Some Random Thoughts for Tonight

Politician’s Life

Saya sering mikir, rasanya jadi politikus itu bagaimana, ya? Okelah, pemenuhan kebutuhan materi mungkin bukan masalah lagi bagi mereka. But, are they happy?

Salah satu politikus yang paling sering muncul di TV akhir-akhir ini tentu saja adalah Jokowi. Jokowi, menurut saya adalah jenis orang yang tidak bisa kita sikapi dengan setengah-setengah. Kita hanya bisa merasa suka banget, atau benci banget. Hampir nggak ada orang merasa dia adalah politikus yang biasa saja. Bukti bahwa ketenaran tidaklah selalu menyenangkan.

Saat masih menjadi walikota Solo dan gubernur Jakarta, kita tahu beliau adalah media darling. Semua media berlomba-lomba meliput tentang dirinya. Sampai kemudian, PDIP mencalonkan dia menjadi presiden. Masa titik balik telah dicapai. Ada orang-orang yang masih menyukainya, sepeti dulu. Namun ada pula yang berbalik menjadi benci. Suka atau tidak suka, rasa-rasanya kita harus sepakat bahwa Jokowi adalah sebuah fenomena langka.

Kalau kita bertanya, apa alasan mereka nggak suka Jokowi, jawaban yang akan paling sering kita dapat adalah karena dia mengingkari janji membereskan Jakarta, dan kemudian maju nyapres. Saat kita membuka media, kita akan mudah sekali menemukan berita buruk tentang dia.

Teman sekampus pernah ada yang iseng mengedit foto Julia Perez yang sedang berpelukan, dan mengganti mukanya dengan muka saya. Ketika saya menjumpai foto itu jadi bulan-bulanan di sosmed, jujur saya agak malu, tapi nggak marah, karena saya tahu konteksnya memang hanya bercanda.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Jokowi. Ketika setiap kali membuka media, maka menemukan berita buruk tentang dirinya bukanlah hal yang sukar. Mulai dari isu capres boneka, SARA, antek asing, sampai komunis (plis). Saya yang ngelihat foto editan Jupe yang diganti pakai muka saya aja langsung males, apalagi Jokowi.

Saya tidak bisa membayangkan apa yang beliau rasakan.

Hidup seperti itu adalah hidup yang tidak pernah saya harapkan. Kadang-kadang, saya merasa lebih nyaman menjadi tidak terlihat.

 

Dialektika

Di dunia ini, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan.

Ada perasaan takjub ketika saya mulai memahami makna dari kalimat di atas. Saya merasa menemukan benang merah di antara semua ilmu pengetahuan. Hehehe. Sok-sok’an.

Dialektika secara sederhana didefinisikan sebagai logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan. Analoginya, kita tahu bahwa kendaraan bergerak dari satu titik ke titik lain. Posisi dari kendaraan itu selalu berubah terhadap waktu. Jika kendaraan itu adalah ‘kebenaran’, maka proses perpindahan itulah yang disebut dengan dialektika.

Dialektika adalah cara berpikir yang cenderung baru, jika dibandingkan dengan ‘logika formal’ atau ‘logika diam’. Logika formal adalah cara berpikir kita sehari-hari, yang juga dikenal sebagai ‘hukum identitas’. Logika formal inilah yang menjadi dasar bagi kita untuk menyelesaikan semua persoalan matematika. Mudahnya, A sama dengan A. A tidak sama dengan non A. Satu tambah satu sama dengan dua. Tidak ada jawaban lain.

Contoh kasus, Carolus Linnaeus, pada abad 18, pernah mengembangkan sistem klasifikasi tumbuhan dan hewan.  Dia membagi semua makhluk hidup ke dalam kelas-kelas, ordo-ordo, dan family.

Sistem yang ditawarkan Linnaeus ini sangat penting, mengingat inilah sistem pertama yang mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan anatomi dan fisiologi tubuhnya. Sistem ini masih menggunakan logika formal sebagai kerangka berpikirnya.

Sampai kemudian Darwin menemukan teori evolusi, orang-orang mulai menemukan bahwa sistem Linnaeus memiliki kesalahan. Kritikan terhadap sistem klasifikasi Linnaeus semakin tajam. Darwin menemukan bahwa spesies tidak selamanya sama. Dalam rentang waktu yang lama, satu spesies dapat berubah menjadi spesies baru. Teori inilah yang disebut sebagai teori evolusi. Satu teori yang mendapat kecaman keras dari gereja saat itu, karena doktrin gereja meyakini bahwa spesies tidak pernah berubah. Spesies selalu sama semenjak pertama kali diciptakan Tuhan.

Memahami dialektika, akan membuat kita mengerti, bahwa teori yang kita yakini benar, suatu hari nanti mungkin saja dibantah dan tidak digunakan lagi.

Sekali lagi, di dunia ini, satu-satunya hal yang tidak berubah adalah perubahan.

 

Belajar Agama

Belakangan ini, saya punya obsesi baru. Saya jadi suka belajar agama. Namun bukan mempelajarinya secara subjektif seperti yang biasa kita lakukan sehari-hari.

Saya sedang tertarik mempelajarinya secara objektif. Memahami teori-teori yang muncul dalam ikhtiyar memahami fenomena kenapa manusia memeluk agama.

Sigmund Freud (1856-1939), seorang psikolog asal Vienna, Austria, menganalogikan pemeluk agama dengan pasien neurotis di rumah sakit jiwa. Freud adalah seorang ateis murni sepanjang hidupnya. Dia tidak menemukan alasan untuk mempercayai Tuhan, sehingga dia menganggap menjalani ritual keagamaan adalah kegiatan yang tidak bermanfaat.

Dalam bukunya Future of Illusion (1927), yang sudah saya cari-cari kemana-mana tapi nggak ketemu, Freud berpendapat bahwa agama muncul karena manusia merasa takut. Alam selalu memiliki ancaman yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Freud menganalogikannya dengan sangat baik. Ketika kecil, saat badai di malam hari, ayah kita akan datang dan menenangkan kita. Membisiki kita bahwa ‘semua akan baik-baik saja’. Bisikan yang membuat kita merasa aman dan tenang.

Bisikan’ yang sama muncul saat kita dewasa. Ketika kita mulai merasa bahwa alam sangat berbahaya. Sehingga mengikuti pengalaman masa kanak-kanak, agama memproyeksikan sosok Tuhan yang memiliki kuasa untuk melindungi kita dari segala macam ancaman itu.

Teori yang menarik.

Menarik juga untuk melihat teori dari para pemikir lain. Seperti Karl Marx yang menuduh agama adalah candu yang harus dibasmi agar tercipta revolusi proletar, atau juga Emile Durkheim yang mensubordinasikan agama hanya sebatas ‘implikasi logis’ dari terciptanya struktur masyarakat.

