Mendengarkan Suara Hujan

Satu

Rutinitas pagi di rumah itu selalu sama. Mereka duduk berhadapan di meja kayu besar, menyantap sarapan, mengobrol. Tidak ada yang berubah sejak pertama kali rumah itu ditempati. Memang, di dunia ini, beberapa hal bisa saja mempecundangi sang waktu.

Kegiatan rutin yang tidak pernah terasa membosankan. Malahan menjadi waktu paling dinantikan sepanjang hari. Bukan tentang kapan, di mana, atau apa yang dimakan. Untuk pria dan wanita itu yang terpenting adalah: dengan siapa rutinitas dijalankan.

Bagi pria itu, wanita di hadapannya adalah batu safir: cemerlang dan berharga. Apa pun akan rela dia lakukan agar batu safir itu tetap berkilau. Sedangkan bagi wanita itu, pria di hadapannya adalah malam: tenang dan mendamaikan. Dia rela menyerahkan jiwa dan raganya untuk ditelan, hanya agar dirinya merasakan satu keutuhan yang kegelapan malam itu tawarkan.

Rumahnya tidak besar, tapi terasa nyaman. Warna coklat mendominasi hampir di semua sudut. Beberapa ornamen dan lukisan terpajang di dinding. Lantai kayu jati kotak-kotak itu tidak akan terasa dingin saat harus bersentuhan dengan kulit kaki. Semua seperti memberitahu pada orang yang berkunjung, bahwa segala sesuatu tentang rumah itu direncanakan dengan cermat oleh seseorang yang memiliki selera tinggi.

Pria itu adalah Pak Suryo. Nama panjangnya Ahmad Suryono. Orang-orang mengenalnya sebagai pemilik toko kain di beberapa tempat di Jakarta. Ada juga yang mengenalnya sebagai role model bagaimana seseorang seharusnya berkarya. Usahanya dimulai dari dulu masih muda, ketika dia menyewa sebuah kios di Pasar Tanah Abang dengan uang tabungan yang rencananya akan digunakan untuk melanjutkan sekolah.

Dengan modal pengalaman yang minim, dia merantau dari Solo ke Jakarta. Dan akhirnya, dialah yang menang. Toko itu berkembang pesat dan mampu membuka beberapa cabang. Berkat toko itulah ia dan istrinya dapat hidup layak. Bahkan membiayai sekolah adik-adiknya yang sekarang sudah sukses dan tinggal di luar negeri.

Wanita itu adalah Bu Suryo. Nama aslinya Asti Sumarni. Orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang selalu ada di belakang setiap laki-laki sukses. Kegigihan dan kesabarannyalah yang membuat Ahmad muda tergila-gila. Tak pernah sedetik pun dia pernah meninggalkan Ahmad. Suka maupun duka.

“Nanti aku baliknya agak telat, Bu. Mau nunggu kiriman yang dari Solo dulu. Katanya mau datang agak malam,” ujar Ahmad, dilanjutkan dengan melahap sesendok nasi lengkap dengan lauknya. Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memulai hari dengan sarapan pagi bersama orang yang dicintai.

“Iya, Pak. Nggak apa-apa,” Asti menimpali sambil menuang teh ke dalam cangkir.

“Kalau aku belum balik, Sri jangan disuruh pulang dulu, ya.”

Ada nada kekhawatiran dalam kalimat itu. Suasana di meja makan menjadi canggung. Nada yang selalu ingin Ahmad sembunyikan tapi tak bisa. Tahunan bersama orang yang kita sayangi, tentu membuat kita hafal semua yang mereka pikirkan. Tidak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Mereka berdua menyadari kecanggungan itu, tapi memilih diam.

Asti sejenak berhenti menyeruput teh, meletakkan cangkir di meja, lalu kemudian tersenyum sambil mengacungkan jempol tangan kanannya,“Sip, Pak. Beresss.”

Senyum itu. Senyum yang masih sama saat pertama kali mereka bertemu. Senyum yang membuat Ahmad rela melakukan apa pun agar Asti tetap tersenyum seperti itu.

Gudangan[1]-nya tambah lagi, Pak. Tadi yang bikin aku lho.”

Ahmad mengangguk. Diambilnya gudangan itu dan kemudian dicampur dengan nasi di piringnya. Tak berapa lama kemudian, tampak dia melanjutkan makan dengan lahap.

“Gimana? Enak?”

Ahmad berusaha menelan nasi di mulutnya.

“Joss… Aku kan sudah kenal banget sama masakanmu, Bu. Mbok kira bertahun-tahun kita bareng, aku nggak hafal apa?” tukas Ahmad, mantap.

“Sebenarnya, itu yang bikin kan Sri.”

