tidak bisa dibantah.

Satu solusi telah Marx tawarkan untuk menghentikan pertentangan itu, dan dengan segera ide itu menjadi satu ideologi paling berpengaruh pada abad ke dua puluh. Namun sayang, konsep yang begitu ‘indah’ itu harus hancur total di tahun 1990 ketika tembok Berlin hancur, dan Uni Soviet bubar. Konsep yang mungkin terlalu indah untuk dapat diwujudkan ke dalam dunia nyata.

Kita baru saja menyaksikan satu bentuk pertentangan kelas dalam bentuk baru di depan mata. Sebuah pertentangan kelas yang dibungkus dengan selaput halus bernama ‘demokrasi’. Antara Oligarki Politik dan Rakyat.

Koalisi merah putih (KMP), beberapa hari yang lalu telah berhasil menetapkan RUU Pilkada menjadi UU yang sah melalui sidang paripurna DPR. Ada banyak alasan yang mereka utarakan terkait latar belakang disahkannya RRU itu; dari mulai anggaran yang mahal, konflik sosial dan disintegrasi bangsa (masyarakat belum siap), banyaknya kepala daerah produk pemilihan umum langsung yang tersandung kasus korupsi,  hingga berbagai alasan normatif seperti sejalan dengan sila pancasila ke 4 dan lebih sesuai dengan kultur kita.

Padahal, Anda tidak perlu menjadi seorang ahli politik untuk memahami alasan yang sebenarnya: balas dendam akibat kalahnya KMP dalam kontestasi Pilpres lalu. Yang juga berarti, dengan memiliki lebih banyak kepala daerah, maka sabotase terhadap pemerintahan Jokowi-JK akan lebih mudah dilakukan.

Satu politisi PKS menyatakan bahwa ‘kemenangan’ KMP kali ini dalam meloloskan RUU Pilkada adalah sebagai kemenangan rakyat.

Bagaimana bisa rakyat menang jika haknya dalam memilih pemimpin dikebiri? Bukankah ini penghinaan besar terhadap kita sebagai pemegang kekuasaan yang sebenarnya? Tinjuan orang yang mengaku teman, memang terasa lebih menyakitkan daripada tinjuan orang yang jelas-jelas mengaku musuh.

Dagelan yang tidak kalah lucu juga ditampilkan oleh Partai Demokrat, sebagai fraksi terbesar di DPR, Partai pemenang pemilu sebelumnya.

Klimaksnya, terjadi ketika juru bicara Partai Demokrat Benny Kabur Harman, (kesamaan nama tengah tokoh satu ini dengan sikap Fraksi Partai Demokrat bagi saya adalah kebetulan yang sangat menyenangkan) mengajak seluruh anggota fraksinya untuk melakukan walk out, justru ketika opsi yang mereka ajukan, Pilkada langsung dengan 10 syarat, disetujui PDIP dan kawan-kawannya.

Mari kita tertawa bersama-sama untuk menghargai lelucon ini! Ha.. ha… ha.

Sudah? Oke, mari kita lanjutkan.

Goenawan Mohamad, dalam orasi ilmiahnya Demokrasi dan Kekecewaan, mengungkapkan adanya satu kesalahan yang utama dari sistem demokrasi. Yang luput dan tak tertangkap oleh hukum dan bahasa, yang oleh Lacan disebut sebagai le Reel (dalam versi Bahasa Inggris The Real), dan oleh Goenawan diterjemahkan sebagai ‘Sang Antah’.

Kesalahan ini terutama disebabkan oleh asumsi terhadap kemampuan ‘representasi’. Representasi ini terilusi mulai dari bahasa, bahwa suatu hal dapat ditirukan persis dalam bentuk lain, misalnya dalam kata perwakilan. Ilusi mimetik ini menganggap, semua hal, termasuk yang ada dalam dunia kehidupan, akan dapat direpresentasikan. Seakan-akan tak ada Sang Antah.

Di sinilah masalah utama demokrasi dimulai. Ketika wakil rakyat, sudah tidak lagi mewakili rakyat. Padahal, parlemen sendiri, dalam kondisi yang paling ideal sekalipun, barangkali tidak akan bisa merumuskan apa kehendak sebenarnya dari rakyat. Sang Antah telah diabaikan.