Oh, I’m so exciting.

 

Arjuna

Seorang kenalan pernah bilang kalau dia suka sekali nonton ketoprak. Saya jadi ingat, dulu saat kecil, saya sering menonton pertunjukkan wayang kulit bersama kakek. Suatu pengalaman mewah yang sudah jarang saya rasakan lagi sekarang.

Satu hal yang ingin saya sampaikan tentang wayang: saya tidak suka Arjuna. Terlepas dari segala glorifikasi yang saya dengar, saya tidak pernah sekalipun mengagumi tokoh wayang yang satu ini. Arjuna sering digambarkan sebagaimana protagonis dalam semua dongeng pada umumnya: ganteng, baik, selalu menang kalau berantem.

Arjuna, dalam lakon Palguna Palgunadi, diceritakan iri saat melihat kemampuan memanah Palguna. Merasa tersaingi, dia menantang Palguna untuk beradu ketangkasan memanah. Arjuna pun kalah. Ketika dia bertanya dari mana Palguna memiliki kemampuan memanah seperti ini, Palguna menjawab bahwa ia belajar otodidak, hasil dari mengamati guru Durna secara tidak langsung. Dia belajar dengan ditemani patung mirip Durna yang sengaja dia buat.

Mendengar hal ini, Arjuna lalu menuduh bahwa gurunya pilih kasih, karena tidak mengajarkan ilmu seperti yang dipelajari Palguna. Durna lalu mendatangi Palguna dan menanyakan hal itu. Palguna memberitahu bahwa kesaktian itu disebabkan karena suatu cincin sakti yang ia pakai di jarinya. Palguna adalah fans berat Durna, sehingga saat dia meminta cincin itu, Palguna merelakan jarinya dipotong karena memang cincin itu tidak bisa dilepas. Jari itu lalu dipasang di tangan Arjuna. Itulah kenapa Arjuna memiliki enam jari pada tangan kanannya.

Setelah itu, Arjuna menantang Palguna lagi, dan kali ini ia menang. Palguna gugur dalam pertempuran itu. Arjuna lalu ingin memperistri Dewi Aggraini, istri Palguna. Namun Dewi Anggraini menolak dan memilih bunuh diri karena dia hanya setia pada suaminya.

Well, setiap orang memang pernah melakukan kesalahan. Kalau kita pesan mie goreng dan dikasihnya mie rebus, mungkin itu bisa ditolerir. Tapi kalau membunuh seseorang karena iri dengan kemampuannya, lalu berusaha menikahi istrinya dan sampai mengakibatkan dia bunuh diri, itukah sifat seorang kesatria?

Saya justru menyukai tokoh Karna. Karna memiliki banyak nama, Basusena, Suryaputra, dan favorit saya: Radheya. Walaupun berada dalam lingkungan antagonis, dia benar-benar berhati mulia. Dia dibesarkan dari lingkungan rakyat jelata. Konon, dia dikisahkan selalu memberikan apa pun yang orang lain minta. Termasuk baju perangnya. Sehingga saat perang besar Bharatayuda, dia gugur di tangan Arjuna.

 

Tugas Akhir

Ah, sepertinya lebih baik tidak usah membicarakan yang satu ini.

 

Sudah cukup meracau untuk malam ini. Saatnya kembali tidur. Bye.

:))

 

Advertisements

Memaknai Demokrasi dengan Pilpres

Menarik bagi saya untuk mengamati perilaku teman-teman menjelang Pilpres kali ini. Ada yang masih berusaha untuk mempengaruhi teman yang lain untuk memilih calon yang ia jagokan. Ada juga yang sudah punya pilihan, namun memilih pasif saja. Bagi dia, datang dan mencoblos tanggal 9 Juli nanti sudah cukup. Tidak perlu berkoar-koar. Ada juga yang sok-sokan tampil kritis dengan menjadi netral. 

Apapun sikap dan pilihan mereka, saya menghormati.

Butuh waktu beberapa hari bagi saya untuk menyimpulan, kenapa teman-teman saya kali ini begitu antusias: karena mereka memiliki harapan. Mereka memiliki harapan agar Indonesia menjadi lebih baik ke depan. Dan harapan itu mereka wujudkan dengan cara datang ke TPS, mencoblos capres pilihan mereka nanti.

Bagi mereka yang berpendapat bahwa Indonesia hari ini belum baik, tentu menginginkan perubahan.

Namun, di sini ada satu pertanyaan yang menarik: Sejauh manakah perubahan yang bisa diciptakan oleh presiden yang terpilih nanti?

Sebelumnya mari kita telaah dulu tentang sistem demokrasi. Demokrasi adalah sistem di mana pemerintahan ada di tangan rakyat. Bagi Anda yang pernah mempelajari tata negara, pasti tahu bahwa kekuasaan di negara kita dibagi menjadi tiga: legislatif, eksekutif dan yudikatif. Singkatnya, legislatif adalah kekuasaan untuk membuat kebijakan, eksekutif adalah kekuasaan untuk menjalankan kebijakan, dan yudikatif adalah kekuasaan untuk melakukan pengawasan.

Kenapa kekuasaan harus dipisah seperti ini? Sederhana. Karena dalam demokrasi, kita sebisa mungkin menghindari adanya kekuasaan yang terlalu besar dalam satu kelompok atau satu orang. Kekuasaan yang terlalu mutlak pada satu kelompok atau orang, dikhawatirkan akan berpotensi menciptakan pemerintah yang otoriter.

Kalau Anda bertanya apakah presiden yang terpilih nanti akan memberikan perubahan pada Indonesia hari ini, maka akan saya jawab: ya. Kalau Anda bertanya lagi apakah perubahan itu akan signifikan, saya jawab: mungkin tidak.

Presiden dan kabinetnya, ada dalam wilayah eksekutif, pelaksana kebijakan. Presiden bukanlah raja -yang memiliki kekuasaan absolut- yang berhak menentukan kebijakan, melaksanakan, tanpa ada pengawasan dari pihak mana pun. Memandang bahwa presiden yang terpilih nanti akan membuat perubahan yang sangat besar, menurut saya adalah pikiran yang sedikit naif. Saya punya beberapa alasan.

Alasan pertama, komposisi partai di DPR. Lihat komposisi partai yang berkuasa di sana. Masih didominasi oleh partai-partai lama. Mungkin perbedaan yang paling mencolok, hanyalah mayoritas yang dulu Partai Demokrat akan digantikan PDIP. Selebihnya hampir sama. Logikanya, bagaimana kita bisa berubah secara signifikan kalau partai yang mewakili kita masih itu-itu saja?