Ruangan itu menjadi hening beberapa saat. Seperti ada seorang penghipnotis yang membuat mereka menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Lalu mata mereka saling bertemu, diikuti dengan satu ledakan tawa yang keras.

Tawa yang nikmat dan menyenangkan.

Tepat ketika tawa keduanya berhenti, Ahmad berkata,“Ya, sudah. Aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah, ya.” Dia meraih kunci mobil yang tergeletak di meja, kemudian berdiri dari kursi.

“Iya, Pak,” Asti menjawab kalem.

Ahmad kemudian menghampiri istrinya dan mencium pipi kanannya. Ciuman sama seperti yang ia berikan kepadanya setiap pagi sebelum pergi ke toko.

“Pak?” Asti berkata tepat saat Ahmad membuka pintu.

“Ya?” Ia menoleh.

“Kaos kakinya Aldi kemarin sepertinya hilang satu. Aku udah cari-cari di cucian nggak ada. Nanti kalau Bapak balik, titip dibelikan satu ya. Jangan lupa!”

Ahmad menghela napas. Sambil memandangi istrinya yang masih duduk di meja makan itu.

“Sip, Bu. Beresss,” kata Ahmad. Sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Ahmad pun pergi.

***

Dua

Siang hari di dapur.

Asti dan Sri sedang memasak salah satu makanan kesukaan Ahmad: oseng kangkung. Selain itu, ada banyak masakan lain yang akan dia olah. Setelah Ahmad tidak mengijinkannya bekerja di toko lagi, Asti hanya di rumah saja mengerjakan pekerjaan rumah dengan ditemani Sri, asisten rumah tangga. Kadang-kadang, jika makanan yang dia bikin terlampau banyak, dia akan membagi-bagikan begitu saja kepada para tetangga.

“Ngiris tempenya tipis-tipis aja, Sri. Mas Ahmad nggak suka kalau ketebelan,” ujar Asti, memperingatkan.

“ Iya, Bu,” jawab Sri sambil mengangguk.

Sejenak mereka terdiam karena disibukkan oleh pekerjaan masing-masing. Asti memang setiap hari sengaja memasak agak berlebih, agar Sri nanti bisa membawa pulang sebagian. Jadi dia tidak perlu memasak atau membeli makanan lagi untuk keluarganya.

“Sri, keluarga gimana kabarnya? Sehat-sehat?” Asti bertanya sembari memotong sayur.

Sri menjawab sambil tetap menggoreng tempe yang barusan dia potong-potong, “Ya, seperti itu lah, Bu. Anak-anak sehat, Alhamdulillah. Ratih minggu depan sudah masuk SD. Kalau Sugeng, ya masih gitu-gitu aja. Nggak tahu pengennya apa.”

Sugeng dan Ratih adalah anak-anak Sri. Sugeng anak pertama, sedangkan Ratih kedua. Ratih memiliki sifat yang jauh berbeda dengan kakaknya. Ratih sangat rajin dan pintar. Sedangkan Sugeng, sejak kecil tidak pernah mau sekolah. Seringkali dia terlihat mengamen atau membagikan brosur di perempatan lampu merah. Pernah satu kali Ahmad menawarkan pada Sugeng untuk menanggung semua biaya sekolahnya, tapi Sugeng tetap menolak. Entah karena alasan apa.

“Sugeng itu sebenernya baik lho, anaknya.”

“Iya, Bu. Lha wong kadang-kadang itu Sugeng kalau balik masih ngasih uang ke saya sama Ratih juga, kok.”

Lha yo, makanya. Ngurus anak itu memang harus sabar. Anak kan titipan Tuhan. Ya tugas kita mendidik, mengarahkan, merawat waktu masih kecil. Kalau sudah gede, ya biarkan dia sendiri yang milih mau jadi apa. Aku juga besok nggak mau terlalu maksa Aldi jadi apa. Biar dia bebas milih.”

Inggih.” Sri kemudian teringat sesuatu. “Oh iya, Bu. Kue-kue yang di kulkas itu, jadi mau dikasihkan tetangga saja?”

Asti heran pada dirinya sendiri. Kenapa dia akhir-akhir ini menjadi sangat pelupa. “Iya aku sampai lupa, nanti tak kasihin Robi yang rumah sebelah saja kalau begitu. Eh, Aldi belum mandi, kan? Tolong kamu mandiin dulu, ya. Ini biar aku aja yang ngelanjutin masaknya,” katanya lagi.

Inggih, Bu,” Sri meninggalkan Asti sendirian di dapur.

***

Jalanan terasa lengang. Hujan mengguyur sepanjang sore. Ahmad menyetir sendirian di dalam mobil sambil berpikir, merenung. Hujan selalu mampu memenuhi benak Ahmad dengan berbagai jenis pertanyaan.