Kondisi inilah yang barangkali melatarbelakangi ribuan masa pada tanggal 17 Oktober 1953 untuk berdemo besar-besaran di jalanan Jakarta. Membawa satu tuntutan yang teramat tegas: “Bubarkan Parlemen”. Yang divisualkan juga dalam sebuah poster, “Parlemen untuk Demokrasi, bukan Demokrasi untuk Parlemen’.

Mungkin saja, inilah saat yang tepat untuk kita kembali ke jalan, bergandengan tangan, menyanyikan satu lagu dari Iwan Fals bersama-sama, dan mengeraskan suara ketika sampai pada baris ini, “Wakil rakyat, seharusnya merakyat!”

Kembali, jika kita menganalogikan politik sebagai lumpur yang kotor, sebagaimana yang Soe Hok Gie lakukan, barang tentu akan memunculkan pertanyaan selanjutnya ke dalam benak kita: Apa yang membuat orang-orang berlomba-lomba untuk menceburkan diri ke dalam lumpur itu?

Kita tidak akan pernah tahu, jika kita selalu menghindari dan menutup mata, dan selalu menganggap politik sebagai satu hal awang yang terlalu jauh dari jangkauan.

Karena mungkin saja, di dalam lumpur itu ada banyak berlian, bisa jadi? Siapa tahu. Dan sebagai pemilik lahan berlumpur tersebut, kita tentu tidak mau berlian-berlian itu dicuri, bukan?

Apakah engkau sedang tersenyum di liang kuburmu, Marx? :))

Pemantik Api

Kenapa pemantik api?

Aku pikir aku adalah cucu kesayangan Nenek –dia selalu mengatakan itu ketika bersamaku.

Nenek jarang sekali datang ke rumah. Tapi, setiap kali ia datang, akulah orang yang akan menyambutnya dengan penuh semangat. Seperti ketika natal tahun lalu, misalnya. Aku sengaja memakai sweater pemberiannya, walaupun sebenarnya sweater itu kebesaran dan agak gatal kalau dipakai. Tapi aku tidak keberatan.

Aku ingat ketika kecil dia memintaku membantunya memasak pie di dapur, dan dia bercerita banyak tentang masa mudanya dulu. Kisah-kisah yang selalu menarik perhatianku. Nenek bilang, dia merasa aku mirip dengan dirinya ketika kecil. Oh, kecuali mungkin bagian dimana aku adalah kutu buku dan sedikit payah dalam bersosialisasi. Oke, kami sebenarnya tidak benar-benar mirip, hanya saja aku masih merasa yang paling mirip jika dibandingkan Haley dan Luke.

Tapi tetap saja aku tak mengerti. Kenapa pemantik api?

Haley mendapat kalung –beserta surat wasiat yang indah tentang Nenek yang yakin betapa cantiknya Haley kelak ketika memakai kalung itu, sedangkan Luke mandapat arloji saku. Nenek selalu suka pria yang memakai arloji saku karena menurutnya itu akan membuat seorang pria terlihat lebih berwibawa. Tapi sepertinya ‘berwibawa’ dan ‘Luke’ adalah dua kata yang tidak mungkin bisa bersatu. Luke pikir, kegunaan utama dari arloji saku bukanlah sebagai penunjuk waktu, melainkan sebagai alat hipnotis. Benar-benar adik yang bodoh.

Sedangkan aku, sebagai cucu kesayangannya, yang punya paling banyak kemiripan dengan dirinya, selalu jadi yang paling bersemangat ketika dia berkunjung, hanya mendapatkan pemantik api? Oh, dan jangan lupakan surat yang isinya hanya, ‘Ini pemantik api’.

Apa, sih, maksudnya?

Maksudku, bukan karena aku tidak bersyukur atau apa, sih, tapi… ah, oke, aku mengharap lebih dari ini.

***

“Nenek terlihat bahagia di foto ini,” kataku, menutup album foto yang sudah sejak setengah jam lalu terus-terusan aku pandangi.