Kedua, faktor oposisi. Ambil contoh misalkan Jokowi jadi Presiden. Bagi fanboy Jokowi-JK, Jokowi adalah orang jujur dan sederhana. Kehadiran tokoh seperti ini diharapkan akan merubah wajah pemerintahan kita menjadi lebih bersih. Jika memang Jokowi bersih, masih ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: Koalisi Prahara punya partai lebih banyak. Jokowi boleh berkelit soal rampingnya koalisi yang dia bentuk. Tapi ingat, koalisi berperan penting dalam pengambilan keputusan. Jika dia presiden, maka koalisi Prahara adalah oposisi.  Dan mengingat koalisi Prahara yang banyak ini, pengesahan kebijakan nanti bisa dibayangkan pasti sangat sulit bagi Jokowi.

Oposisi memang diperlukan sebagai pengontrol partai yang berkuasa. Namun, yang sering ditemukan justru oposisi menjadi semacam antitesis yang merefleksikan lawan dari kebijakan partai penguasa. Dan satu hal yang kurang saya sukai dari partai oposisi adalah bahwa mereka SELALU berusaha menolak kebijakan dari partai penguasa. Selalu. Entah itu pro rakyat atau tidak.

Saya percaya, perubahan tidak bisa diciptakan oleh satu orang saja. Dalam demokrasi, pemerintah adalah sebuah tim dan sistem.

Mengutip salah satu tweet Sudjiwo Tedjo: Pemimpin tangan besi mematikan nyali. Pemimpin yang dinabikan mematikan nalar.

Maka, sebaiknya kita mulai memilih dengan akal yang benar-benar sehat.

Bagaimana pun juga, demokrasi memang bukanlah sistem yang sempurna. Salah satu kekurangan –dan menurut saya yang paling fatal- adalah, rakyat seringkali tidak tahu apa yang mereka mau. Ambil contoh ketika orde baru tumbang pada 1998 dan kemudian diadakan pemilu pada 1999. PDIP waktu itu keluar sebagai pemenang, sedangkan Golkar sebagai runner up. Hal yang menarik menurut saya bukanlah kemenangan PDIP, tapi  justru bagaimana Golkar, sebagai partai warisan orde baru, masih bisa menempati posisi dua. Padahal ada 47 partai lain sebagai alternatif selain Golkar.

Rupanya, bagi masyarakat yang sudah biasa memilih Golkar dalam pemilu-pemilu sebelumnya, membuat pilihan baru adalah sebuah keputusan yang sulit. Ibarat kita yang sejak kecil biasa makan nasi, mau diajak makan seenak dan semahal apa pun, pokoknya kalau belum nasi belum kenyang. Saya juga tidak menyalahkan masyarakat. Jangankan memilih satu dari 48 partai, saya memilih sambel waktu makan di Warung SS saja masih suka bingung.

Contoh lain adalah saat pemilu legislatif. Beberapa teman saya –yang saya anggap mewakili masyarakat cerdas, karena ada dalam lingkungan akademik- saja bingung mau memilih siapa. Apalagi masyarakat kita pada umumnya.

Yang lucu adalah ketika akhirnya saya dan teman-teman menjatuhkan pilihan dengan cara yang sedikit absurd. Menghitung kancing, misalnya. Ada teman yang memilih seorang caleg karena di baliho kelihatan cantik banget. Ada juga yang memilih karena wajahnya di foto kasihan. Ada juga yang asal coblos target, seperti saat kita bermain darts.

Barangkali, wakil kita di DPR sana, sebagian besar memang diisi oleh orang-orang yang nomor urutnya pas dengan jumlah kancing baju, berwajah cantik, atau juga yang mukanya bikin kasihan. Sepertinya kampanye yang para caleg-caleg ini lakukan sama sekali tidak mengena ke benak masyarakat. Padahal pilihan kita seharusnya berpatok pada tiga hal: rekam jejak, kepribadian dan visi misi.

Satu lagi kekurangan yang masih muncul dalam demokrasi kita adalah, muculnya fenomena, yang oleh Didik Rachbini, disebut sebagai “Hama Demokrasi.” Hama demokrasi diartikan sebagai pendukung suatu calon dengan sangat fanatik dan membabi buta. Saking fanatiknya, mereka akan melihat semua kritik sebagai dendam.

Anda boleh mendukung Prabowo. Anda juga boleh mendukung Jokowi. Prabowo dan Jokowi punya kekurangan dan kelebihan. Keduanya tidak seratus persen hitam maupun seratus persen putih. Keduanya adalah abu-abu. Dan tugas kita sekarang adalah memilih manakah dari kedua abu-abu ini yang punya mayoritas putih lebih banyak dan hitam lebih sedikit. Penglihatan setiap orang akan memberikan hasil yang berbeda, jadi percuma kalau Anda mau memaksakan kehendak.

Sekali lagi, demokrasi bukanlah sistem yang sempurna. Tapi, dibalik ketidaksempurnaannya itu, menurut saya demokrasi adalah pendekatan terbaik yang bisa memuaskan semua pihak. Sehingga siapa pun presiden yang terpilih nanti, marilah kita maknai sebagai sebuah kemenangan kita bersama.

========

Penulis adalah seorang mahasiswa teknik yang stress karena Tugas Akhirnya tidak kunjung kelar. Mengamati dinamika politik adalah hobi sampingannya.

Mana yang Lebih Dulu: Ayam atau Telur?

Beberapa hari yang lalu, entah kenapa, saat duduk-duduk di ruang TV, saya iseng menanyakan pertanyaan ini kepada ibu saya.

Mungkin, pertanyaan “mana yang lebih dulu, ayam atau telur?” adalah analogi dari pertanyaan favorit filsuf: “mana yang lebih dulu, materi atau ide?”

Sebuah teka-teki lucu yang pasti akan menimbulkan perdebatan. Seorang teman pernah memberitahu bahwa jawabannya adalah dengan melihat mana yang lebih dulu diucapkan. Telur atau ayam? Telur. Ayam atau telur? Ayam.

Saya yakin bukan itu maksud pertanyaan ini.

Pertanyaan ini, adalah pertanyaan paradoks yang tidak mungkin bisa dijawab jika kita masih menggunakan cara berpikir mekanis. Ketika kita menjawab ‘ayam yang lebih dulu’ sebagai tesis, makan akan otomatis memunculkan anti tesis ‘ayam menetas dari telur’. Begitu juga sebaliknya, ketika kita menjawab ‘telur yang lebih dulu’ sebagai tesis, maka otomatis memunculkan anti tesis ‘telur keluar dari ayam.’ Tesis dan anti tesis di atas, tidak bisa disintesiskan secara dialektika biasa, karena keduanya kontradiktif. Saling bertentangan.

Membingungkan, sebab kedua jawaban bisa saja sama-sama benar, atau pun sama-sama salah.

