Pemantik Api

Kenapa pemantik api?

Aku pikir aku adalah cucu kesayangan Nenek –dia selalu mengatakan itu ketika bersamaku.

Nenek jarang sekali datang ke rumah. Tapi, setiap kali ia datang, akulah orang yang akan menyambutnya dengan penuh semangat. Seperti ketika natal tahun lalu, misalnya. Aku sengaja memakai sweater pemberiannya, walaupun sebenarnya sweater itu kebesaran dan agak gatal kalau dipakai. Tapi aku tidak keberatan.

Aku ingat ketika kecil dia memintaku membantunya memasak pie di dapur, dan dia bercerita banyak tentang masa mudanya dulu. Kisah-kisah yang selalu menarik perhatianku. Nenek bilang, dia merasa aku mirip dengan dirinya ketika kecil. Oh, kecuali mungkin bagian dimana aku adalah kutu buku dan sedikit payah dalam bersosialisasi. Oke, kami sebenarnya tidak benar-benar mirip, hanya saja aku masih merasa yang paling mirip jika dibandingkan Haley dan Luke.

Tapi tetap saja aku tak mengerti. Kenapa pemantik api?

Haley mendapat kalung –beserta surat wasiat yang indah tentang Nenek yang yakin betapa cantiknya Haley kelak ketika memakai kalung itu, sedangkan Luke mandapat arloji saku. Nenek selalu suka pria yang memakai arloji saku karena menurutnya itu akan membuat seorang pria terlihat lebih berwibawa. Tapi sepertinya ‘berwibawa’ dan ‘Luke’ adalah dua kata yang tidak mungkin bisa bersatu. Luke pikir, kegunaan utama dari arloji saku bukanlah sebagai penunjuk waktu, melainkan sebagai alat hipnotis. Benar-benar adik yang bodoh.

Sedangkan aku, sebagai cucu kesayangannya, yang punya paling banyak kemiripan dengan dirinya, selalu jadi yang paling bersemangat ketika dia berkunjung, hanya mendapatkan pemantik api? Oh, dan jangan lupakan surat yang isinya hanya, ‘Ini pemantik api’.

Apa, sih, maksudnya?

Maksudku, bukan karena aku tidak bersyukur atau apa, sih, tapi… ah, oke, aku mengharap lebih dari ini.

***

“Nenek terlihat bahagia di foto ini,” kataku, menutup album foto yang sudah sejak setengah jam lalu terus-terusan aku pandangi.

“Ya, saat tanggal 4 Juli,” Kakek, yang duduk tepat di sampingku, menyahut. Dia nampak santai dengan kemeja lengan pendek dan celana khakinya. Aku pikir kakek adalah orang yang mudah keluar dari kesedihan. Hari ini dia terlihat lebih baik dibanding kemarin. Kesedihan di wajahnya sudah nampak berkurang. “Hari libur kesukaan nenekmu. Waktu itu keluarga Plimptons mengadakan pesta barbeque, nenek dan aku datang agar bisa makan gratis. Lalu kemudian kami pulang dan ketiduran. Melupakan pesta kembang api di kota yang selalu nenekmu tunggu-tunggu.”

Aku terdiam. Nenek dulu pasti adalah wanita yang sangat bahagia. Dia memiliki suami dan keluarga yang begitu menyayanginya sepenuh hati. Setidaknya, dia sudah dapat beristirahat dengan tenang saat ini.

 “Oh, dia sangat marah ketika itu,” lanjutnya sembari terkekeh. “Lalu aku membuatkan pesta kembang api kecil di belakang rumah. Khusus untuk nenekmu.”

Aku tersenyum. Kadang-kadang aku tidak menyangka Kakek bisa begitu manis.

 “Kakek,” kataku, teringat sesuatu. “Aku masih tidak mengerti soal hadiah yang nenek tinggalkan untukku.”

Aku membuka lagi kotak sepatu bekas itu dan menunjukkannya pada kakek. Pemantik api dan surat itu masih ada di sana.

“Dia tidak menuliskan surat tentang itu?”

“Tidak. Hanya ‘Ini pemantik apik’. Tiga kata itu saja.”

“Kau tahu itu bisa dibuka, kan?”

“Dibuka?”

“Tentu saja, Sayang. Mungkin kertasnya tidak sengaja saling menempel karena lem.”

Cepat-cepat aku membuka kertas itu. Benar saja. Di dalamnya masih ada pesan lagi. Bagaimana aku bisa begitu bodoh sampai tidak menyadarinya?

***

Semua orang sudah berkumpul di belakang danau dekat rumah. Danau itu terlihat indah dengan refleksi bintang-bintang yang ada di permukaannya. Pemandangan yang sulit untuk ditemui kalau aku sudah pulang nanti, jadi sebaiknya aku memuaskan diri untuk menikmatinya malam ini.

Wajah mereka semua terlihat sedih. Ayah sedang berdiri di samping guci tempat abu nenek disimpan. Memberikan sambutan terakhir kepada semua orang malam itu. Walaupun gelap, tapi aku dapat melihat titik air di sudut matanya.

“Sebelum kita mengakhiri malam ini, putriku, Alex, ingin mengucapkan sesuatu kepada para hadirin,” katanya sebelum kembali duduk.

Aku berjalan pelan ke depan dengan menggenggam amplop berisi surat Nenek. Mataku terasa begitu panas, tapi aku tetap berusaha menahannya.

“Nenek dan aku punya banyak persamaan,” aku mulai bicara. “Ini mungkin tidak begitu masuk akal untuk para hadirin, tapi aku yakin, dia akan menyukainya.”

Kurogoh pemantik api itu dari saku baju. Lalu kunyalakan sumbu kembang api yang tadi sore sudah aku persiapkan. Beberapa detik kemudian, kilatan api berwarna-warni meledak di angkasa malam. Beberapa orang nampak terkaget, beberapa lagi tersenyum.

Aku mengeluarkan surat Nenek dari amplop, dan mulai membaca.

 

Ini pemantik api.

Pemantik ini dahulu adalah milik aktor favoritku: Paul Newman. Suatu hari, dia datang ke restoran dimana aku bekerja sebagai pelayan, dan secara tidak sengaja meninggalkannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kulakukan, dan memasukkannya ke dalam saku. Seorang pelanggan melihatku dan berkata, ‘Jangan khawatir, rahasiamu aman bersamaku.”

Pelanggan itu, yang kelak menjadi satu-satunya cinta dalam hidupku, adalah kakekmu.

Jadi, Alex-ku sayang, yang mungkin terlalu mirip dengan diriku dalam segala hal, sesekali dalam hidupmu, janganlah takut untuk melanggar aturan.

Kau tidak tahu apa yang akan terjadi.

 

Terima kasih, Nek. Ini hadiah yang terbaik.

***

*All characters and story are based on the last episode of Modern Family season  4.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s