Asti selalu bilang, dia sangat menyukai hujan. Dia suka berada di dalam mobil ketika hujan turun seperti sore ini. Dia bisa berdiam lama, memandangi kaca depan yang ditabraki titik-titik air, kemudian disapu bersih oleh wiper. Begitu berulang-ulang.

Asti selalu melarang Ahmad menyalakan radio ketika hujan turun. Dia ingin mendengarkan suara hujan: suara titik-titik air yang jatuh mengenai kaca, suara daun-daun pohon yang tertiup angin, suara genangan air yang terciprat oleh laju mobil, suara langkah orang-orang yang berlarian di trotoar mencari tempat teduh sambil menutupi kepala dengan tas yang mereka bawa.

Padahal, menurut Ahmad, hujan malah membuat banyak hal menjadi tidak berjalan seperti semestinya. Karena kehujanan, mobilnya yang masih bersih harus dia cuci lagi. Karena kehujanan, teras belakang rumahnya harus dipel karena terkadang banyak air yang terciprat ke sana. Karena kehujanan, banyak pegawainya yang terlambat datang.

Bagian apa yang menarik dari tetes-tetes air yang jauh dari langit ke tanah ini sehingga membuat Asti begitu tergila-gila?

Ahmad tidak mengerti.

Di pinggir jalan, ada sepasang pria dan wanita yang kelihatannya suami istri, sedang berteduh di halte bus. Tidak ada wajah sedih dari diri mereka. Mereka justru terlihat bahagia. Bercanda dan tertawa-tawa.

Lampu merah. Mobil Ahmad berada di barisan paling depan. Sepasang remaja tergesa berjalan menyeberang hujan dengan berbagi sebuah payung. Remaja wanita itu tertawa-tawa saat dia berlari terlalu cepat, dan membuat si lelaki basah terkena hujan.

Bagaimana bisa seseorang merasa bahagia hanya karena menjadi basah?

Dan lagi-lagi, Ahmad tak mengerti. Ahmad tak pernah mengerti.

Ahmad tahu, walaupun dia sudah lama bersama Asti, tetap saja ada misteri dari diri Asti yang tidak pernah dia mengerti. Baginya, Asti adalah sepaket manusia dengan segala keunikannya. Banyal hal tidak praktis dan kurang penting yang dia lakukan. Entah karena apa. Dan Ahmad, tidak bisa mencegahnya.

Karena dia tahu, semua itu membuat Asti bahagia. Tapi Ahmad tidak.

Sejenak dia berpikir. Kenapa masih ada yang kurang? Kata orang, cara termudah untuk hidup bahagia adalah dengan mensyukuri dulu apa yang dimiliki. Tidak perlu terlalu ambisius mengejar hal-hal yang belum tercapai.

Lalu, bagian mana yang salah? Ahmad sudah bersyukur. Dia punya Asti. Apa pun yang dimilikinya tidak ada yang lebih berharga dibandingkan Asti. Bahkan seingatnya, dia tidak pernah menyakiti Asti satu kali pun. Tidak pernah. Dia selalu mendengarkan apa yang Asti katakan.

Kecuali, oh, mungkin sekali itu.

Lampu bohlam di kepalanya tiba-tiba menyala. Wajahnya berubah menjadi sedih. Perasaan bersalah itu kembali lagi.

Sekarang dia tahu, kenapa dia belum merasa bahagia seutuhnya.

***

Tiga

Keduanya membereskan meja makan. Sri sudah pulang.

Hanya bunyi piring-piring dan gelas-gelas diangkat yang ada di ruangan itu. Keduanya diam, berbagi keheningan. Asti kemudian menyalakan keran wastafel. Bunyi aliran itu membuat ruangan sedikit lebih ramai. Asti siap memulai pembicaraan.

“Toko gimana, Pak?”

“Biasa saja. Tadi Tejo dapet pesenan lagi buat bikin seragam. Lumayan,” kata Ahmad sembari menumpuk piring-piring kotor dan mengangkatnya ke wastafel. “Kalau kamu di rumah, Buk, ngapain?”

“Ya ngapain lagi?” Timpalnya. Terdengar sedikir ketus. “Masak sayur kesukaanmu itu tadi toh, ya.”

Ahmad tertawa perlahan. Istrinya memang punya selera humor yang tidak biasa.

“Kadang-kadang, aku bosen juga di rumah terus,” Asti melanjutkan, setengah menggumam.

“Ya mau bagaimana lagi. Ibu kan nggak boleh pergi-pergi ke luar sendirian,” dengan sabar Ahmad memberi pengertian. Ia tidak pernah lelah untuk semua ini.

“Iya. Tapi aku tuh masih nggak ngerti lho, cuma keluar rumah saja nggak dibolehin sama dokter bawel itu.”