Contoh lain dari paradoks semacam ini misalnya : Apa yang terjadi pada pinokia jika dia berkata “hidung saya akan memanjang?”

Atau contoh lain yang paling terkenal: paradoks pembohong. Berikut saya kutip dari wikipedia:

“Epimenides si orang Kreta mengatakan bahwa semua orang Kreta adalah pembohong.”

Rangkaian premis berikut ini akan tiba pada dua konklusi yang bertentangan

 

  • Jika apa yang dikatakan Epimenides benar, ia bukan pembohong.
  • Jika Epimenides bukan pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
  • Jika apa yang dikatakannya tidak benar, ia pembohong.

Konklusi pertama:

  • Jadi, ia adalah pembohong dan bukan orang jujur.
  • Jika yang dikatakan Epimenides tidak benar, ia adalah pembohong.
  • Jika ia pembohong, apa yang dikatakannya tidak benar.
  • Jika apa yang dikatakannya tidak benar, itu berarti bahwa ia adalah orang jujur.

Konklusi kedua:

  • Jadi, ia adalah orang jujur dan bukan pembohong.

Apa yang dikatakan Epimenides sebenarnya secara serentak mengandung kebohongan dan kebenaran. Jika kebohongan, berarti ia benar-benar pembohong, dan jika kebenaran, ia adalah seorang yang jujur.

Sama seperti dilema, paradoks biasa digunakan untuk mematahkan argumentasi lawan dengan menempatkannya ke dalam situasi yang sulit dan serba salah.

 

Cara menyelesaikan pertanyaan semacam ini adalah dengan berpikir di luar sistem. Menggunakan pikiran yang berkesadaran, bukan yang hanya menuruti rangkaian logika tak berujung tadi. Kita harus menentukan jawaban, lalu kemudian mengemukakan alasan yang menunjukkan jawaban kita benar, sedangkan jawaban lain salah.

Menurut ibu saya, ayamlah yang lebih dulu. Kalau tidak ada ayam, maka tidak ada yang mengerami telur, jadi tidak akan bisa menetas. Proses penetasan telur menjadi ayam, membutuhkan kehadiran ayam lain lebih dulu. Sedangkan proses ayam mengeluarkan telur, tidak membutuhkan kehadiran telur lain lebih dulu.

Jawaban itu benar. Setidaknya menurut ibu saya.

Jawaban ibu saya mungkin sama dengan jawaban Aristoteles jika dia diberi pertanyaan ini. Menurutnya, sebab selalu ada lebih dulu dari akibat. Ayam adalah sebab, sedangkan telur adalah akibat. Ayam dapat bertahan hidup tanpa telur, tapi telur tidak dapat bertahan hidup tanpa ayam.

Kalau kita menanyakan hal ini pada Plato, maka dia akan berargumen bahwa selalu ada ide sebelum tubuh. Ide-ide ini hidup dalam dunia ide. Jadi, sebelum ada telur, ada ide sempurna tentang telur yang mendahuluinya. Sedangkan sebelum ada ayam, maka ada ide sempurna tentang ayam.

Ayam harus ada terlebih dahulu dari telur, karena dalam ide ayam, terkandung juga ide telur. Sedangkan dalam ide telur, belum tentu ada ide ayam. Bisa jadi ide telur itu berisi ide bebek, ide kakatua atau pun ide-ide yang lain.

Sedangkan saya, lebih cenderung pada jawaban telurlah yang lebih dulu. Alasan saya ada pada teori evolusi Darwin. Darwin, dalam bukunya yang termasyur, The Origin of Species by Means of Naturan Selection or the Preservation of Favoured races  in the Struggle for Life,(iya, panjang bener) atau yang biasa disingkat dengan The Origin of Life saja, mengajukan dua teori: pertama, dia menyatakan bahwa semua bentuk tanaman dan binatang diturunkan dari bentuk-bentuk yang telah ada sebelumnya yang lebih primitif, melalui suatu evolusi biologi. Kedua, bahwa evolusi merupakan hasil dari seleksi alam.

Menurut para ilmuan, Aves dahulu merupakan hasil evolusi dari reptil. Bukti yang paling mudah dilihat adalah keduanya berkembang biak dengan cara yang sama. Bertelur. Selain itu, ditemukan juga beberapa fosil reptil yang memiliki sayap dan mulai berbulu, walaupun diperkirakan masih belum dapat terbang.

Argumen Darwin yang pertama inilah yang membuat dia dianggap sesat oleh kalangan Gereja saat itu (dan bukan karena dia menyatakan manusia berasal dari kera, ini hanya konsekuensi dari teori pertama yang sering secara salah kaprah kita kira inilah penyebab Darwin dianggap sesat). Doktrin Bible menyatakan bahwa semua makhluk adalah sama saat pertama kali diciptakan. Tidak ada perubahan. Manusia ya bentuknya seperti ini sejak pertama diciptakan Tuhan. Macan juga sama. Pohon jengkol juga sama. Tidak ada perubahan atau evolusi dari bentuk primitif yang lebih dahulu ada.

Para pendukung teori ini, tentu kesulitan saat disuruh membuktikan teorinya, karena memang mustahil untuk merekam evolusi biologi.

Kembali ke pertanyaan tadi, jadi, saat telur pertama yang berisi ayam ada, maka mungkin saja itu berasal dari makhluk lain yang hampir menyerupai ayam (walaupun belum ayam sepenuhnya).

Ribet emang.

Lalu kenapa kita harus menelaah pemikiran Plato, Aristoteles, bahkan termasuk teori evolusi Darwin untuk menjawab teka-teki ini? Entahlah. Saya juga tidak tahu. Setidaknya kita punya alasan saat menjawab.

Ketika saya menjelaskan semua di hal atas, ibu saya hanya berkata “Oh, ya.” Sambil memencet remote TV, mencari sinetron Pashmina Aisha.

 Image

Ngapain lo pusing mikirin gue? gue aja woles.

Tentang Keimanan

Bagi saya, keimanan adalah hal yang mengagumkan. Bagaimana bisa percaya sepenuh hati tentang hal-hal yang bahkan belum pernah kita lihat atau alami?

Salah satu pertanyaan terbesar sepanjang sejarah umat manusia adalah: apakah tujuan kita hidup?

Sebuah pertanyaan yang pasti pernah menggenang di setiap hati kita. Sebuah pertanyaan, yang sama tuanya dengan usia peradaban manusia sejak memiliki kemampuan berpikir. Sebuah pertanyaan, yang sampai sekarang tidak pernah memunculkan kata sepakat yang memuaskan semua orang.

Saya jadi ingat kalau saya pernah membaca esay Mark T Conard berjudul God, Suicide, and The Meaning of Life, yang isinya membedah film-film Woody Allen, dan mencari apa opini Allen tentang makna hidup.