“Ya, saat tanggal 4 Juli,” Kakek, yang duduk tepat di sampingku, menyahut. Dia nampak santai dengan kemeja lengan pendek dan celana khakinya. Aku pikir kakek adalah orang yang mudah keluar dari kesedihan. Hari ini dia terlihat lebih baik dibanding kemarin. Kesedihan di wajahnya sudah nampak berkurang. “Hari libur kesukaan nenekmu. Waktu itu keluarga Plimptons mengadakan pesta barbeque, nenek dan aku datang agar bisa makan gratis. Lalu kemudian kami pulang dan ketiduran. Melupakan pesta kembang api di kota yang selalu nenekmu tunggu-tunggu.”

Aku terdiam. Nenek dulu pasti adalah wanita yang sangat bahagia. Dia memiliki suami dan keluarga yang begitu menyayanginya sepenuh hati. Setidaknya, dia sudah dapat beristirahat dengan tenang saat ini.

 “Oh, dia sangat marah ketika itu,” lanjutnya sembari terkekeh. “Lalu aku membuatkan pesta kembang api kecil di belakang rumah. Khusus untuk nenekmu.”

Aku tersenyum. Kadang-kadang aku tidak menyangka Kakek bisa begitu manis.

 “Kakek,” kataku, teringat sesuatu. “Aku masih tidak mengerti soal hadiah yang nenek tinggalkan untukku.”

Aku membuka lagi kotak sepatu bekas itu dan menunjukkannya pada kakek. Pemantik api dan surat itu masih ada di sana.

“Dia tidak menuliskan surat tentang itu?”

“Tidak. Hanya ‘Ini pemantik apik’. Tiga kata itu saja.”

“Kau tahu itu bisa dibuka, kan?”

“Dibuka?”

“Tentu saja, Sayang. Mungkin kertasnya tidak sengaja saling menempel karena lem.”

Cepat-cepat aku membuka kertas itu. Benar saja. Di dalamnya masih ada pesan lagi. Bagaimana aku bisa begitu bodoh sampai tidak menyadarinya?

***

Semua orang sudah berkumpul di belakang danau dekat rumah. Danau itu terlihat indah dengan refleksi bintang-bintang yang ada di permukaannya. Pemandangan yang sulit untuk ditemui kalau aku sudah pulang nanti, jadi sebaiknya aku memuaskan diri untuk menikmatinya malam ini.

Wajah mereka semua terlihat sedih. Ayah sedang berdiri di samping guci tempat abu nenek disimpan. Memberikan sambutan terakhir kepada semua orang malam itu. Walaupun gelap, tapi aku dapat melihat titik air di sudut matanya.

“Sebelum kita mengakhiri malam ini, putriku, Alex, ingin mengucapkan sesuatu kepada para hadirin,” katanya sebelum kembali duduk.

Aku berjalan pelan ke depan dengan menggenggam amplop berisi surat Nenek. Mataku terasa begitu panas, tapi aku tetap berusaha menahannya.

“Nenek dan aku punya banyak persamaan,” aku mulai bicara. “Ini mungkin tidak begitu masuk akal untuk para hadirin, tapi aku yakin, dia akan menyukainya.”

Kurogoh pemantik api itu dari saku baju. Lalu kunyalakan sumbu kembang api yang tadi sore sudah aku persiapkan. Beberapa detik kemudian, kilatan api berwarna-warni meledak di angkasa malam. Beberapa orang nampak terkaget, beberapa lagi tersenyum.

Aku mengeluarkan surat Nenek dari amplop, dan mulai membaca.

 

Ini pemantik api.

Pemantik ini dahulu adalah milik aktor favoritku: Paul Newman. Suatu hari, dia datang ke restoran dimana aku bekerja sebagai pelayan, dan secara tidak sengaja meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, dan memasukkannya ke dalam saku. Seorang pelanggan melihatku dan berkata, ‘Jangan khawatir, rahasiamu aman bersamaku.”

Pelanggan itu, yang kelak menjadi satu-satunya cinta dalam hidupku, adalah kakekmu.

Jadi, Alex-ku sayang, yang mungkin terlalu mirip dengan diriku dalam segala hal, sesekali dalam hidupmu, janganlah takut untuk melanggar aturan.

Kau tidak tahu apa yang akan terjadi.

 

Terima kasih, Nek. Ini hadiah yang terbaik.

***

*All characters and story are based on the last episode of Modern Family season  4.