“Kamu kan masih sakit, Bu….” Ahmad tiba-tiba berhenti. Dia termenung. Dalam pikirannya, terputar lagi semua yang terjadi hari itu. Hari yang seharusnya tidak perlu terjadi. Hari yang menjadi penyebab semua ini. Hari yang ada karena kesalahannya.

Dia tahu, tidak ada gunanya menyesali kesalahan di masa lalu. Sekarang, dia hanya ingin melakukan satu hal: membahagiakan Asti. Ahmad melihat wajah istrinya dengan seksama. Dia punya satu ide.

“Bu,” kata Ahmad dengan suara pelan. “Besok ke toko terus mampir ke pasar, yuk!”

Asti diam saja. Tetap mencuci piring, seolah tidak mendengarkan ajakan Ahmad barusan. Ahmad memandangi wajah Asti, berusaha membaca ekspresi wajahnya apakah berarti “setuju” atau “tidak”.

Asti tetap diam.

“Bagaimana?” Ahmad bertanya lagi, meminta kepastian.

“Sudah, Pak. Buruan tidur. Kalau telat bangun, ke pasarnya bisa kesiangan,” jawabnya sambil tersenyum-senyum.

***

Ruangan itu penuh sesak dengan manusia. Beberapa terlihat sedang berbicara dengan para pegawai, meminta informasi tentang barang-barang yang ada di sana. Beberapa lagi mengantri di kasir. Beberapa yang lainnya lagi hanya duduk-duduk, entah sedang apa.

Asti melangkah memasuki ruangan itu. Ia mengenali tempat itu dengan baik. Ruangan yang saat memasukinya, rasanya seperti disedot ke dalam mesin waktu. Mengembalikan dia ke dalam ribuan nostalgia yang telah terlewat.

“Mbak Asti kan ini?” Seorang pria menghampirinya. Wajahnya penuh semangat, walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Dia tidak tampak lelah atau pun berkeringat, padahal cuaca sedang begitu terik. “Iya bener, Mbak Asti. Apa kabar, Mbak. Sehat-sehat, tho? Udah lama banget nggak ketemu.”

“Iya, Mas Tejo.” Asti menyalami tangannya sambil tersenyum ramah kepada pria itu. Sorot mata pria itu begitu teduh untuk siapa pun yang menatapnya. “Sudah lama banget, ya. Gimana kabarnya?”

“Baik. Baik banget. Ini masih jaga toko di sini. Semenjak pegawai-pegawai yang muda-muda masuk, kan saya di sini jadi senior, Mbak. Hahaha.”

“Kangen banget aku sama Mas Tejo. Kangen sama kita yang dulu. Bareng-bareng sama Sardi juga.”

“Iya. Waktu Sardi udah nggak ada, aku sedih banget, Mbak.”

Tidak semua kenangan terasa manis. Beberapa bahkan sangat getir. Asti juga dapat merasakan perubahan itu di dalam hatinya. Dulu, Sardi adalah yang termuda, juga yang paling dekat dengan Asti di antara mereka. Dia sering membantu Asti ketika di toko. Rekan kerja yang saling melengkapi. Sampai kemudian, Sardi meninggal karena penyakit kanker darah yang sudah dideritanya sejak muda.

“Iya, Mas. Aku juga,” kata Asti, memaksakan diri untuk tersenyum lagi. Begitu susahnya senyum yang dipaksakan. “Aku masuk dulu ya, Mas. Mau lihat-lihat ke dalam.”

Tejo mengangguk.

***

Di dalam gudang penyimpanan itu, semua kenangan seperti menyerbu Asti dengan tiba-tiba. Bak air bah yang datang dengan cepat dari bendungan yang ambruk. Saat dia kemalaman pulang lalu menginap di dalam toko, saat tangannya terjepit pintu gudang, saat dia dan Sardi bertengkar karena rebutan makan siang, semua kembali tergambar jelas dalam kepalanya. Seolah-olah semua itu baru saja terjadi kemarin.

“Sudah hilang kangennya?” tanya Ahmad dari belakang, seraya menyentuh pundak Asti. Mengembalikan Asti ke detik ini. Masa ini.

“Udah lama aku nggak ke sini. Banyak yang sudah berubah, ya?” Asti mengernyitkan dahinya sambil memandangi keadaan di dalam gudang itu. Mencoba membandingkan dengan kenangan yang tersimpan dalam benaknya.

“Benar. Karena makin banyak pelanggan, makanya toko juga harus diubah biar mampu melayani mereka semua.”

“Beberapa hal, sepertinya lebih baik dibiarkan kalau tetap sama ya, Pak?”’

“Semua hal harus berubah, Buk. Itulah yang bikin kenangan selalu terasa indah.”

“Iya, Pak.”

Asti kembali menelusuri ruangan itu. Mengamati seluk beluknya sambil memunguti remah-remah ingatan yang masih tersisa. Remah-remah yang mulai hilang karena tersapu pembaruan.