Sedikit tentang Woody Allen, dia adalah salah satu sutradara favorit saya dengan genre komedi. Kekuatan film-filmnya ada pada script, bukan seperti kebanyakan film-film blockbuster jaman sekarang yang hanya membuat kita kecanduan CGI. Woody Allen adalah seorang ateis. Dia sering menggunakan nilai dan pendapat pribadinya dalam berkarya. Tetap dengan menggunakan gaya komedi, tentu saja.

Salah satunya bisa kita lihat dalam kutipan dialog film Hannah and Her Sisters, berikut ini:

Mickey  : Do you realize what a thread we’re hanging by?

Gail        : Mickey, you’re off the hook, you should be celebrating.

Mickey  : Can you understand how meaningless everything is? Everything, I’m taking about –our lives, the show, the whole world- meaningless.

Mickey Sachs dalam film itu diceritakan sebagai seorang hipokondria. Seseorang yang selalu merasakan khawatir berlebihan akan penyakit. Saat telinganya sering berdengung, dia memutuskan ke dokter untuk check up. Dia begitu kaget ketika dokter menyuruhnya melakukan scan otak hari berikutnya.

Malamnya, Mickey tidak bisa tidur. Khawatir kalau bisa saja dia punya tumor otak. Keesokan harinya, tenrnyata check up justru memberikan hasil yang sebaliknya. Tidak ada yang salah pada dirinya. Mickey berlari senang ke luar rumah sakit. Namun beberapa meter kemudian, dia berhenti, dan merenung.

Dia merenungkan bahwa hasil itu, tidak akan membuat segalanya berubah. Dia masih tidak aman. Dia tetap akan mati. Walaupun tidak sekarang. Dia sadar, bahwa apa pun yang dia miliki, apa pun yang dia lakukan, semua meaningless. Tidak ada artinya.

Kita semua tentu pernah memikirkan apa yang Mickey pikirkan. Sejenak kita berhenti tertawa, berhenti memikirkan uang, tugas kuliah, karir atau pun jabatan. Semua itu tidak akan selalu kita bawa. Karena kita, suatu saat nanti akan meninggal.

Bagi seorang ateis. TIADA berarti benar-benar tidak ada. Hilang. Lenyap. Tidak ada akhirat. Tidak ada reinkarnasi. Tidak ada roh yang akan terus hidup. Secara dialektika, ADA secara otomatis akan memunculkan TIADA. Karena kita sekarang ADA, maka suatu saat nanti kita akan TIDAK ADA. Ketiadaan adalah sebuah konsekuensi dari eksistensi.

Sudah sejak lama para filsuf berusaha mencari makna dari kehidupan. Tentu saja, kita mengenal dua pertentangan yang hampir tidak bisa direkonsiliasikan lagi dalam dunia filsafat: materialisme dan idealisme.

Materialisme (Democritus, Karl marx, Jean-Paul Sartre, misalnya) adalah aliran filsafat yang meyakini bahwa kehidupan bermula dari matter (benda). Eksistensi ada sebelum esensi. Misalnya, pikiran dan kesadaran manusia ada sebelum manusia itu sendiri tahu, apa makna di balik keberadaanya. Berbeda dengan barang-barang manufaktur, pisau misalnya, yang diciptakan dengan tujuan tertentu, manusia ada tanpa tujuan yang spesifik. Maka, manusia sendirilah yang harus menentukan apa makna dan tujuannya hidup. Materialisme tidak mengenal adanya kekuatan ide dalam kehidupan.

Sedangkan idealisme, (Plato, Hegel, misalnya) sebaliknya. Bahwa kehidupan bermula dari ide. Ada ide dan tujuan tertentu sebelum proses penciptaan terjadi. Esensi ada sebelum eksistensi. Analoginya, ketika manusia membutuhkan alat pemotong, maka manusia membuat pisau. Konsep dan tujuan pisau ada sebelum pisau tersebut ada. Begitu juga manusia. Konsep dan tujuan manusia ada, sebelum manusia ada. Konsep dan tujuan itulah yang disebut sebagai ide.

Selama 2500 tahun sejarah filsafat pula, pertanyaan tentang makna hidup ini tidak pernah menemukan titik temu. Banyak pendapat baru bermunculan. Banyak pula kritik baru yang menghadang. Semua karena para filsuf memiliki persepsi dan cara sendiri-sendiri dalam mendefinisikan kehidupan.

Suatu hari ada, seorang teman yang berkata pada saya, “Kita menjadi muslim bukan karena kita pengen jadi Muslim. Tapi karena keluarga dan lingkungan kita yang nyuruh begitu.”

Pernyataan teman saya itu, membuat saya berpikir. Benar juga ya, saya juga pernah memikirkan itu. Bagaimana kalau saya tidak terlahir di sini? Bagaimana kalau saya lahir di keluarga Eropa, atau Jepang, misalnya? Akankah saya akan menjadi muslim seperti sekarang? Atau kalau tidak, apakah saya juga akan membela Islam seperti sekarang?

Misal kita sejak lahir hidup di sebuah pulau dengan seorang lawan jenis. Lalu saat beranjak dewasa, kita mulai menyukai dia. Begitu juga dengan agama. Seringkali kita menjadi muslim, bukan karena kita memilih Islam. Tapi karena hanya Islamlah yang kita kenal.

Iman kita, tentu saja berbeda dengan iman para nabi. Nabi pernah bertemu Tuhan. Kita tidak pernah. Nabi yakin karena TAHU. Sedangkan kita, hanya bisa sekedar yakin.

Para ahli sosiologi agama, yang kebanyakan ateis, banyak yang menyatakan bahwa agama adalah salah satu bentuk ekspresi dari kebudayaan. Makanya, sering kita melihat agama akan identik dengan wilayah tertentu. Islam dengan Timur Tengah. Kekristenan dengan Eropa. Atau agama-agama Dharma (Shintoisme, dan Konfusionisme, misalnya) dengan Asia timur. Kita boleh saja mengklaim agama pribadi kita sebagai agama untuk seluruh umat manusia, tapi faktanya, memang pasti akan ada tempat-tempat tertentu yang sangat susah untuk menerimanya.

Bagi mereka, peperangan karena isu agama adalah hal yang tidak masuk akal. Seperti dua anak kecil yang berkelahi karena membela teman khayalannya. Saya pun berpikir hal itu juga tidak masuk akal, walaupun saya memiliki alasan yang berbeda. Bagi saya, agama adalah hal pribadi. Orang boleh mengejawantahkan apa pun dalam pikirannya, dan bagaimana cara memahami agama dan keyakinannya.

Bagi Anda yang selalu berpikiran agama hanyalah melulu soal larangan tidak boleh ini, perintah harus menjalankan itu, SOP untuk menjalankan hidup, maka selamanya Anda akan berada dalam debat “cara saya yang paling benar.” Debat yang saya pikir tidak akan pernah ada titik temunya.

Agama adalah ranah pribadi setiap orang. Kita boleh saja memberi alternatif pendapat kita. Tapi kita tidak berhak memutuskan apa yang ingin mereka yakini. Apalagi sampai melakukan kekerasan untuk memaksakannya.

Sudah sering kita melihat banyak orang berteriak-teriak, menentang dan menjelek-jelekkan umat lain, karena berusaha “menjilat” Tuhan versi mereka pribadi. Orang-orang yang baru memahami agama dari kulitnya, namun sudah berani mengkafirkan orang lain. Orang-orang yang seringkali hanya butuh “membuat orang lain salah”. Orang-orang yang kecanduan konflik. Orang-orang yang masih menganggap agama harus selalu dikaji secara subjektif. Buta perspektif dan self righteous. Tindakan yang seringkali harus berakhir dengan pertumpahan darah.

Sebagai contoh, pembantaian komunisme. Komunisme adalah murni sebuah ideologi politik dan ekonomi. Tidak ada unsur kepercayaan apa pun di dalamnya. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat tanpa kelas. Sehingga dibutuhkan peran sentral negara dalam pelaksanaanya. Ketika perang dingin terjadi, pihak barat dengan Amerika sebagai pemimpinnya ingin memberantas komunisme dengan berbagai cara.

Mungkin masyarakat tidak akan mau ikut serta, misalnya propagandanya berisi “Komunis ingin mendirikan masyarakat tanpa kelas”, atau “Komunis menolak hak kepemilikan pribadi”. Tapi, saat slogan “Komunis itu tidak percaya Tuhan” yang dipakai, berbondong-bondong masyarakat bergerak. Membunuh tanpa merasa bersalah. Isu agama telah disentuh. Isu yang paling efektif dalam menggerakkan masa.

Bagi saya, ada hal yang lebih penting untuk dipahami. Bahwa agama (dan iman) bukan hanya sekedar perintah dan larangan. Agama adalah JAWABAN, dari pertanyaan 2500 tahun yang tak pernah dapat kita jawab. Bahwa di saat akal yang selalu kita bangga-banggakan di hadapan makhluk lain ini tidak bisa mencari jawaban, Tuhan memberikannya cuma-cuma. Sangat jelas. Dalam bentuk agama.

 

Nasionalisme, Diva Anastasia dan Paradigma Keutuhan

Image

Suatu hari, seorang teman mengatakan sebuah lelucon pada saya: Hanya ada dua hal yang bisa menyatukan rakyat Indonesia. Pertama, Sepakbola; kedua, Malaysia. Saya pikir, teman saya satu ini ada benarnya juga. Bayangkan juga bagaimana dahsyatnya persatuan kita apabila keduanya digabung: Sebuah pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia.

Beberapa hari yang lalu saya dapat broadcast bbm dari teman yang lain, isinya: di dalam pesawat Malaysia Airlines yang baru-baru ini dikabarkan hilang, ada 12 warga negara Indonesia. Mari kita doakan keduabelas WNI tersebut.

Broadcast tersebut membuat pikiran saya tercenung. Kalau ada banyak penumpang dari negara lain di pesawat tersebut, kenapa kita hanya diajak untuk mendoakan 12 WNI-nya saja. Kenapa tidak sekalian dengan yang lain? Apa karena mereka ‘Malaysia’? Negara yang seringkali kita ‘goda’ karena banyak masalah yang melibatkan mereka dan kita; wilayah, tarian, lagu, baju tradisional, dan masih banyak lagi.

Saya masih SD ketika menerima belajaran yang bernama PPKn. Banyak hal yang saya pelajari di sana, termasuk antropologi, kebudayaan, politik dan bagaimana cara berperilaku yang baik. Satu hal yang masih saya ingat dari pelajaran tersebut adalah bagaimana saya diajari untuk menghargai perbedaan. Toleransi antar umat beragama, misalnya. Kita tidak boleh menggunakan perbedaan sebagai detonator untuk meledakkan konflik.

Saya setuju, dan akan selalu ingat pelajaran itu.

Selain itu ada juga pelajaran tentang nasionalisme dan cinta kepada tanah air. Di dalamnya termasuk menghargai para pahlawan, mengikuti upacara hari senin dengan khitmat (hehe..), atau menghafal lagu-lagu nasional.

Nasionalisme, mengutip dari wikipedia, didefinisikan sebagai satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggis nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.

Nasionalisme kembali marak diteriakkan pada masa dua perang dunia. Ketika itu negara-negara peserta perang butuh bantuan rakyat untuk kepentingan perang. Sehingga, propaganda nasionalisme diinjeksikan seintensif mungkin kepada rakyat.

Ada juga istilah lain: tribalisme (kesukuan). Yang berarti sebuah kesetiaan yang mendalam untuk sukus eseorang, kelompok etnis, atau bangsa dan penolakan orang lain. Menurut Naisbitt di Global Paradox, berbeda dengan nasionalisme, tribalisme diidentikkan dengan konotasi negatif yang mengerikan yang berkembang karena kebrutalan, perkosaa dan pembantaian, dan bentuk-bentuk lain pembersihan etnis di bekas Yugoslavia.

Lalu, apa perbedaan antara nasionalisme dan tribalisme?

Tidak ada.

Keduanya sama-sama berupa suatu bentuk kesetiaan terhadap sekelompok manusia, di mana individu tersebut berada. Yang membedakan hanyalah, yang satu berupa kelompok kesukuan, sedangkan yang satu lagi berupa negara.

Nasionalisme dan tribalisme bahkan sekarang hampir tidak memiliki batasan yang jelas. Contoh konkritnya adalah: perang Korea. Korea Utara dan Korea Selatan berperang antara tahun 1950-1953 dengan di-backing oleh dua blok yang saat itu diam-diam berseteru. Blok barat dengan pemimpinnya Amerika Serikat, dan Blok Timur dengan pemimpinnya Uni Soviet. Padahal jelas-jelas kedua Korea berasal dari rumpun dan bangsa yang sama, bangsa Korea.

Salah satu buku favorit saya adalah novel Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh karangan Dewi “Dee” Lestari. Di dalam novel tersebut ada satu tokoh yang bernama Diva Anastasia/ Supernova/Bintang Jatuh, yang memiliki pandangan skeptis, tapi realistis, tentang negara. Misalnya, dalam beberapa kutipan dialog berikut ini:

 

Dahlan : Jadi, boleh dibilang institusi negara tinggal aksesori, maksudmu?