“Sebaiknya kita segera ke pasar, Buk. Keburu sore,” Ahmad meraih tangan Asti.

***

“Pak.” Suara Asti terdengar lirih di dalam mobil itu. Ahmad yang mendengarnya langsung refleks menoleh.

“Hmm..”

“Hujan, Pak…”

Dua kata yang Asti ucapkan seperti perintah bagi Ahmad. Ia langsung mematikan radio dan menyalakan wiper. Beberapa detik kemudian, titik-titik air mulai turun membasahi kaca depan mereka. Ia tidak akan pernah lupa kebiasaan Asti saat di mobil ketika hari hujan. Akhir-akhir ini cuaca memang tidak bisa diprediksi. Padahal beberapa jam yang lalu panas terik, kenapa sekarang tiba-tiba hujan?

“Kamu masih ingat waktu kita pergi pertama kali pakai mobil ini?” Ahmad bertanya sambil terkekeh.

“Yang bareng-bareng Tejo dan  Sardi ke Cipanas itu? Yang kita waktu pulangnya kemaleman di jalan sampai ketiduran di mobil itu, ya, Pak?”

Ahmad tergelak-gelak sampai hampir menitikkan air mata. “Iya, masih ingat semuanya, ya?”

“Habisnya mobilmu ini, sih, Pak. Bocor nggak tahu tempat.”

“Wah gini-gini ini mobil kesayanganku, lho. Nggak bakalan tak jual sampai kapan pun.”

“Iya-iya. Yang punya mobil kesayangan.” Asti mendecakkan lidahnya.

“Kamu cemburu sama mobil, Buk?” Ahmad bertanya, separuh menggoda.

“Lah, memangnya cemburu harus sama manusia? Sama mobil kan boleh joga, tho?” balas Asti, dilanjutkan dengan suara cekikian kecil.

Sudah lama ia tidak melihat tawa Asti yang seperti itu. Tawa yang sangat lepas. Tawa yang terlihat tidak dibuat-buat untuk menjadi topeng atas perasaan yang sebenarnya.

***

Empat

Ia terbangun, sementara istrinya masih terlelap di sampingnya. Perlahan, dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Di sana, di depan kaca wastafel, setelah selesai mencuci muka, dia memandangi refleksi wajahnya sendiri.

Wajah itu tidak lagi muda. Dia tahu itu. Wajah itu tidak lagi bahagia. Dia juga tahu itu. Ia menoleh  ke belakang. Wanita itu. Wanita yang menjadi satu-satunya definisi tentang kebahagiaan selama ini.

Dia masih ingat bagaimana dia dan wanita itu pertama kali bertemu. Dia masih sangat ingat. Tidak ada kenangan lain yang tersimpan lebih jelas di kepalanya dibanding pertemuan itu. Pikirannya mengarus. Ia meniti kembali jembatan waktu menuju ke sana.

Beberapa hari setelah Ahmad membuka toko pertamanya. Keadaan toko Ahmad masih begitu berantakan. Banyak gulungan kain yang masih disandarkan di dinding begitu saja. Belum ada rak penyimpanan.

Ketika Ahmad masih membereskan meja kasir, datang sesosok perempuan muda memasuki tokonya. Wajahnya cantik, tapi ekspresinya datar. Tidak jelas apakah saat itu dia sedang senang, sedih, atau marah. Dia nampak… netral.

Perempuan muda itu masuk dan memandangi kain Ahmad satu persatu. Sesekali menyentuh beberapa untuk merasakan teksturnya.

Menyadari kehadiran wanita itu, Ahmad menyapa dengan sopan.

“Selamat pagi, Mbak. Maaf masih berantakan ini. Monggo mau beli apa?”

Wanita itu tidak bergeming. Dia masih memandangi sekitar tanpa memberi sedikit pun perhatian pada Ahmad.

“Saya ingin menjahit kemeja,” kata perempuan itu.

Ahmad mengangguk mendengar permintaan perempuan itu barusan. Perempuan itu lalu menunjuk segulung kain yang ada di hadapannya.

“Abu-abu ini, tolong dua meter.”

Dengan sigap, Ahmad segera mengambil gunting dan meteran di meja kasir. Mata perempuan itu mengekor tanpa jeda pada langkah Ahmad. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, tapi dapat dirasakan oleh perempuan itu.

Ahmad memotong kain abu-abu itu dengan hati-hati. Belum pernah dia bertemu pelanggan seaneh wanita ini. Ada sedikit rasa canggung bercampur penasaran yang berkecamuk dalam otaknya.

“Kita pernah ketemu.” Perempuan itu berkata pelan, persis seperti orang yang sedang berbisik.

“Maaf? Sepertinya belum pernah.” Ahmad tergelak.