Diva       : Atau tepatnya, kotoran hidung yang masih menganggap dirinya Grand canyon. Kapitalisme sudah menciptakan format demokrasinya sendiri, kok. Dengan pertama-tama membuat transisi kedaulatan dari negara ke perusahaan transnasional. Dan jangan lupa magic spell-nya: dari konsumen, oleh konsumen, untuk konsumen. Tapi, yah, setidaknya negara harus tetap kelihatan punya peran, di depan mata warga-warganya yang belum sadar dan dijaga untuk tetap tidak sadar itu. Entah sampai kapan. (Supernova halaman 55)

 

Dahlan : Kamu sendiri warga apa, Diva Darling?

Diva       : Warga semesta, yang sekedar ikut etika setempat. Negara, Bangsa, dan tetek bengeknya, sudah masuk museum dalam kamus saya. Dan terlalu naif kalau saya tidak percaya ada kehidupan lain selain dunia yang kita lihat. (Supernova halaman 56)

 

Diva       : Di mataku, negara tinggal sebuah museum tua.

Ferre      : Museum tua?

Diva       : Coba lihat di luar sana, kehidupan sesungguhnya dipegang tukang-tukang dagang. Mereka punya aneka pasar yang lebih atraktif, dinamis. Mereka cuma menyewa tempat, atau malah mereka yang disewa? Tidak Jelas lagi. (Supernova halaman 198)

 

Saya berkontemplasi, karakter Diva ini memberikan kita sudut pandang yang sama sekali baru tentang kehidupan. Selama ini kita hanya melihat dunia dengan perspektif biner. Kalau tidak hitam, ya putih. Kalau tidak benar, ya salah. Kalau tidak ada, ya berati kosong. Tidak ada ruang abu-abu yang coba untuk kita pelajari.

Padahal, pemikiran semacam ini tentu saja sangat berbahaya. Terutama saat kita memiliki perbedaan lain yang lebih rawan, selain warna mata, warna kulit, atau pun warna rambut: ide. Banyak orang yang saling membunuh karena perbedaan ide. Liberalis dan Komunis saling bermusuhan karena perbedaan ide. Dewan Direksi dan pemegang saham bersitegang dalam sebuah rapat karena perbedaan ide. Bahkan dua pasang kekasih yang kemarin saling mencintai harus berpisah karena perbedaan ide.

Semua karena satu hal tadi: pandangan biner kita tentang kehidupan. Yang berarti, saat kita merasa benar, maka yang tidak sama dengan kita, otomatis salah. Kita sering tidak mencoba memahami dulu, sebelum memutuskan untuk memusuhi sesuatu.

Lalu bagaimanakah dengan nasionalisme, satu hal yang membuat banyak negara saling berperang dan bermusuhan?

Tan Malaka dalam Madilog, mengatakan bahwa semua negara merdeka menasionalkan, merahasiakan invention (penemuan), pendapatnya, buat dipakai sendiri untuk persaingan dalam perniagaan dan perang.

Kenapa kita tidak mencoba melihat dari sisi lain, misalnya, bahwa aljabar bukan hanya penemuan besar dari bangsa Arab, tapi juga dari umat manusia? Bahwa pijakan pertama Neil Armstrong ke bulan bukan hanya berarti keberhasilan Sains Amerika Serikat saja, tapi juga semua manusia? Bahwa ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki bukanlah kekalahan Jepang saja, tetapi juga kekalahan kita semua?

Keutuhan, seringkali susah untuk dipahami sebagai sebuah paradigma. Tapi memang, memahaminya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan, seringkali akan membuat kehidupan menjadi jauh lebih baik.

Siang itu, saya tidak punya agenda apapun setelah kuliah. Dan di kamar kos, saya merenung. Menyatukan semua manusia dalam satu pemerintahan memang hampir tidak mungkin dilakukan. Jangankan seluruh dunia, Uni Eropa saja kesusahan saat harus memutuskankebijakan dengan cepat dan efektif. Tapi, mungkin semua akan menjadi lebih baik saat kita mulai berpikir, bahwa kita semua adalah satu, seperti koloni sel-sel yang bersatu membangun tubuh organisme. Seperti koloni-koloni manusia, yang bersatu membangun tubuh organisme dunia. Sebuah sudut pandang, yang membuat peperangan menjadi tidak masuk akal lagi.

 

BARONGAN PENYANGKRINGAN

Everything in life is luck. (Donald Trump)

Face your fears and doubts, and new worlds will open to you. (Robert Kiyosaki)

It takes 20 years to build a reputation and five minutes to ruin it. If you think about that, you’ll do things differently. (Warren Buffett)

Sebelum membaca postingan ini, apakah Anda bisa menemukan persamaan dari ketiga quote di atas?

Kalau Anda merasa tidak ada persamaannya, nggak apa-apa. Saya juga ngambil ketiga quote itu secara random dari internet, kok. Hehe.

Quote yang pertama berisi tentang pandangan hidup. Yang kedua pelajaran tentang keyakinan diri. Sedangkan yang terakhir tentang pentingnya reputasi seseorang.

Tapi bukan point itu yang coba saya ingin capai. Saya ingin Anda memperhatikan siapa yang pernah mengucapkan quote tersebut, kemudian cari persamaanya. Ya, mereka semua adalah orang-orang yang memiliki kekayaan finansial di atas rata-rata orang kebanyakan. Persamaan lainnya, mereka semua adalah penulis buku ekonomi yang fenomenal.

Donald Trump adalah pemilik kerajaan bisnis yang masuk dalam Forbes Celebrity 100 list tahun 2011 menempati posisi 17. Robert Kiyosaki adalah penulis best seller “Rich Dad Poor Dad series,” yang dijadikan kitab suci tentang pengaturan keuangan dan investasi keluarga oleh banyak orang (terutama oleh para anggota MLM yang lagi berusaha mempengaruhi downline.) Sedangkan Warren Buffett, adalah salah satu orang yang menjadi investor paling sukses di abad 20.

Dewasa ini, ketika invisible hands-nya Adam Smith-lah yang mengatur semua kegiatan perekonomian, kadar sukses kebanyakan orang menjadi hampir seragam: punya kekayaan finansial yang banyak. Orang-orang mulai melupakan apa passion mereka, apa cita-cita mereka saat kecil, apa hal yang ingin mereka lakukan. Asalkan, dompet mereka tetap penuh.

Dalam masyarakat post industri seperti kita sekarang, muncul banyak fenomena postmodernitas, yang salah satu gejalanya adalah prinsip kesenangan dan dorongan mengkonsumsi akan menggantikan etika kerja, anti kemalasan, dan panggilan spiritual (ibadah). Maka, tentu saja, hanya ada satu solusi agar indra kita tetap terpuaskan dengan segala injeksi kesenangan tersebut: kekayaan finansial.