“Pernah. Kamu mungkin lupa.”

“Di mana ya?”

“Maaf, saya juga lupa. Ini, Mas, uangnya. Terima kasih.” Perempuan itu mengambil kain yang dia beli, lalu cepat pergi meninggalkan Toko Ahmad. Uang yang ia berikan terlalu banyak. Ia tidak sempat menghitungnya.

Ahmad bertanya dalam hati, kira-kira siapa nama wanita itu.

***

Beberapa hari kemudian, perempuan muda itu datang lagi. Tetap dengan ekspresi wajah yang sama. Tetap memandangi toko Ahmad dengan seksama. Tapi kali ini, bukan hanya kain-kain yang Ahmad jual. Hampir semua yang ada di toko itu, tidak ada yang luput dari tatapan perempuan muda itu.

“Oh… Mbak yang dulu. Kemarin uangnya kebanyakan, lho. Monggo kalau mau beli lagi?” Sapa Ahmad.

“Kamu butuh pegawai, Mas. Kayaknya kamu nggak bisa menata toko dengan baik.”

Perempuan ini memang susah ditebak. Ahmad sampai tidak habis pikir.

“Ah, iya ini. Tapi kalau sekarang kayaknya belum butuh. Hahaha,” Ahmad mencoba santai.

“Saya mau.” Wanita itu menyahut cepat. Kali ini sambil tersenyum. Senyum yang belum pernah Ahmad lihat sepanjang hidupnya. Senyum yang menggandakan setiap detakan jantung Ahmad seketika.

“Tapi saya belum butuh pegawai, Mbak,” Ahmad coba menjelaskan alasannya sekali lagi.

“Nggak apa-apa. Nanti saya rapiin semua.”

Ahmad melihat ke sekeliling tokonya. Mungkin benar. Mungkin dia butuh pegawai yang bisa merapikan dan mengubah tampilan toko ini menjadi lebih menarik.

“Maaf, nama Mbak?” tanya Ahmad. Ia hampir saja lupa.

“Asti.”

Nama itu. Akhirnya dia tahu nama wanita itu. Nama yang mulai saat itu menjadi satu-satunya jawaban jika ditanya apa definisi kebahagiaan untuk dirinya.

Bagi Ahmad, Asti adalah pelengkap dirinya. Sesuatu yang Ahmad tidak miliki, ada dalam diri Asti. Dan mereka, rela untuk berbagi.

Ahmad yang setiap hari serius mengurusi toko, selalu berhitung dalam pikirannya, seolah terlengkapi dengan kehadiran Asti yang ceria, spontan, dan susah ditebak.

Asti mengubah toko itu dari yang semula seperti sebuah foto abu-abu membosankan, menjadi tempat penuh warna yang ceria. Semua benda yang ada di situ tidak ada yang tidak diketahui Asti. Sementara Ahmad, tetap tekun di belakang mesin kasir mengurus berbagai macam hitung-hitungan.

Beberapa tahun kemudian, ratusan kupu-kupu menggelitik perut Ahmad. Dia jatuh cinta. Ahmad lalu melamar Asti. Tidak ada lagi tembok penghalang yang memisahkan mereka. Rekan kerja yang kompak itu, tenyata juga bisa menjadi rekan hidup. Banyak mimpi yang saling mereka bagi: rumah yang tenang di pinggiran kota, toko yang bertambah laris, juga anak-anak yang lucu.

Mimpi-mimpi itu. Ahmad kembali menatap wajahnya di cermin. Ahmad masih mengingat semua mimpi-mimpi itu.

Dia keluar dari lamunan dan kembali mendapati istrinya masih terlelap di ranjang. Dia kembali bersedih.

***

Lima

Ketenangan di rumah itu terganggu. Namun, Ahmad dan Asti menyukai gangguan itu. Beberapa sanak saudara dari Singapura datang untuk mampir. Mereka adalah Said dan Hussein, beserta keluarga. Said dan Hussein adalah adik kandung Ahmad. Sejak masih muda, keduanya sudah merantau ke Singapura. Hasil usaha Ahmad yang meyakinkan orang tuanya bahwa kelak ia bersedia untuk bekerja lebih keras demi membantu biaya pendidikan kedua adiknya itu di luar negeri.

Ketiga saudara itu duduk di teras belakang. Memandangi tanaman sambil mengobrol panjang lebar. Sudah lama mereka tidak bertemu, sehingga pertemuan seperti ini menjadi terasa begitu mewah.

“Maaf lho, Mas. Ngabarinnya mendadak. Habis dari kantor nyuruhnya juga begitu, sih.” Said memulai pembicaraan. “Aku telepon Hussein, ternyata dia juga lagi kosong. Ya sudah, aku ajak saja sekalian ke sini.”

“Iya. Mas Said kemarin teleponnya mendadak banget.” Hussein yang duduk di posisi paling ujung ikut berkomentar.

“Nggak apa-apa. Kalian nanti pokoknya nginep sini lho, ya!” kata Ahmad kalem, berusaha membujuk kedua adiknya itu.

Said menoleh kepada Hussein sebentar, lalu kembali menatap kakaknya, “Kayaknya nggak bisa deh, Mas. Malam ini juga harus langsung ke Bandung. Ya nanti cari-cari penginapan apa hotel gitu di sana.”

“Wah, padahal aku masih kangen sama kalian dan anak-anak, lho…”

Suasana menjadi beku. Ada intonasi kekecewaan dalam perkataan Ahmad barusan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa tiap kali mereka berkunjung, mereka akan menginap satu atau dua malam di sana. Tidak pernah tidak.

Menyadari kebekuan yang tiba-tiba muncul, Hussein berusaha mencairkan suasana, “Mas Ahmad sama Mbak Asti sehat, kan? Toko masih ramai?”

“Iya, sehat. Kadang-kadang sedikit pegel aja kalau balik dari toko. Haha. Alhamdulillah, masih ramai.”

Mbok udah, Mas. Nyari siapa gitu buat ngurusin tokonya. Mas Ahmad sama Mbak Asti di rumah aja santai.”

Ahmad tersenyum kecil. Sesuatu yang baginya sangat berharga telah diusik.

“Toko itu… sudah seperti anakku sendiri, Hussein. Aku urus dari kecil sampai sekarang. Ya berkat toko itu, kita semua sekarang bisa seperti ini. Aku belum bisa kalau nyuruh orang buat ngurus. Lagian, kalau aku nggak kerja, biasanya langsung masuk angin.”

Ketiga lelaki itu tergelak hampir bersamaan. Hanyut dalam suasana kekeluargaan yang sudah sangat jarang mereka rasakan.

***

Sementara itu, suasana di ruang makan juga tidak kalah ramai. Selain Asti, di sana ada Herra dan Linda, istri Said dan Hussein. Ada juga Wulan dan Irma, anak Said yang sudah remaja, serta Rea dan Lucy, anak Hussein yang masih balita.

“Rumahku jadi ramai ini gara-gara kalian,” kata Asti sambil tertawa lebar, diiringi dengan back sound Wulan dan Irma yang sedang mengobrol, serta Rea dan Lucy yang bertengkar karena berebut sebatang wortel.

“Iya, nih. Maaf lho, Mbak,” tukas Herra cepat.

“Aku malah seneng, kok. Aldi jadi ada temen.”

Herra dan Linda terdiam. Linda kemudian melerai Rea dan Lucy yang sudah mulai melakukan kontak fisik. Saling berteriak satu sama lain saja sepertinya belum cukup untuk menentukan siapa yang pantas memiliki wortel tersebut.

Asti kemudian mendekati Lucy yang sedang duduk di lantai, memukul-mukulkan wortel hasil rampasannya ke tembok. “Lucy katanya sekarang pinter nyanyi, ya? Mana? Tante Asti pengen lihat.”

Mendengar tantangan itu, Lucy langsung bangkit berdiri.

Are you sleeping?/ Are you sleeping?/ Brother John, Brother John/ Morning bells are ringing/ Morning bells are ringing/ Ding dong ding, ding dong ding.

Terdengar ia bernyanyi dengan menggunakan wortelnya sebagai microphone. Lengkap dengan koreografi. Semua yang ada di sana tertawa.

“Anakmu ini lho, Lin. Mirip banget sama kamu pede-nya,” Asti berkata sambil menahan sakit perut karena tertawa.

“Iya… ya, Mbak. Kenapa yang nurun ke dia malah yang malu-maluin gini, ya?” Linda menggaruk-garuk kepalanya sendiri.

Ketiganya tertawa lagi. Di tengah tawa mereka itu, Ahmad, Said dan Hussein memasuki ruang makan.

“Yuk, siap-siap ke Bandung,” seru Said.

Asti menoleh ke arah Said, “Harusnya, tuh, kalian nginep di sini semalam, gitu.”

“Iya, nih. Nggak tahu apa kita masih kangen berat?” Ahmad menambahkan. Mendukung permintaan istrinya.

“Iya, Mas. Lusa kita mampir ke sini lagi sebelum balik ke Singapura. Lain kali deh, nginep yang lama,” ujar Herra.

Hussein celingak-celinguk memandangi sekitar ruang makan, “Loh? Rea mana, Ma?”

“Sudah masuk mobil duluan, Pa. Ngambek tadi rebutan wortel sama Lucy,” jawab Linda.

Malam di rumah itu kemudian ditutup dengan rombongan berpamitan. Momen spesial itu akhirnya harus berakhir juga. Mobil rombongan sudah tak terlihat, derunya pun juga sudah tak terdengar. Rumah itu kembali sepi.