Saya jadi teringat apa perkataan Abraham Maslow, seorang psikolog asal Amerika. Bahwa ketika seseorang sudah dapat mengantisipasi seluruh kebutuhan materinya, maka dia akan mulai melakukan pencarian yang lebih tinggi. Sebuah aktualisasi diri.

Perkataan Abraham Maslow itu seperti sebuah wake up call bagi saya, dan saya harap Anda juga.

Kembali ke tiga kutipan tadi, apakah Anda pernah berpikir kenapa kutipan tersebut pada akhirnya menjadi terkenal dan fenomenal? Sederhana, karena mereka yang mengucapkannya adalah orang sukses (dalam definisi masyarakat sekarang). Mereka semua telah mampu memenuhi kebutuhan materi mereka.

Bayangkan jika tetangga Anda yang gondrong, dekil, dan suka main gitar di poskampling-lah yang mengatakan “Everything in life is luck,” pasti perkataan itu akan akan Anda tentang habis-habisan, atau bahkan, tidak menjadi terlalu penting untuk dibicarakan, atau dikenang.

Kemarin, saya baru pulang setelah mengikuti program KKN yang menjadi salah satu mata kuliah yang wajib saya ikuti. Saya ditempatkan di sebuah desa bernama Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.

Saya termasuk jenis mahasiswa yang kurang tertarik dengan kegiatan semacam ini. Alasannya jelas: saya pemalas. Sampai-sampai ada beberapa teman sekelompok saya memanggil saya “si babi” karena sering tidur saat kegiatan lagi banyak-banyaknya. Hahaha.

Hari itu sedang ada expo, semacam pensi untuk warga desa. Dan desa saya menampilkan kesenian barongan anak-anak. Kesenian semacam ondel-ondel yang dipadukan dengan barongsai dan reog, kemudian diiringi dengan musik tradisional gamelan jawa.

Pemilik barongan itu bernama Pak Markoyo. Salah seorang warga yang tinggal di dekat posko KKN saya. Semuanya berjalan biasa saja, bahkan saya sendiri tidak melihat pertunjukannya karena saya bangun kesiangan dan ketinggalan acara.

Salah satu hal yang saya kagumi, adalah saat beliau berkata pada saya suatu ketika, “Kalau saya ya, Mas, kayak gini ini yang penting bisa jalan terus. Tetep lestari. Nggak perlu mikir bisa dapet duit apa nggak dari sini.”

Mendengar kalimat itu, pikiran saya seperti tersentak. Pak Markoyo benar-benar adalah seorang rebel. Beliau menentang sebuah struktur yang sudah lama ditasbihkan oleh kebanyakan orang sebagai satu-satunya jalan untuk HIDUP “normal” di jaman sekarang.

Ketika para lulusan Perguruan Tinggi kebingungan cari kerja, melamar sana-sini untuk mendapat pekerjaan dan penghasilan layak, Pak Markoyo justru melakukan yang sebaliknya. Beliau mengerjakan sesuatu yang memuaskan hatinya. Tanpa pernah mengkhawatirkan sedikitpun perihal materi dari apa yang sudah dia kerjakan.

Saya ingat, perkataan apa yang keluar dari mulut saya ketika teman saya mempertontonkan video barongan itu ketika latihan. Saya bilang, “Kok cuma geleng-geleng sama joget gak jelas begini? Malah mirip ritual sekte hitam.”

Tapi kemudian, saya menyadari bahwa apa yang saya katakan salah. “Geleng-geleng dan joget gak jelas yang mirip ritual sekte hitam” itu, bukan sekedar joget gak jelas biasa. Dalam joget itu ada harapan, kerja keras, dan passion yang dilakukan oleh seseorang, bahkan tanpa pamrih. Tanpa mengharapkan apapun, selain “Geleng-geleng dan joget gak jelas yang mirip ritual sekte hitam” tetap akan selalu ADA.

Saat saya datang ke rumahnya, peralatan barongan yang beliau miliki hanya teronggok begitu saja di depan rumah. Menjadi semacam pertanda yang memberitahu, bahwa peralatan tersebut sudah lama tidak terpakai.

Jika kita tetap berpegangan pada perkataan Abraham Maslow tadi, tentunya Pak Markoyo adalah orang dengan kasus spesial. Rumah beliau sangat sederhana, dan lantai terasnya masih berupa tanah.

Kemungkinannya sekarang ada dua: Pak Markoyo bisa men-skip tahapan pemenuhan materi dan langsung mengaktualisasi diri, atau mungkin saja, Pak Markoyo sudah merasa cukup dengan apa yang dia miliki.

Sebenarnya ada dua barongan yang tampil di expo itu. Selain rombongan barongan anak-anak binaan Pak Markoyo, juga ada barongan orang dewasa yang tampil belakangan. Tapi, kebanyakan orang di sana mengatakan bahwa penampilan barongan anak-anak lebih menarik. Lebih lucu. Lebih atraktif. Lebih BAIK.

Saya juga tidak tahu kenapa. Saya tidak bisa menilai apa definisi “menarik” dari kesenian semacam ini.

Kemudian, saat acara perpisahan mahasiswa KKN diselenggarakan di Balai Desa, Pak Lurah mengatakan bahwa baru kali itu, beliau melihat barongan Pak Markoyo tampil. Dan itu membuat beliau merasa senang sekaligus bangga. Beliau juga berkata bahwa barongan itu akan dipentaskan dalam acara 17an nanti, bersamaan dengan seluruh potensi desa yang lain.

Lalu kemudian, karena saya duduk di sampingnya, saya mendengar apa yang dikatakan Pak Markoyo setelah itu. Hanya dua kata, “Siap, Pak.”

Dua kata yang berarti dia puas barongannya bisa dipastikan tampil lagi. Dua kata yang berarti bahwa usahanya tidak pernah sia-sia. Dua kata yang menjadi tanda bahwa barongannya belum hilang. Dua kata yang dilanjutkan oleh sebuah senyuman lebar di wajahnya.

Dalam rasa malas yang saya alami selama KKN, setidaknya ada satu hal yang bisa selalu saya pelajari, bahwa sukses adalah saat kita bisa memuaskan diri kita dalam definisi sukses kita sendiri. Bukan definisi masyarakat yang sering kali tidak sesuai dengan hati, tapi tetap saja kita paksa untuk sesuaikan.

Lagipula, “Nggak perlu mikir bisa dapet duit apa nggak dari sini.” Menurut saya adalah quote yang keren. Lebih keren dari apa yang dikatakan Donald Trump, Robert Kiyosaki dan Warren Buffett.

Image

Batik putih Pak Lurah, batik hijau Pak Markoyo.

Ps: Sebenarnya pengen ngupload videonya sih, tapi berhubung belum paketan, besok aja ya, ini aja pake tathering hape lemot banget.