***

Di dalam mobil, hampir semua orang sudah tertidur. Kecuali Hussein yang menyetir, dan Said yang duduk menemaninya ngobrol sepanjang perjalanan.

“Ini Rea dapat boneka dari mana?” tanya Said ketika menyadari keponakannya dari tadi tidur dengan memeluk sebuah boneka beruang yang sepertinya belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Dari rumah Mas Ahmad kayaknya. Aku malah nggak tahu. Besok aja deh aku telepon. Atau kalau nggak, lusa kita balikin. Udah malem banget ini, nggak enak nelepon malem-malem,” Hussein menyarankan.

Said, yang menyetujui usulan adiknya, terus memacu mobil di jalan.

***

Rumah keluarga Suryo kembali bersatu dengan keheningan malam. Ahmad sedang membereskan sisa-sisa cangkir kopi di meja teras belakang, ketika tiba-tiba Asti berteriak dari kamar tengah, “Pakkk…!!!”

Cepat Ahmad menghambur ke dalam. Mendapati istrinya sedang terduduk di lantai kamar sambil menangis keras-keras.

“Aldi hilang, Pakkk!!! Aldi hilang!!!”

***

Enam

Malam itu, Asti tertidur kelelahan. Lelah karena menangis, meronta dan menjerit semalaman. Di sampingnya duduk Ahmad yang setia menjaga. Kalau saja dapat, ia ingin menggantikan istrinya untuk merasakan semua rasa sakit itu. Tak ingin dia menderita sepanjang hidupnya.

Rasa bersalah itu tidak pernah berhenti menghantui Ahmad seperti arwah penasaran. Dia ingin menangis, tapi tak bisa. Sudah sering tangis itu keluar, sampai ia tidak menemukan cara lagi untuk merasakan sakitnya.

Sudah berjam-jam ia mencari di sekitar rumah, tapi boneka beruang yang sering Asti sebut dengan nama Aldi itu tak ia temukan. Andai saja dia bisa mengganti boneka itu dengan boneka lain. Andai saja dia bisa tinggal di dalam dunia yang Asti ciptakan, ia akan menemani, menjaga dan hidup bersamanya.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika hari itu Ahmad mendengarkan nasehat Asti untuk lebih berhati-hati, dan tidak memaksakan diri untuk mengendarai mobilnya dengan lebih kencang agar segera sampai di rumah, lalu memberikan kejutan di hari jadi yang telah dia persiapkan bersama teman-temannya sejak jauh-jauh hari.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika hari itu Ahmad tidak kehilangan kendali atas kemudi, sehingga mobilnya tidak perlu selip, menerobos keluar jalan dan menabrak pohon dan trotoar.

Mungkin semua tidak perlu terjadi, jika benturan yang disebabkan oleh kecelakaan hari itu tidak melukai Asti yang sedang hamil lima bulan, dan membuatnya keguguran.

Semenjak hari itu terjadi, Asti selalu murung dan suka mengurung diri di kamar. Entah apa yang dia pikirkan, Ahmad tidak tahu. Wajahnya tidak nampak sedih, apalagi senang. Wajahnya… kosong. Asti seperti sedang tidak merasakan apa pun.

Semenjak hari itu, Ahmad tidak pernah sekalipun melewatkan hari tanpa menyalahkan dirinya sendiri. Dia tahu, semua yang sudah terjadi tidak akan dapat dia ulangi, betapa pun kerasnya ia mencoba. Dia ingin dapat merelakan semuanya.

Sampai kemudian, ketika dia sadar, semua sudah terlambat.

Sampai kemudian, tiba-tiba Asti kembali seperti semula. Dia kembali tertawa, kembali ceria, kembali bahagia. Kembali menjadi pelengkap Ahmad yang serius, dengan semua hal remeh yang akan mereka bicarakan tiada habisnya.

Sampai kemudian, Ahmad menyadari ada yang berbeda dengan Asti yang baru.

Sampai kemudian, Ahmad menemukan boneka beruang yang Asti namai Aldi itu.

Ahmad sudah mencoba mengobati Asti ke berbagai dokter, namun hasil yang memuaskan belum dia dapat. Dia tidak mau menyerah. Dia tidak mau kalah.

Ahmad tahu, cintanya pada Asti sempurna. Apa pun yang terjadi, tidak akan mengubah sedikit pun perasaannya. Dia tak pernah peduli dengan perkataan orang-orang di sekitar. Baginya, Asti adalah segalanya. Cintanya. Pelengkapnya. Definisi kebahagiaannya. Batu safirnya.

***

[1] Makanan dari Jawa Tengah sejenis sayur urap.

Advertisements

One thought on “Mendengarkan Suara Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s